Sektor perunggasan tanah air telah mengalami perkembangan yang begitu pesat. Sektor ini telah bertransformasi menjadi industri yang strategis dengan berbagai dukungan teknologi yang canggih dan mutakhir pada semua rantai produksinya. Pada usaha budi daya misalnya, penggunaan kandang closed house (CH) menjadi sebuah standar baru dalam kegiatan pemeliharaan, terutama pada ayam ras pedaging (broiler). Penggunaan kandang CH ini telah terbukti memberikan banyak manfaat bagi kelangsungan usaha para peternak. Hal ini cukup beralasan, karena dengan kemampuan pertumbuhan yang semakin baik, genetik ayam ras modern juga sangat rentan terhadap tingkat stres, sehingga dengan menggunakan kandang tertutup para peternak dimudahkan untuk mengatur berbagai faktor penyebab stres.
Namun demikian, ibarat ungkapan “The Man Behind the Gun” penggunaan kandang CH pun juga harus diimbangi dengan manajemen dan sumber daya manusia yang mumpuni. Hal ini tak lepas dari proses budi daya yang memerlukan manajemen yang baik dan tepat sesuai kondisi real time yang terjadi. Untuk itu, kemampuan pengamatan dari manajer atau operator kandang sangat penting dalam menjaga kenyamanan ternak, sehingga kemampuan dalam menganalisa lingkungan di sekitar ternak dan korelasinya dengan tingkah laku ayam menjadi suatu hal yang vital.
Salah satu titik kritis untuk mencapai performa broiler yang maksimal pada kandang CH adalah dengan melihat seberapa bagus kualitas udara yang ada di dalam kandang tersebut. Hal ini erat kaitannya dengan manajemen ventilasi perkandangan. Dalam sebuah kesempatan, Heri Irawan selaku praktisi broiler dan Co-Founder PT Rumput Ilalang Hijau menjelaskan bahwa pada pemeliharaan broiler di kandang CH, listrik dan air menjadi hal yang sangat penting. Bahkan menurutnya 2 hal ini bisa dikatakan sebagai nyawa dalam pemeliharaan. 
Baca juga : Waspada Hama di Lingkungan Kandang
“Menurut saya, ada 2 hal yang sangat harus dijaga pada pemeliharaan broiler di kandang CH, yakni listrik, berhubungan dengan ventilasi dan kipas. Selanjutnya adalah air. Saya pernah ada kasus, saat pemeliharaan ayam umur 3 minggu, kipas kandang mati sekitar 5 menit, karena token listrik habis dan genset tidak hidup. Mungkin kalau tidak terlalu lama trobelnya, dampaknya tidak terlihat langsung di ayam. Tapi recovery untuk perbaikan performa selanjutnya tentu akan berpengaruh dan sangat sulit dikembalikan, karena ayam sudah stres. Bahkan celakanya kalau trobelnya lama, deplesi akan meningkat tajam,”
Sementara itu, Heri kembali menegaskan bahwa manajemen ventilasi merupakan hal yang sangat vital dan harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan keadaan ayam. Selain itu, dalam manajemen ventilasi, dirinya melihat bawa yang didorong bukan semata kecepatan anginnya saja, namun harus difokuskan pada seberapa cepat pergantian udara (air exchange) yang terjadi. “Dulu banyak orang membangun kandang CH dengan patokan ukuran 120 x 12 m. Nah dengan mindset saat ini, sekarang banyak kandang tidak sepanjang itu, misal panjang 80/70 m dengan lebar tetap 12 m. Hal ini agar pergantian udara lebih cepat. Dan faktanya, banyak kandang saat ini yang pendek tapi hasil performanya bagus. Namun dengan kandang yang pendek, maka manajemen ventilasinya perlu disesuaikan juga,”
Terkait pergantian udara, oksigen merupakan unsur terpenting yang harus dipenuhi dalam proses budi daya. Ketika kebutuhan akan oksigen terpenuhi, maka organ-organ lainnya akan berfungsi sebagaimana mestinya. Sebelum ternak melakukan berbagai aktivitas seperti bergerak, makan, minum, dan lainnya, harus ada rangsangan dari otak sebagai pusat koordinasi dari organ lainnya yang ada di tubuh ayam. Oksigen dibutuhkan oleh otak untuk dapat bekerja dengan baik, sehingga ketika suplai oksigen ke otak ayam sudah terpenuhi, maka otak akan memerintahkan organ lainnya untuk dapat bergerak melakukan berbagai aktivitas seperti makan, minum, tidur, dan lain sebagainya.
Oksigen yang ada di dalam kandang juga harus dipastikan berada di mana ayam itu hidup, yaitu pada sekitar 20-30 cm dari alas kandang. Oleh karenanya, arah udara yang bergerak di dalam kandang harus lah dapat dikontrol semaksimal mungkin agar setiap ekor ayam yang ada di dalam kandang mendapatkan oksigen yang sama antara satu dengan lainnya. Hal itu berlaku baik ayam yang berada di dekat inlet atau di posisi paling depan, di tengah kandang yang dekat dengan pintu masuk tengah, maupun ternak yang berada di paling ujung belakang seperti dekat exhaust fan.
Penurunan kualitas oksigen di dalam kandang bisa terjadi karena berbagai hal seperti tercemarnya udara di kandang akibat adanya unsur lain, atau bisa jadi akibat pergerakan dan pertukaran udara yang kurang baik. Jika pertukaran udara di dalam kandang tidak berjalan dengan baik, maka komposisi udara akan berubah dan menghasilkan banyak sekali zat-zat berbahaya untuk ayam. Konsentrasi karbondioksida, amonia dan gas berbahaya lainnya akan meningkat ke level yang tidak dapat diterima oleh toleransi fisiologis ternak.
Berbeda halnya, apabila sistem ventilasi di dalam kandang berperan untuk memberikan aliran sirkulasi udara, sistem tersebut membawa oksigen yang dibutuhkan untuk menopang kehidupan dan mengeluarkan gas berbahaya, serta bau yang tidak diinginkan. Zat serta bau yang tidak diinginkan tersebut disebabkan oleh pernapasan dan pembusukan limbah. Sistem sirkulasi udara yang baik juga dapat mengurangi konsentrasi organisme penyakit yang ditularkan melalui udara dan menjaga mereka pada tingkat yang dapat ditoleransi untuk kesehatan unggas. Untuk menjaga sirkulasi udara yang baik di dalam kandang, maka perlu menerapkan sistem pergantian udara dengan sistem pergerakan udara melalui sistem negative pressure pada kandang CH atau sistem positive pressure pada kandang open house (OH).
Manajemen ventilasi kandang CH tipe tunnel
Berdasarkan arah sirkulasi udaranya, kandang CH dibedakan menjadi 2 tipe utama yakni tipe tunnel dan cross flow. Untuk di Indonesia, kandang CH yang sering dijumpai adalah kandang dengan tipe tunnel atau terowongan dengan kipas exhauster yang diletakkan di ujung kandang (outlet) dan pada ujung satu lainnya terdapat area untuk masuk udara (inlet). Udara akan masuk melalui inlet, mengalir sepanjang kandang, dan akhirnya keluar melalui kipas outlet. Sederhananya kandang CH tipe tunnel ini akan menarik udara segar dari luar kandang melalui inlet oleh exhaust fan yang berada di ujung kandang.
Jika kipas exhaust menyala, maka volume udara akan ditarik ke dalam kandang dan menukar udara dari luar ke dalam kandang dalam waktu tertentu. Proses ini juga mengakibatkan sebuah efek yang dinamakan wind chill effect akibat dari kecepatan angin yang menerpa ayam. Wind chill effect merupakan suhu dingin yang disebabkan oleh adanya pergerakan udara dalam kandang CH. Efek ini dapat diatur dengan menggunakan kipas atau exhaust fan, dimana semakin tinggi kecepatan angin yang berhembus, maka wind chill effect akan semakin besar, sehingga suhu yang dirasakan ayam akan semakin rendah. Hanya saja kecepatan angin yang mengenai tubuh ayam juga perlu diperhitungkan dan disesuaikan dengan umur, bobot badan ayam dan suhu yang diperlukan oleh ayam. Selain itu, wind chill effect ini juga dapat membantu ayam untuk melepaskan kalor dari tubuh ke lingkungan.
Dalam manajemen ventilasi, temperatur kandang juga harus menjadi perhatian serius. Temperatur yang dirasakan oleh ternak yang disebut juga temperature efektif, tidak bisa berpatokan pada termometer maupun sensor sekalipun. Alat ukur suhu atau termometer hanya sebagai patokan untuk mengetahui suhu yang ada di dalam kandang, sehingga suhu yang sebenarnya dirasakan oleh ayam dapat lebih rendah dari suhu yang terpantau di termometer. “Selain temperatur efektif peternak juga bisa melihat kenyamanan ayam, seperti siang ayam tidak panting, sebaran merata dan tidak menggerombol. Kemudian kalau semua parameter sudah tepat, namun ventilasi belum maksimal, bisa jadi karen kepadatan yang sudah terlalu tinggi dan kipas sudah tidak bisa mengcover kandang sehingga harus ada penjarangan,” tambah Heri.
Masih terkait manajemen ventilasi, Heri mengingatkan bahwa penting bagi peternak untuk mengukur kondisi dan kekuatan kipas serta melakukan pengecekan berkala pada inlet. Kondisi kipas harus diukur, dan disesuaikan dengan ruangan kandangnya. Saat kosong kandang jalankan kipas semua, di depan tengah dan belakang diukur berapa kecepatannya. Kalau semisal masih di bawah target, berarti kemungkinan terdapat kebocoran kandang dan harus diperbaiki.
“Kemudian hal krusial lainnya adalah bagaimana kondisi inletnya. Terkadang ditemui, kondisi kipas bagus tapi problemnya di cooling pad yang sering dilupakan peternak. Karena cooling pad ini jarang sekali dicek dan diremajakan, mungkin ada sumbatan seperti debu atau sumber air kotor yang bisa menjadi penghambat ventilasi tadi. Selanjutnya yang harus dipastikan adalah kapasitas dari kipas. Kadang peternak membeli kipas dari murahnya, tapi tidak memerhatikan kapasitas kipas tersebut,”
Terakhir, Heri kembali mengingatkan bahwa manajemen ventilasi ini bukanlah hal yang baku dan memerlukan berbagai penyesuaian setiap waktunya. Untuk itu diperlukan kepekaan dan ketrampilan dari manajer atau operator kandang yang bertugas. “Kesalahan yang paling sering terjadi pada manajemen ventilasi adalah kurang peka dan terlambat penyesuaian manajemen ventilasi. Biasanya kita mengecek dan mengatur ventilasi setiap 2 jam. Kalau kandang tidak sering diamati, maka akan jadi masalah juga. Jadi memang perlu banyak percobaan dalam manajemen ventilasi ini,” tegasnya.
Artikel ini merupakan rubrik Tata Laksana pada majalah Poultry Indonesia edisi November 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi November 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com