POULTRYINDONESIA, Kediri – Emisi gas ternyata tidak hanya berasal dari kendaraan bermotor, sektor pertanian yang termasuk didalamnya adalah peternakan unggas ternyata menyumbang 18,4% dalam pemanasan global. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi untuk menurunkan emisi gas dalam budidaya unggas, sehingga tetap ramah lingkungan.
Hal ini seperti disampaikan oleh Bayu Sesarahardian dari PT. Sinta Prima Feedmill dalam Seminar Nasional Cendekia Peternakan (SENACENTER) yang diadakan oleh Prodi Peternakan, Fakultas Pertanian, Uniska Kediri, yang berlangsung secara online via Zoom pada Kamis (10/2).
Baca juga : Ditpakan Gelar Webinar Nasional untuk Kembangkan Koro Pedang dan Maggot
Menurut Bayu ada dua strategi penting untuk menurunkan emisi gas pada budidaya unggas, pertama adalah dengan cara penyeimbangan nutrisi di dalam pakan seperti dengan low – protein diet dengan suplementasi asam amino.
“Dengan demikian akan terjadi keseimbangan komposisi asam amino tercerna dalam pakan, sehingga penggunaan asam amino sintetik menjadi optimal yang berakibat pada peningkatan nutrisi yang tersedia untuk diserap dan dimanfaatkan oleh unggas, sehingga menurunkan emisi nitrogen di ekskreta dan amonia di udara,” tegasnya.
Menurutnya, penyeimbangan nutrisi dalam pakan juga bisa dilakukan dengan memaksimalkan sulfur dalam pakan. Sebab, level sulfur yang tinggi di dalam tubuh ayam akan meningkatkan ketersediaan prekursor dan formasi pembentukan gas baru seperti hidrogen sulfida, metil merkaptan, dimetil sulfida dan dimetil trisulfida.
Strategi kedua adalah dengan memodifikasi nutrisi dengan cara penambahan aditif pakan seperti enzim protease dan ekstrak herbal dan memodifikasi pakan seperti dengan memperkasar partikel pakan.
“Enzim protease mampu meningkatkan kecernaan protein,sehingga pemanfaatan bahan baku menjadi optimal,sedang ekstrak herbal yang populer digunakan adalah ekstrak yucca dan quillaya yang kaya akan saponin, zat fenol dan antioksidan, yang mampu mengikat senyawa yang menyebabkan bau dalam kandang,” pungkasnya.