Serangan koksidiosis baik klinikal maupun sub klinikal tentu banyak sekali merugikan peternak di lapangan. Bahkan berdasarkan data yang ada, di dunia secara global, kerugian yang ditimbulkan akibat koksidiosis mencapai hampir 13 milyar juta USD per tahun. Begitu juga dengan penanganan yang ditimbulkan baik pengobatan maupun pemberian antikoksi lewat pakan yang memakan biaya hampir 400 juta USD. Angka ini merupakan angka yang cukup fantastis dimana penyakit ini merupakan penyakit yang seringkali menyerang peternak di lapangan.
Berawal dari hal tersebut, Phibro Animal Health Corporation mengadakan acara seminar teknis secara daring melalui aplikasi zoom dengan tema Phibro Technical Webinar, Selasa, (14/9). Acara tersebut terselenggara untuk merespon keresahan para peternak akibat tingginya kasus koksidiosis. “Hubungan serangan koksidiosis dengan iklim tropis yang memiliki karakter kelembapan dan curah hujan tinggi, membutuhkan manajemen pemeliharaan yang tepat didukung dengan asupan pakan yang spesifik dibahas secara tuntas dalam webinar ini,” ungkap Arik Fazeli, DVM selaku Country Director Phibro Animal Health Indonesia.
Strategi manajemen pakan yang optimal
Strategi dalam menghadapi tantangan tingginya kasus koksidiosis di lapangan, akan dibawakan oleh pemateri yang sudah memiliki pengalaman dalam penanganan koksidiosis.
Para pemateri tersebut diantaranya adalah Intan Nursiam selaku formulator dan Nutrisionis Pakan dari PT Farmsco Feed Indonesia, drh. Toni Unanadar selaku Private Poultry Consultant, dan drh. Setia Hadi selaku Technical Sales Manager Phibro Animal Health Corporation.
Menurut Intan Nursiam dalam materinya yang berjudul ‘Strategy to Optimalization of Broiler Feed in High Challenge Seasosns’ menjelaskan bahwa untuk mengatasi tingginya tantangan penyakit di lapangan, memang perlu adanya upaya khusus yang harus diselaraskan antara pabrik pakan dengan konsumen yaitu peternak. Hal tersebut mengingat kondisi iklim di Indonesia yang beragam antara satu daerah dengan daerah yang lainnya, sehingga perlu penyesuaian antara satu daerah dengan yang lain. “Di Indonesia konsep bisnis one size fit for all kurang tepat jika diimplementasikan ke dalam bisnis perunggasan. Sehingga butuh beberapa penyesuaian tertentu untuk beberapa produk khusus untuk daerah tertentu untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal,” jelas Intan. Untuk menjaga kesehatan sekaligus performa dari ternak yang dibudidayakan, maka perlu adanya upaya khusus dalam pemenuhan nutrisi. Ketika ternak sudah terpenuhi dari segi nutrisi, maka kesehatan akan terjaga, dan produksi bisa optimal. Salah satu cara untuk menjaga kebutuhan nutrisi untuk ayam broiler modern di iklim torpis adalah dengan cara mengoptimalkan penggunaan bahan baku dalam pakan,
manajemen kebutuhan nutrisi dengan cara pemberian yang presisi, optimal dan seimbang. “Selain itu untuk memaksimalkan produksi ayam ras pedaging juga harus menjaga ternak dari stres berlebih akibat suhu yang terlalu panas, karena bisa menurunkan produksi sekaligus menjadi gerbang bagi penyakit untuk masuk,” ucap Intan.
Dalam acara yang sama drh. Tony Unandar menerangkan dalam materinya yang berjudul ‘New Perspective of Nicarbazine’ bahwa Kejadian koksidia di lapangan tidak semata-mata bergantung pada kekuatan antikoksi yang dipakai, namun faktor lain yang sangat memengaruhi kejadian di lapangan adalah aspek manajemen dan tata laksana ayam di lapangan.
Selanjutnya menurut Tony, dalam menangani kasus koksidia di lapangan, perlu adanya pemahaman terlebih dahulu bagaimana siklus hidup dari koksidia agar para pelaku lapangan bisa merancang strategi yang akan digunakan untuk menekan kasus koksidiosis di lapangan. “Selama masa hidupnya, Eimeria sp memiliki 2 tahap perkembangan yaitu tahap eksogenous (di luar tubuh) dan endogenous (di dalam tubuh). Mula-mula ayam terinfeksi mengeluarkan Ookista ke lingkungan bersama feses dan akan bersporulasi menjadi infektif dalam waktu beberapa jam saja hingga berminggu- minggu tergantung kondisi lingkungan,” ujar Tony.
Antikoksi dalam pakan
Untuk menganggulangi kejadian koksidiosis di lapangan, perlu adanya penambahan antikoksi dalam pakan. Masih menurut Tony, senyawa yang paling populer dan sering digunakan untuk antikoksi adalah senyawa nicarbazin. “Sejak ditemukannya senyawa antikoksi dalam bentuk chemical pada sekitar tahun 1930, industri broiler di Amerika Serikat sangat bergantung pada antikoksi jenis chemical, dan untuk senyawa yang paling populer digunakan adalah nicarbazin. Lalu pada tahun 1970 ketika ditemukannya antikoksi jenis ionophore dan vaksin marek dari HVT, terjadi lonjakan produksi untuk broiler di dunia,” ungkap Tony.
Seiring dengan berjalannya waktu, Tony menjelaskan bahwa tidak ada lagi penemuan terbaru untuk antikoksi di lapangan, ia menambahkan bahwa penemuan terakhir antikoksi berupa ionophore adalah semduramicin pada tahun 1994. Maka dari itu, untuk menekan kasus koksidiosis di lapangan, para perusahaan menggunakan pendekatan tertentu dalam penggunaan antikoksi. “Salah satunya yaitu melakukan kombinasi nicarbazin dan ionophore dengan tujuan untuk memperkuat daya bunuh terhadap koksidia dan juga untuk mengevaluasi respon imunitas ayam dengan adanya nicarbazin,” papar Tony.
Lebih lanjut dalam pemaparan Tony, senyawa nicarbazin dalam bentuk utamanya (parent compund) memiliki sifat antikoksi yang bisa membunuh koksi di dalam lumen usus ayam. Akan tetapi, ketika senyawa tersebut sudah diserap dalam proses metabolisme di dalam usus, nicarbazin dalam bentuk metabolik masih memiliki kemampuan antikoksi. “Hal inilah yang membedakan antara nicarbazin dengan senyawa lainnya dalam kemampuannya sebagai antikoksi. Ketika dalam bentuk metabolik, senyawa ini mampu membunuh segala hantaran dalam bentuk fase schizogoni.”
Menekan kejadian antikoksi dengan bahan yang tepat
Masih dalam acara yang sama, sesi pemaparan dilanjutkan oleh drh. Setia Hadi dengan materi yang berjudul ‘Phi – Quest : Nicarbazin Strip Test’ yang berfokus pada bagaimana cara untuk menjaga ternak dari serangan koksidia akibat serangan protozoa genus Eimeria. Setiap serangan spesies dari genus Eimeria semisal E. Tenella, E. Maxima, dan E. Acervulina dibedakan dari organ yang diserang, dan kesemuanya sangat mengganggu proses penyerapan pakan yang dikonsumsi oleh ternak. “Maka untuk menanggulangi hal tersebut, Phibro memiliki beberapa lini produk yang terbukti ampuh dalam menanggulangi koksidiosis. Diantaranya adalah Nicarmix®25 dengan kandungan nicarbazin yang mampu merangsang respon imun ayam, dan Phibro juga memiliki produk antikoksi yang lain berupa ionophore dengan kandungan semduramicin lewat produk Aviax®5%,” ucap Setia.










