POULTRYINDONESIA, Jakarta – Vaksinasi merupakan sah satu solusi bagi peternak untuk meningkatkan produktivitas pada unggas. Untuk itu, dibutuhkan beberapa pengetahuan dan ilmu dasar untuk melakukan kegiatan vaksinasi. Berangkat dari hal tersebut, Poultry Indonesia mengadakan seminar virtual bertajuk Poultry TechniClass (PTC) Series 09 melalui Zoom Meeting dengan mengusung tema “Optimalisasi Program Vaksinasi Broiler”, Kamis (24/11).
Private Poultry Farm Consultant, Tony Unandar, mengatakan bahwa laporan penyakit tiap tahun yang sering terjadi dilapangan merupakan penyakitnya berulang baik pada layer, broiler, maupun breeder. Sedangkan beberapa bahan penunjang pada pencegahan penyakit sudah terus berkembang seperti jenis vaksin yang bervariasi, biosekuriti yang semakin baik serta teknologi yang terus berkembang.
“Konsep pertama yang kita harus paham adalah kenapa ada penyakit itu di lapangan. Beberapa saat setelah kita tebar DOC di kandang, hal tersebut sudah mengalami stadium susceptible yang tinggi terhadap agen penyebab penyakit. Dari penelitian, ada 3 kelompok penyakit yang mengancam ayam kita pasca tebar, yaitu airborne patogen (melalui udara), endemic patogen, dan patogen yang bisa di transmisi secara vertikal (vertically transmitted diseases),” ungkap tony.
Menurut Tony, broiler modern telah mengalami kemajuan perkembangan genetik yang sangat ketat, ayam mampu tumbuh lebih cepat, sehingga rentan terhadap stres. Pada broiler modern, lebih dari 80% program vaksinasi dilakukan di hatchery. Tujuannya adalah untuk memberikan perlindungan dini dan menghindari stres akibat vaksinasi di farm.
“Respon tercepat pada vaksinasi di hatchery secara signifikan akan terjadi di hari ke-4.  Ini artinya hari pertama sampai hari ke-4 adalah masa kritis penyebaran patogen. Bisa berasal dari endemic pathogen maupun vertical pathogen. Hal inilah yang menjadi alasan kenapa laporan kasus penyakitnya tetap sama,” terangnya.
Baca Juga: Peduli Bencana Gempa Cianjur, CPI Salurkan Bantuan Kemanusiaan
Sementara itu, drh Titis Wahyudianto Technical Service Manager Poultry West Area. PT. Boehringer Ingelheim Indonesia menjelaskan bahwa untuk mendapatkan respon vaksinasi yang optimal, maka harus diperhatikan kondisi organ penghasil zat kebal (bursa fabricius) ayam.
“Kondisi bursa fabricius harus relatif utuh, sehingga kita juga harus memerhatikan kesehatan dari bursa fabricius. Namun demikian, vaksinasi bukanlah satu-satunya alat untuk melindungi ternak dari penyakit. Untuk itu jangan lupa bahwa manajemen yang tepat menjadi sangat penting, terutama terkait biosekuriti. Kemudian, pakan yang baik buat ayam juga harus diperhatikan, karena respon bursa fabricius juga sangat tergantung dari pakan,” tambahnya.
Dalam materinya, Titis juga memperkenalkan alternatif solusi produk yang dapat bekerja saat materna antibodi melemah dan menggertak kekebalan adaptif terhadap IBD. Selain itu, dirinya juga menyampaikan produk yang mampu memberikan proteksi jangka panjang dan luas yakni dari marek dan gumboro.
Masih dalam acara yang sama, drh. Hari Wahyudi selaku Technical Service Manager Poultry East Area. PT. Boehringer Ingelheim Indonesia membawakan materi tentang “Vaccination Technologies & Service”.  Senada dengan materi sebelumnya, Vaccination Technologies & Service (VTS) ini merupakan media support yang dapat digunakan sebagai tools vaksinasi pada peternak.
“VTS merupakan alat-alat vaksinasi yang dapat digunakan di hatchery maupun farm, serta dapat digunakan pada layer, broiler dan breeder. secara garis besar memang kita fokusnya ada di hatchery, sehingga kontribusinya hampir 70%. VTS sudah digunakan 1112 hatchery di seluruh dunia. Mungkin, sekarang sudah lebih banyak lagi hatchery maupun farm yang memakainya,” ungkapnya.
Selain itu, tim VTS dari Boehringer juga telah menyediakan paket lengkap layanan untuk pelanggan, meliputi pengadaan alat dan suku cadang, evaluasi fasilitas peralatan, pengiriman dan pemasangan. Selain itu juga akan diberikan pelatihan personil hatchery dan farm dan Layanan kunjungan secara reguler yang meliputi audit dan pemeliharaan alat-alat yang preventif.