Materi Prof. Dr. Ir. Budi Tangendjaja, M.Sc, M.Appl dalam webinar “Strategies to Costs Reduction and Performance Increasement During Ramadan in Global Muslim Countries”.
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Shandong Longchang Animal Health Product Co., Ltd menyelenggarakan webinar eksklusif dengan topik “Strategies to Costs Reduction and Performance Increasement During Ramadan in Global Muslim Countries”, yang menyoroti berbagai topik industri yang berkaitan dengan pakan unggas di China serta negara lain, secara virtual via aplikasi Zoom Meeting, Kamis (28/4).
Dr. Maizar Mohti selaku Associate Professor of Poultry Nutrition, Universitas Guitan, Iran, memaparkan mengenai potensi substansi emulsi eksogenus terhadap peningkatkan efisiensi pakan unggas di Iran. Mohti mengatakan bahwa dengan adanya prediksi peningkatan produksi daging ayam sebanyak 24 juta ton antara tahun 2014 hingga 2024, maka para pelaku industri perunggasan harus menyiapkan nutrisi yang baik bagi ternaknya.
“Ayam modern membutuhkan energi lebih, sehingga menyiapkan perlu bagi kita semua unyuk menyiapkan pakan dengan nutrisi yang baik. Penyerapan menjadi salah satu masalah utama dalam nutrisi ayam yang banyak peneliti coba atasi. Itulah mengapa potensi penggunaan pengemulsi eksogenus dalam pakan unggas mendapatkan perhatian yang signifikan sebagai cara untuk meningkatkan penyerapan lemak, terutama oleh ayam muda,” jelasnya.
Penyerapan lemak pada ayam muda terbatas karena tidak larut dalam air dan trigliserida terlalu besar untuk diserap, sehingga ditemukan solusi seperti penggunaan emulsi dan pencampuran trigliserida dengan asam empedu dan sekresi pankreas. Pengemulsi eksogenus digunakan pada pakan unggas untuk meningkatkan performa pertumbuhan, meningkatkan kecernaan nutrisi, terutama lemak, serta meningkatkan efisiensi pakan. Sehingga, pengemulsi berperan penting dalam ekonomi industri perunggasan dengan cara meningkatkan efisiensi pencernaan.
Dari Indonesia, Prof. Dr. Ir. Budi Tangendjaja, M.Sc, M.Appl, selaku Technical Consultant perunggasan, menjelaskan strategi untuk mengurangi biaya pakan pada broiler dari segi penggunaan bahan baku pakan, mikotoksin, situasi industri perunggasan sendiri di Indonesia, serta meningkatkan performa di tengah naiknya harga pakan, terutama untuk penyerapan lemak di ayam muda.
Baca juga : Kondisi Industri Pakan di Berbagai Negara
Menurutnya, harga bahan baku pakan, di bagian dunia mana pun, akan bergantung pada suplai dan permintaan. Harga bahan baku penting, seperti jagung, telah meroket sejak awal Maret. Ditambah dengan situasi perang Russia dan Ukraina, harga jagung makin melambung tinggi karena Ukraina merupakan salah satu produsen jagung terbesar. Tak hanya jagung, Budi mengatakan bahwa harga minyak kedelai juga turut meningkat.
“Tiga nutrien penting yang harus ada pada pakan untuk performa yang baik adalah metabolizable energy (ME), asam amino, dan fosfor. Ketiga nutrien ini datang dari ingredients, sehingga harus diperhatikan ingredientsnya jika mau menekan biaya produksi. Energi merupakan nutrien termahal pada pakan, dan untuk mencapai kebutuhan energi pada broiler, maka lemak harus ditambah,” jelas Budi.
Budi mengatakan bahwa penambahan lemak pada pakan memiliki beberapa kegunaan karena penting untuk diet tinggi energi, meningkatkan palatabilitas pakan, mengurangi debu pada feed mills, dan berperan sebagai lubrikan dalam penggilingan pakan. Namun, lemak tidak mudah dicerna oleh broiler muda, sehingga dibutuhkan pengemulsi, seperti lysolecithin dan asam empedu (bile acids), untuk membantu broiler mencerna trigliserida.
“Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan feed additive adalah efikasi, kemampuannya untuk meningkatkan efisiensi, analisa risiko penggunaan, dan economical return. Penggunaan feed additive harus beriringan dengan penekanan biaya produksi, sehingga anda seharusnya bisa mendapatkan untung lebih jika sudah memberikan feed additive,” terangnya.
Dari negara tetangga, Malaysia, Prof. Dato’ Dr. Zulkifli Idrus, selaku Professir (VKS) Department of Animal Science, Faculty of Agriculture, Universiti Putra Malaysia, membawakan materinya mengenai presisi nutrisi pada broiler dalam kondisi lingkungan yang berbeda di Malaysia. Malaysia merupakan salah satu negara dengan konsumsi daging ayam tertinggi per kapita.
“Malaysia sudah dapat memproduksi daging ayam dalam negeri sendiri sebanyak 98.2 persen. Akan tetapi, pakan unggas, yang terdiri atas jagung dan kedelai, 100 persennya masih mengandalkan impor. Malaysia masih dependent terhadap impor jagung dan soybean meal. Sehingga, industri perunggasan Malaysia sangat rentan,” jelasnya.
Dalam kondisi ini, dimana biaya pakan menutupi hampir 70 hingga 75 pesen dari total biaya produksi, maka nutrisi yang presisi merupakan hal penting, baik bagi produsen maupun suplier nutrisi. Menurut Idrus, nutrisi dapat dikatakan presisi saat pakan telah memenuhi kebutuhan ternak dalam kondisi apapun tanpa terjadinya ketidakseimbangan nutrisi, seperti kekurangan maupun kelebihan energi pakan atau nutrien.
Baca juga : Tantangan dalam Pengembangan Bisnis Perunggasan
“Saat berbicara mengenai nutrisi presisi, maka sistem pencernaan harus diperhatikan karena sangat sensitif dan responsif terhadap stres. Sehingga, beberapa faktor harus diperhatikan untuk mencapai presisi nutrisi, seperti respon fisiologis dan imunologi, gangguan pada pencernaan dan inflamasi, dan mikrobiota,” jelasnya.
Prof. Dr. Khaled Nasr, selaku Professor and Head of Nutrition and Clinical Nutrition Department, Faculty of Veterinary Medicine, Cairo University, menjelaskan mengenai cara untuk meningkatkan nutrien pada pakan unggas, utamanya penggunaan energi, pada peternakan di Mesir.
“Di Mesir, kami memiliki peternakan dengan berbagai sistem kandang, seperti kandang tertutup, semi-tertutup, dan terbuka. Nutrisi merepresentasikan lebih dari 75 hingga 80 persen biaya pakan unggas. Sehingga, penting untuk meningkatkan utilisasi nutrien, untuk menghindari challenge di lapangan, seperti heatstress dan penyakit,” jelasnya.
Dalam paparannya, Nasr menjelaskan beberapa hasil penelitian dalam meningkatkan performa broiler, salah satunya bile acid. Dalam salah satu penelitian yang dilakukan, penambahan suplemen berupa bile acid terbukti dapat meningkatkan bobot broiler, Body Weight Gain (BWG), Feed Conversion Ratio (FCR), dan European Production Efficiency Factor (EPEF).
Mr. Wang Jianmin, selaku Senior Nutrition, memaparkan materinya mengenai aplikasi dan penelitian dari asam empedu atau bile acid dalam mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi pakan unggas di Cina. Menurutnya, memperkuat manajemen pakan akan meningkatkan keuntungan, salah satunya memperkuat manajemen bio-safety guna menghindari kerugian akibat penyakit karena dapat berpengaruh pada performa produksi (pertumbuhan, FCR, dan kualitas telur).
Strategi lain yang dilakukan adalah dengan meningkatkan utilisasi minyak dan mengurangi jumlah suplementasinya. Mengurangi jumlah suplementasi minyak akan berimbas pada pengurangan total energi dan total fatty acid pada pakan, meningkatkan feed intake dan feed-meat ratio, serta tidak menimbulkan kerugian pada biaya produksi keseluruhan.
Jianmin kemudian melanjutkan pemaparannya mengenai beberapa penelitian yang dilakukan untuk meningkatkan performa, salah satunya penambahan bile acid pada pakan broiler. Pada penelitian ini terbukti bahwa penambahan bile acid dapat secara signifikan menambah penyerapan vitamin larut lemak yang mana utilisasi vitamin A dan D meningkat sebanyak 15 hingga 20 persen, sedangkan vitamin E dan K meningkat sebanyak 10 hingga 15%.