Oleh:
Tony Unandar (Private Poultry Farm Consultant – Jakarta)
Tantangan Oxidative Stress (OS) alias stres oksidatif pada peternakan ayam modern ibarat bara api dalam sekam. Senyap dalam perjalanan peningkatan derajat keparahan, namun signifikan pada efek yang ditimbulkannya. Manifestasinya tidak hanya berdampak pada performans akhir yang sub-optimal tetapi juga progres peningkatan total deplesi ayam yang pelan namun kontinyu. Tulisan singkat ini mencoba menelaahnya tidak hanya dari pelbagai pendekatan argumentasi ilmiah yang sudah dipublikasi, tetapi juga disertai pengalaman lapang penulis dalam mengamati bentuk serta akibat OS pada ayam modern.
Ayam Modern dan Stres Oksidatif
Pada tataran biomolekul tubuh, reaksi reduksi dan oksidasi (reaksi redoks) merupakan bagian krusial proses kimiawi biologi tubuh, baik dalam proses biologis normal maupun tidak (Jones, 2006). Sebagai contoh, reactive oxygen metabolites (ROM) atau reactive oxygen species (ROS) yang sering juga disebut radikal bebas (free radicals) alias pro-oxidants; senantiasa dihasilkan secara konstan sebagai produk samping (by products) yang melibatkan reaksi redoks dari reaksi respirasi atau reaksi sitokrom di tingkat mitokondria sel (Aw, 1999). ROM atau ROS juga dihasilkan secara periodik selama repon peradangan (inflammatory response), sintesa asam amino yang mengandung sulfur (sulfuric amino acid), pembentukan membran fosfolipid sel dan sintesa asam nukleat inti sel (Haddad, 2004; Chandra et al., 2000; Poole dan Nelson, 2008). Jadi tegasnya, radikal bebas selalu dihasilkan selama proses metabolisme normal sel dan respon kekebalan non spesifik alias innate immunity (Ojano-Dirian et al., 2007; Kurutas, 2016).
Ayam modern yang mempunyai potensi genetik dengan produktifitas yang prima tidak saja menghadapi beragamnya intensitas dan jenis faktor-faktor lingkungan yang menerpanya, tetapi juga tantangan aktifitas patogen dan pelbagai perlakuan yang dialami sepanjang hidupnya. Faktor-faktor seperti itu tentu saja merupakan regangan tersendiri bagi fungsi-fungsi normal biologis ayam dan dapat mengamplifikasi terbentuknya ROS atau ROM yang ujung-ujungnya dapat mempengaruhi total performa akhir pemeliharaan (Estévez, 2015; Nawaz dan Zhang, 2021).
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2024. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Agustus 2024, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754 atau sirkulasipoultry@gmail.com










