Stres akibat panas menjadi salah satu penyebab turunnya kondisi kesehatan ayam (sumber : urban-farmer.co.za)
Oleh: drh. Esti Dhamayanti*
Hampir dalam setiap artikel kesehatan, stres selalu terdapat di dalam daftar faktor pendukung terjadinya penyakit. Lalu, apa sebenarnya stres itu? Menurut terminologi yang diungkapkan oleh Selye (1936), stres didefinisikan sebagai respon pertahanan hewan dan stressor merupakan situasi yang dapat merangsang respon pertahanan tersebut. Terdapat berbagai macam bentuk stressor, mulai dari yang berbentuk fisik, kimia, fisiologis, maupun patologis. Stressor inilah yang dapat mengganggu keseimbangan (homeostasis) dari tubuh hewan tersebut.

Stres internal maupun eksternal menjadi faktor pendukung terhadap munculnya gangguan kesehatan pada ayam. Memproteksi ayam dari stres eksternal akibat pengaruh dari pemanasan global seharusnya menjadi hal wajib bagi peternak.

Kesanggupan individu hewan dalam menghadapi stres tergantung oleh tingkat stres dan kemampuan fisologis dari hewan itu sendiri. Seleksi genetik selama berpuluh tahun lamanya yang menyebabkan adanya akselerasi dari pertumbuhan ayam. Jika dulu ayam komersil dipanen pada umur 42 hari, kini dapat dipanen hanya dalam kurun waktu kurang dari satu bulan. Hal tersebut tidak selalu memberikan dampak positif, tetapi berdampak pula pada tingkat kerentanannya terhadap stres yang menjadi lebih tinggi. Kerentanan tersebut juga diungkapkan oleh Tony Unandar selaku Private Poultry Farm Consultant dalam paparan seminar yang berjudul ‘Manajemen Kesehatan Unggas Modern di Era Bebas AGP’, yang berlokasi di Jakarta, Jum’at (20/12). Tony mengatakan bahwa terdapat tiga hal dinamis yang memiliki pengaruh terhadap kesehatan ayam yaitu perbaikan genetik, pemanasan global, dan mutasi dari patogen.
Menanggapi cepatnya pertumbuhan ayam, Tony menyebutkan bahwa broiler yang diprediksi oleh para ahli pada tahun 2020, ayam berumur 28 hari dapat mencapai bobot 2,0-2,2 kg dengan feed conversion ratio (FCR) 1,48-1,55. Pertumbuhan yang luar biasa ini disebabkan oleh suatu gen yang bertanggung jawab atas kecepatan metabolisme dari broiler, “Cepatnya pertumbuhan broiler mengakibatkan suatu kondisi stres yang berasal dari internal, atau yang disebut intrinsic stress factor,” jelasnya. Kondisi stres internal ini disebabkan oleh cepatnya metabolisme tinggi pada ayam mengakibatkan tingginya kebutuhan oksigen dan energi panas akan dihasilkan lebih banyak.
Tidak hanya stres yang berasal dari internal saja, saat ini ayam harus menghadapi stres yang berasal dari eksternal. Pemanasan global menjadi isu yang hangat saat ini dan disebut menjadi ‘urgent threat’ di dunia. Terlihat dari banyaknya heat record yang tercatat di setiap tahunnya pada musim panas di berbagai negara. Menurut National Aeronautics and Space Administration (NASA), suhu global pada tahun 2018 meningkat 1,5°F (0,83°C) daripada tahun 1951-1980. Perubahan musim yang semakin tidak terprediksi juga terjadi akibat fenomena pemanasan global. Sepintas memang peningkatan suhu ini terlihat kecil, namun besar pengaruhnya terhadap tubuh ayam yang semakin ringkih, sehingga banyak terjadi kegagalan panen.
Penelitian terhadap stres pada ayam banyak dilakukan karena pengaruhnya terhadap ekonomi bagi peternak maupun kesehatan ayam itu sendiri. Banyak penelitian yang mengaitkan penurunan performa ayam dengan stres, misalnya penurunan bobot badan, reproduksi, dan konversi pakan.  Artikel ini akan lebih membahas pengaruh stres eksternal akibat lingkungan (panas) terhadap ayam.
Pengaruh stres dan mekanismenya
Ayam yang mengalami stres memperlihatkan ciri-ciri umum seperti terlihat gelisah, banyak minum, nafsu makan berkurang, mengepak-epakan sayap di lantai kandang, bahkan dapat mendorong perilaku kanibalisme. Heat stress umum terjadi di Indonesia sebagai negara beriklim tropis yang terletak di garis khatulistiwa. Menurut Tamzil et al. (2013) gejala yang timbul akibat heat stress yaitu painting yang frekuensinya berbanding lurus dengan tingkat stres, suhu rektal yang meningkat, diikuti oleh peningkatan hormon kortikosteron, dan ekspresi heat shock protein (HSP) 70.
Baca Juga: Cegah Heat stress dengan Manajemen Sirkulasi Udara
Mekanisme perubahan fisiologis dalam tubuh hewan menanggapi stres ditandai dengan diaktifkannya sistem neurogenik yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah, otot, sensitivitas syaraf, gula darah, dan respirasi.  Tubuh akan mengaktifkan hypothalamic-pirtuary-adrenal cortical system jika gagal untuk mengatasi stress. Sistem ini akan menghasilkan corticotrophin-releasing factor (CRF) dari hipotalamus yang akan merangsang hipofise untuk melepaskan adenocorticotropic hormone (ACTH). Sekresi dari ACTH ini akan menggretak korteks adrenal untuk mengeluarkan kortikosteroid (Tamzil 2014).
Virden dan Kid (2009) menyebutkan kortikosteron sebagai hormon kortikosteroid utama pada unggas turut berperan dalam menurunkan imunitas dan jaringan limfoid. Pada beberapa penelitian yang dilakukan, injeksi glukokortikoid atau kortikosteron dapat memberikan efek yang signifikan terhadap organ dalam sistem pertahanan tubuh ayam (limfa, timus, dan bursa fabricius) baik dari segi bobot, ukuran, dan sel-selnya jika dilihat secara mikroskopis (Dohms dan Mets 1991). Penelitian lain menyebutkan bahwa penurunan imunitas ditujukan dengan peningkatan heterofil-limfosit dalam darah (Davis et al. 2008; Tamzil et al. 2014)
Kortikosteroid yang meningkat dalam darah juga dapat menurunkan kalsifikasi pada tulang, sehingga menginduksi terjadinya osteoporosis. Pada kondisi stres akut dan kronis neurogenic amine dan kortikosteroid dapat menekan pertumbuhan tulang dari ayam, menurunkan berat badan, dan menurunkan kemampuan reproduksi. Pengaruh stres panas pada pertambahan bobot badan (PBB), konsumsi pakan, dan efesiensi pakan broiler terdapat pada Tabel 1.
Tabel 1. Pengaruh stres panas pada pertambahan bobot badan, konsumsi pakan, dan efesiensi pakan broiler dan layer
Suhu
Peubah
PBB (g)
Konsumsi Pakan (g)
Efesiensi Pakan (%)
Broiler
 
 
 
21
61,45
169,9
25
52,13±6,88
71,08±3,70
73,26±7,96
34
22,9
93,61
Layer
 
 
 
25
8,75±0,93
22,30±2,36
39,65±6,03
34
4,25±0,71
14,68±3,44
29,78±5,00
Sumber: Lu et al. (2007); Mujahid et al. (2005) dalam Tamzil (2014)
Berdasarkan Tabel 1, dapat dilihat bahwa suhu tinggi dapat berpengaruh negatif ketiga faktor tersebut. Dilihat dari suhu tubuh unggas normal yang berada pada rataan 40,5-41,5 °C, maka sebaiknya pemeliharaan baik layer maupun broiler diatur sedemikian rupa sesuai dengan umur dari ayam. Ada beberapa pendapat yang menyatakan kondisi ideal untuk ayam. Borges et al. (2004) menyatakan bahwa ayam tiga minggu sebaiknya dipelihara pada suhu antara 20-25 °C dengan kelembapan 50-70%, sementara Czarick dan Fairchild (2008) berpendapat bahwa broiler dewasa harus dipelihara pada suhu 26-27 °C, sementara ayam petelur pada suhu 18-23,9 °C.
Perubahan hormon lainnya yang terjadi akibat stres khususnya pada peningkatan suhu tubuh yaitu tiroksin (T4) dan adrenalin. Tiroksin merupakan hormon yang berperan dalam metabolisme tubuh dan mengendalikan pertumbuhan hewan secara keseluruhan. Defisit dari tiroksin dalam tubuh akibat stres ini tentu dapat berpengaruh pada menurunnya pertumbuhan hewan. Fungsi lain dari kedua hormon ini juga berfungsi sebagai regulator panas dalam tubuh hewan.*Wartawan Poultry Indonesia
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Februari 2020 ini dilanjutkan pada judul “Upaya Meminimalkan Stres”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153