Baginya menjadi seorang peternak itu mempunyai dua tanggung jawab, yaitu tanggung jawab individual dan tanggungjawab sosial.
Siapa sangka dulu hingga kini semangatnya masih sama, masih semangat anak muda yang membara. Terus semangat untuk bisa bermanfaat untuk sesama. Sebagai seorang manusia, ia selalu mencoba untuk menjadi manusia yang bisa bermanfaat untuk orang banyak, baginya memperjuangkan kesejahteraan untuk sesama menjadi salah satu kewajibannya.
Sugeng Wahyudi, seorang peternak mandiri di wilayah Bogor, Jawa Barat. Laki-laki yang berperawakan tinggi ini ternyata dulunya sempat pernah bercita-cita menjadi seorang insinyur, hingga tentara. Gagal menjadi tentara, ternyata ia berjodoh dengan seorang anak tentara. Dan yang benar saja, cita-citanya menjadi seorang insinyur, terwujud dengan gelar insinyur peternakan, yang saat ini disebut sarjana peternakan.
Perjalanan Pendidikan hingga Karir
Sebelum ia menginjakkan tanah Sunda, ternyata ia pernah hidup dan besar di Yogyakarta. Ia tinggal di Wonosari, Yogyakarta selama Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kemudian tahun 1990 ia melanjutkan kuliah D3 di Akademi Peternakan Brahmaputra Yogyakarta, lalu melanjutkan S1 di Universitas Wangsa Manggala, yang sekarang berubah menjadi Universitas Mercu Buana Yogyakarta.
Setelah lulus sarjana, awalnya ia tertarik di peternakan sapi, hingga waktu itu ia ternyata pernah bekerja di salah satu perusahaan sapi, ia bekerja di PT Kariyana Gita Utama, salah satu perusahaan feedlot sapi ternama saat itu. “Saya tertarik ke sapi waktu itu karena di samping profil perusahaan tersebut adalah perusahaan berdikari, tapi juga karena perusahaan itu juga merupakan terbesar di Asia Tenggara,” ungkap ayah dari dua anak ini.
Dalam perjalanannya, karena seringnya interaksi dengan banyak orang, dengan banyak komunitas, juga dengan pabrik pakan dan pabrik obat-obatan, pengetahuannya tentang peternakan ayam menjadi bertambah sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya ia mempertimbangkan untuk bekerja di perusahaan pembibitan ayam, yaitu PT Hibrida Indonesia Putra.
Berangkat dari situlah kemudian ia ingin mencoba berbudidaya final stock, yang di mana kala itu sudah banyak teman-temannya yang memulai beternak lebih dulu. “Dulu senior-senior saya sudah mulai duluan. Akhirnya dari Sukabumi saya ke Bogor. Di samping memulai usaha beternak ini, saya juga ingin membantu teman-teman. Nah dari situlah saya mulai berkiprah di peternakan rakyat. Kemudian karena interaksi kami cukup intens dengan para peternak kecil, akhirnya saya tahu derita peternak waktu itu. Waktu itu ada asosiasi yang menaunginya yaitu PPUI, Persatuan Peternak Unggas Indonesia,” jelas pria yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua Koperasi Wirasakti Utama Bogor ini.
Ketertarikan dan Awal Mula Beternak
Waktu itu ia melihat dalam beternak broiler ini, ada semacam percepatan. Selain adanya percepatan permodalan juga ada percepatan perputaran dalam produksi. Sebut saja dalam kurun waktu 30-45 hari kita sudah bisa mengetahui hasil untung atau rugi, dari situ menjadi ketertarikannya untuk lebih serius mendalami peternakan ayam pedaging ini.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Profil pada majalah Poultry Indonesia edisi Juni 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juni 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754 atau sirkulasipoultry@gmail.com










