Lahir dari keluarga sederhana di desa kecil daerah Blitar, tidak menyurutkan semangat dan usaha Sukarman untuk meraih cita-citanya. Pria yang banyak orang kenal sebagai Ketua Koperasi Putera Blitar ini, dulunya hanyalah anak desa biasa yang kehidupannya serba pas-pasan. Sukarman merupakan anak ke-3 dari 5 bersaudara. Ekonomi keluarga yang sedang jatuh kala itu membuat dirinya tidak mampu melanjutkan sekolah ke jenjang SMP. Alhasil untuk mengisi waktu, ia kembali bersekolah di SD selama satu tahun, sehingga saat ini Sukarman mempunyai 2 ijazah SD. Kemudian di tahun berikutnya, Sukarman kecil kembali mendaftar ke jenjang SMP yang dibiayai oleh pamannya yang saat itu merupakan seorang peternak ayam petelur generasi pertama di daerah Blitar. Sukarman bercerita bahwa pamannya adalah orang pertama yang mengenalkan peternakan ayam petelur kepada dirinya.
Keberhasilan sebuah perjuangan seseorang aktivis manakala hasil perjuangannya itu bisa dirasakan oleh banyak orang.
Serasa bernostalgia, dirinya melanjutkan bahwa di masa itu, semua peralatan kandang serba sederhana dan manual sehingga waktu yang dibutuhkan akan lebih lama jika dibandingkan dengan kondisi saat ini. Namun ia mengaku, dengan kondisi tersebut ilmu dan keterampilan yang didapat akan lebih banyak. Kemudian, lama-kelamaan Sukarman menjadi lebih lihai dan menguasai terkait peternakan ayam petelur. Secara bertahap pamannya memberikan tanggung jawab yang lebih besar kepada dirinya seperti mengelola pakan dan pemeliharaan kutuk.
Berbekal ijazah sebagai seorang pendidik, pria yang lahir 60 tahun silam ini diangkat menjadi seorang guru di SMA Sine, Ngawi. Seperti tak mau terjebak dalam zona nyaman, berbekal pengalamannya di kandang, ia akhirnya bertekad membuat peternakan ayamnya sendiri. Dengan modal pinjaman dari koperasi sekolah, Sukarman memulai beternak ayam dari populasi 600 ekor. Semua kegiatan peternakan dikerjakan sendiri, mulai dari pembuatan kandang, pemeliharaan hingga pemasaran.
Kemudian, setelah beberapa tahun hidup di Ngawi, Sukarman mengajukan mutasi kerja ke Blitar. Momen ini merupakan titik awal bagi dirinya dalam memulai usaha sebagai peternak ayam petelur yang sesungguhnya. Ketika pamannya mengetahui keponakannya berniat memulai usaha, sang paman memberikan pinjaman 100 juta rupiah kepadanya sebagai modal. Dengan uang itu, Sukarman memulai beternak dengan populasi sekitar 10.000.
Berkat ketekunan dan keseriusan dalam menjalankan usaha, dalam kurun waktu dua tahun atau pasca krisis moneter 1998 pinjaman yang diberikan oleh pamannya berhasil dilunasi. Seiring berjalannya waktu, usaha ayam petelur yang dirintis Sukarman semakin berkembang. Penambahan populasi telah dilakukan. Pada fase berikutnya ia juga mulai belajar berdagang telur dan mencoba memasarkan pakan pabrikan kepada peternak-peternak di daerah Blitar. Dengan terus berkembangnya usaha, di usianya yang ke-50 pada saat itu, Sukarman memutuskan untuk pensiun dini dari guru sekaligus pegawai negeri sipil. Keputusan ini diambil agar ia bisa lebih fokus dalam menjalankan usaha peternakan ayam petelurnya.
Menjadi aktivis perunggasan
Kiprah Sukarman sebagai aktivis perunggasan nasional, terkhusus ayam petelur sudah tidak dapat diragukan lagi. Dirinya terlibat langsung dalam berbagai dinamika perunggasan di tanah air. Pada tahun 2016, ia bersama dengan peternak dari berbagai daerah menginisiasi pembentukan Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) sebagai respon anjloknya harga telur pada waktu itu. Dirinya menilai, bahwa salah satu penyebab dari fenomena ini adalah diperbolehkannya integrator melakukan budi daya secara besar-besaran.
Setahun berjalan, nampaknya ekosistem bisnis ayam petelur belum membaik. Hal ini memicu terbentuknya Pinsar Petelur Nasional (PPN) yang ditandai dengan diselenggarakannya Musyawarah Nasional (Munas) PPN di UGM pada tahun 2017. Perjalanan selanjutnya, Sukarman bersama peternak lain juga dilibatkan dalam penyusunan kebijakan perunggasan di sektor hulu hingga terbitlah Permentan Nomor 32 Tahun 2017. Dalam Permentan tersebut diatur pembagian DOC ayam petelur, di mana peternak mandiri mendapatkan porsi DOC 98 persen sedangkan integrator 2 persen. Selain itu, juga diatur pelarangan peredaran telur tetas di pasaran.
Selain itu pada tahun 2017 ia pernah memimpin doa bersama atas keprihatinan harga telur yang jatuh dan harga apkir yang murah, dengan membawa 3.000 ingkung ayam ia menggelar doa bersama di Pendopo Kabupaten Blitar. Tak berhenti sampai di situ, tahun 2018 ia juga pernah memimpin aksi peternak di Kabupaten Blitar dengan tuntutan agar pemerintah bisa menyediakan harga jagung yang wajar.
Tak berhenti sampai di situ, melihat ekosistem bisnis ayam petelur yang sudah berubah, pada 28 November 2017 Sukarman beserta 35 peternak di Blitar bersatu dengan dibantu oleh Pemerintah Daerah untuk mendirikan koperasi yang diberi nama koperasi Putera Blitar. Koperasi ini hadir sebagai solusi dalam pemasaran telur didaerah Blitar sekaligus wadah untuk meningkatkan posisi tawar para peternak. Pria yang juga akrab disapa Pak Kumis ini berharap agar semua peternak di Indonesia segera berhimpun dalam wadah koperasi. Saat ini dirinya hanya bercita-cita agar ekosistem perunggasan dapat kembali baik, dan peternak yang melakukan budi daya dapat sejahtera.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juni 2021 dengan judul “Sukarman, Aktivis Perunggasan dari Blitar”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153
Menyukai ini:
Suka Memuat...