Oleh : Ulil Albab*
Komoditas ternak entok sudah lama dikembangbiakkan di Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Hal tersebut dikarenakan entok cocok diternakkan di daerah sungai dan persawahan yang banyak terdapat di Kecamatan Sumpiuh. Penobatan Sumpiuh sebagai ‘Kota Entok’ tidak lain dikarenakan banyaknya peternak entok dan besarnya potensi ternak entok yang harusnya semakin dikembangkan sebagai komoditas utama pendapatan masyarakat.

Potensi entok di Kecamatan Sumpiuh sangat menjanjikan, mulai dari banyaknya pelaku budi daya hingga prospek kuliner yang menggiurkan.

Entok (Cairina moschata) merupakan unggas air asal Amerika Selatan, yang masuk ke Indonesia melalui Filipina dan didomestikasi sehingga telah beradaptasi dengan baik di lingkungan Indonesia. Penamaan entok sangat beragam seperti itik manila, itik serati, entok basur, dan sebagainya. Entok dimanfaatkan sebagai pengeram telur alami dan penghasil daging yang baik karena pertumbuhannya cepat dan memiliki bobot badan yang lebih besar dibandingkan itik. Selain itu, bulu entok yang berwarna putih dapat dimanfaatkan untuk pembuatan shuttlecock badminton.
Berdasarkan data Dinas Perikanan dan Peternakan (Dinkannak) Kabupaten Banyumas tahun 2021, bahwa populasi entok di Kabupaten Banyumas sebanyak 323.296 ekor. Kecamatan Sumpiuh merupakan salah satu daerah dengan populasi entok yang banyak yaitu 38.324 ekor. Kondisi tersebut memang jauh lebih rendah dibandingkan populasi entok di Kecamatan Sumbang sebanyak 42.204 ekor.
Meski demikian, pemasaran entok lebih banyak diserap di Kecamatan Sumpiuh dan Kecamatan Tambak, karena dijadikan sebagai olahan kuliner khas daerah. Hal tersebut yang menjadikan entok menjadi komoditas unggulan di Kecamatan Sumpiuh dan sekitarnya. Ilyas, seorang peternak entok asal Desa Selandaka, Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas telah lebih dari 20 tahun menggeluti budidaya entok. “Saya pelihara entok kecil-kecilan saja di pekarangan rumah, sebagai tabungan dan mengisi waktu luang,” ucapnya saat kami wawancarai secara langsung di kediamannya, Sabtu (12/3).
Ia menambahkan bahwa entok yang dipelihara diberi pakan tiga kali sehari menggunakan dedak padi dengan campuran nasi kering. Ilyas memiliki 1 pejantan dan 4 betina sebagai pemacek dan pembibit serta 40 ekor entok umur 1 bulan. “Telurnya ditetaskan sendiri oleh indukannya, nanti kalau sudah cukup besar entoknya bisa dijual atau dikonsumsi sendiri untuk keluarga. Entok lebih tahan terhadap penyakit dibanding ternak unggas lain, tetapi makannya termasuk boros sehingga perlu disesuaikan lagi, apalagi sekarang harga dedak tidak menentu,” ucap Ilyas.
Selaras dengan Ilyas, Kadirin seorang peternak asal Desa Karanggedang, Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas juga mengeluhkan tentang harga pakan yang tidak menentu khususnya dedak dan bekatul. “Sekarang harga dedak Rp4.500,00 per kg biasanya saya tambahkan sisa nasi dan rebusan jantung pisang untuk pakan entok,” ucapnya saat kami wawancarai secara langsung di rumahnya, Sabtu (12/3).
Ia juga menambahkan bahwa harga jual entok tergantung pada besar dan umurnya serta kesepakatan dengan pembeli atau pengepul. Harga anakan umur 1 bulan sekitar Rp30.000,00 per ekor dan entok dewasa umur 4 bulan sekitar Rp150.000,00 – Rp200.000,00 per ekor. “Kalau menjelang lebaran biasanya banyak yang nyari, tapi saya belum pernah jual untuk konsumsi keluarga sendiri saja,” jelas Kadirin.
Menurutnya, masyarakat Sumpiuh sebagian gemar memelihara unggas khususnya entok karena lingkungan yang mendukung dan mudah untuk dipelihara. Namun saat ini sudah menurun peternak yang masih menekuninya karena harga jual yang murah dan tidak menutup biaya operasional. Padahal, pemeliharaan entok sangat sederhana hanya diberi makan dan diumbar saja lalu entok bisa beradaptasi sendiri di lingkungannya. Selain itu, entok lebih tahan terhadap lingkungan dan perubahan cuaca.
Peternakan entok milik Kadirin masih skala rumahan dengan 1 ekor pejantan dan 2 ekor indukan serta 15 ekor anakan. Ia menekuni budi daya entok sejak 2019 dan belum memikirkan untuk mengembangkan usahanya. “Saya beternak sebagai kegiatan sampingan saja, harapannya sih ingin terus berlanjut dan dapat menjadi sumber pendapatan karena memang banyak yang mencari entok untuk dikonsumsi, mulai dari pengepul sampai masyarakat sekitar, apalagi ketika menjelang hari-hari tertentu,” pungkasnya.
Prospek produk kuliner
Kecamatan Sumpiuh dilewati jalan nasional dari Jawa Barat menuju Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain itu, di Kecamatan Sumpiuh terdapat jalan alternatif Jalan Lingkar Sumpiuh yang digunakan untuk mengurai kemacetan saat mudik lebaran. Hal tersebutlah yang dinilai bahwa Sumpiuh sebagai tempat strategis yang dapat meningkatkan pendapatan warga masyarakatnya dengan berjualan di sepanjang jalan utama.
Entok dapat dimanfaatkan menjadi produk kuliner yang dijual di Kecamatan Sumpiuh. Beberapa kuliner yang dijadikan makanan khas daerah Sumpiuh dan sekitarnya yaitu petis entok, sate bebek, dan rica entok. Sepanjang jalan utama di Kecamatan Sumpiuh dan Kecamatan Tambak terdapat banyak warung makan yang menyediakan kuliner tersebut. Uniknya sebagian besar kuliner berbahan dasar daging entok.
“Di Kecamatan Sumpiuh ini, banyak yang berjualan kuliner di ruas jalan utama khususnya produk olahan daging entok, sate bebek saja sebagian besar dibuat dari daging entok karena dagingnya lebih banyak dibanding bebek,” ucap Drs. Ahmad Suryanto, M. Si. selaku Camat Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas yang kami temui secara langsung di Kantor Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas, pada Senin (14/3).
Ia menyampaikan bahwa permintaan terhadap daging entok di Kecamatan Sumpiuh sebagian besar diserap dari peternakan lokal dan beberapa dari kecamatan lain atau dari Kabupaten Cilacap. Selain itu, Kecamatan Sumpiuh juga memasok daging entok untuk kebutuhan kuliner sate bebek di kecamatan tetangganya yaitu Kecamatan Tambak.
Tingkat konsumsi daging entok untuk masyarakat Sumpiuh dan sekitarnya tergolong cukup tinggi, apalagi ketika menjelang perayaan Idul Fitri setiap rumah tangga akan mengkonsumsi hidangan olahan daging entok. Hal tersebutlah yang menjadikan entok sebagai komoditas menjanjikan di Kecamatan Sumpiuh.
Penobatan sebagai ‘Kota Entok’
Ia juga menambahkan bahwa di tahun 2014 Kecamatan Sumpiuh dicanangkan sebagai ‘Kota Entok’ karena terdapat banyak peternak entok dan sentra kuliner entok. Hal tersebut dapat diketahui dengan adanya desa budi daya entok di Desa Selandaka dan Karanggedang, kemudian sentra kuliner entok di sepanjang ruas jalan nasional yang ada di Kecamatan Sumpiuh.
Sayangnya, kondisi tersebut tidak bertahan lama dan kemudian terjadi pandemi yang mengakibatkan penurunan daya beli masyarakat sehingga komoditas entok tidak lagi menjanjikan bagi masyarakat Sumpiuh. “Dahulu memang jadi ‘Kota Entok’, namun saat ini lebih dicanangkan menjadi ‘Kecamatan Sentra Unggas’ supaya lebih umum karena banyak juga berbagai macam unggas yang dikembangkan disini,” tambah Ahmad.
Menurutnya, Kecamatan Sumpiuh yang dahulu sempat sukses dengan komoditas entoknya, sekarang akan lebih berkembang dengan potensi beragam unggas yang dikembangbiakkan. Komoditas unggas yang dikembangbiakkan masyarakat meliputi entok, angsa, itik petelur dan pedaging, ayam ras petelur dan pedaging, ayam kampung, dan sebagainya.
Selain itu, pemerintah kecamatan setempat akan bekerja sama dengan pemerintah desa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui budi daya unggas yang beberapa dibantu dan dibina dari pemerintah kecamatan. “Harapan saya, khususnya kepada peternak skala rumahan dapat memaksimalkan pendapatannya dengan beternak unggas dan nantinya akan dibantu dari pemerintah. Karena potensi komoditas unggas sangat besar di Kecamatan Sumpiuh dan dapat bermanfaat serta mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat apabila mampu dikelola dengan baik,” harap Ahmad.
Peternakan entok di Kecamatan Sumpiuh sebagian besar masih skala rumahan dan dipelihara dengan sistem yang tradisional. Hal tersebut dikarenakan orientasi peternak bukan menjadikan beternak sebagai pekerjaan utama. Lebih kepada mengisi waktu luang dan sebagai kegiatan sambilan.
“Pola pemeliharaan yang tradisional memang tidak berorientasi kepada produksi, peternak memelihara hanya sebatas memberi makan dan memastikan entoknya sehat dan mau makan,” ucap Dr. Ir. Rosidi, MP., selaku Dosen Bidang Unggas Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Kabupaten Banyumas saat kami wawancarai secara langsung di kampus, pada Rabu (16/3).
Ia menyampaikan bahwa pola pemeliharaan entok yang efektif yaitu dengan sistem semi intensif. Entok diberikan ruang untuk bergerak dan berendam di air, serta dibiarkan untuk mencari makan tambahan selain pakan yang diberikan. Hal tersebut dinilai dapat meminimalisir stres pada entok dan mengefisiensikan biaya pakan mengingat entok merupakan jenis unggas yang rakus.
Selain itu, solusi di tengah sulit dan mahalnya harga pakan dapat diatasi dengan menggunakan pakan alternatif. Menurut Rosidi, pakan alternatif entok dapat menggunakan bahan baku lokal seperti keong sawah, cacahan eceng gondok, azolla, sisa makanan rumah tangga ataupun sisa makanan di warung makan. Pakan yang digunakan mudah didapat dan entok mampu beradaptasi dengan jenis pakan yang diberikan serta harus dipertimbangkan kecukupan nutriennya.
“Peternakan entok di Kecamatan Sumpiuh sebetulnya sudah sangat cocok karena lingkungannya sangat mendukung dan alur pemasarannya sudah sangat bagus dari on farm sampai off farm, saat ini mungkin perlu dibangkitkan lagi supaya dapat memaksimalkan potensi yang ada,” ucap Rosidi.
Ia juga menambahkan bahwa apabila Sumpiuh akan dijadikan ‘Kecamatan Sentra Unggas’ maka perlu dilakukan kerjasama yang baik dari berbagai pihak serta pendampingan secara berkelanjutan terhadap usaha peternakan yang dijalankan masyarakat. Hal tersebut dapat berkaca dari budi daya entok yang sempat naik daun tapi berangsur menurun. Pemanfaatan potensi daerah Sumpiuh yaitu peternakan unggas khususnya unggas air dapat menjadi sumber pendapatan masyarakat dan meningkatkan kesejahteraannya. *Koresponden Poultry Indonesia Wilayah Purwokerto
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap rubrik Liputan Daerah dari Majalah Poultry Indonesia edisi April 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153