Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) terkhusus puasa dan lebaran merupakan momen yang paling ditunggu oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Momentum ini tak hanya dinanti oleh umat Muslim yang akan beribadah puasa selama sebulan penuh dan dilanjutkan dengan perayaan lebaran semata. Namun juga oleh semua pihak yang mampu membaca dan memanfaatkan peluang yang ada. Pasalnya sudah menjadi fenomena umum, bahwa ketika bulan Ramadan (puasa) tiba, permintaan terhadap berbagai jenis bahan kebutuhan pokok akan mengalami kenaikan.

Bisnis perunggasan pada momentum HBKN selalu menyajikan situasi menarik untuk dikupas. Peningkatan permintaan terhadap barang dan jasa selalu digadanggadang sebagai salah satu berkah yang ditunggu oleh semua pihak.

Secara teknis, pola konsumsi masyarakat memang akan berkurang. Dari yang biasanya dalam sehari makan tiga kali, karena berpuasa maka turun hanya menjadi dua kali. Akan tetapi, dari sisi sosial, kegiatan di malam hari sejak berbuka sampai sahur justru akan lebih semarak dengan tradisi berbuka maupun sahur bersama, minimal pada ruang lingkup keluarga. Selain itu, menu yang disajikan juga cenderung akan lebih istimewa, banyak dan lengkap dari pada hari-hari biasanya. Tradisi semacam inilah yang dapat mendongkrak  tingkat konsumsi di masyarakat. Maka tak heran apabila permintaan bahan pokok akan mengalami kenaikan yang juga diikuti dengan kenaikan harga. Tak terkecuali pada bahan pangan produk asal unggas.
Jaminan ketersediaan
Tak bisa dipungkiri bahwa HBKN khususnya puasa dan lebaran merupakan momen yang harus dipersiapkan oleh seluruh pemangku kepentingan. Dari sisi pemerintah, persiapan telah dilakukan sejak jauh-jauh hari. Hal ini dapat dilihat dari Rapat Kerja (Raker) Komisi IV DPR RI dengan Menteri Pertanian serta Menteri Kelautan dan Perikanan untuk membahas persiapan dan ketersediaan pangan menghadapi bulan puasa dan lebaran yang diselenggarakan sekitar satu bulan menjelang bulan Ramadan tiba.
Dalam Rapat Kerja yang diselenggarakan secara virtual tersebut, Kamis (18/3), Meneteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) memaparkan beberapa strategi Kementerian Pertanian (Kementan) dalam memastikan stok pangan aman menjelang HBKN 2021.
Lebih lanjut Kementan akan melakukan langkah optimalisasi penyediaan pangan dari dalam negeri dan mempercepat proses impor untuk komoditas pangan yang belum sepenuhnya dicukupi dari dalam negeri. Kementan akan terus meningkatkan koordinasi antarlembaga dalam rangka stabilisasi harga dan ketersediaan bahan pangan pokok saat terjadi gejolak harga menjelang HBKN. Di sisi lain Kementan juga akan mengintensifkan gelar pasar murah di berbagai wilayah.
Nasrullah selaku Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan yang memberikan keterangan tertulis kepada Poultry Indonesia, Kamis (22/4), menyebutkan bahwa ketersediaan daging ayam ras pada bulan April 2021 cukup untuk memenuhi kebutuhan selama bulan puasa. Potensi ketersediaan daging ayam ras bulan April sebanyak 336.311 ton. Kebutuhan daging ayam ras bulan April sebanyak 266.536 ton dan berpotensi surplus sebanyak 69.775 ton.
Baca Juga: Tiga Langkah Penuntasan Oversupply Ayam Pedaging
Sementara mengenai potensi ketersediaan daging ayam ras bulan Mei yang bertepatan dengan Hari Raya Idulfitri adalah sebanyak 341.359 ton. Kebutuhan daging ayam ras bulan Mei dikalkulasikan sebanyak 288.237 ton dan berpotensi surplus sebanyak 53.122 ton.
Kondisi yang cukup berbeda ditunjukkan dari data komoditas telur ayam ras. Ketersediaan telur ayam ras pada bulan April juga menunjukkan potensi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan selama puasa dan lebaran. Potensi ketersediaan telur ayam ras bulan April sebanyak 441.996 ton, kebutuhannya sebanyak 438.064 ton dan potensi surplus sebanyak 3.932 ton.
Sedangkan ketersediaan telur ayam ras pada bulan bulan Mei sebanyak 454.540 ton, kebutuhannya sebanyak 478.320 ton dan berpotensi defisit sebanyak 23.780 ton. Oleh karena itu peternak direkomendasikan untuk meningkatkan produktivitas telur harian dan memperpanjang masa apkir sampai umur 95 minggu.
Saat ditanya mengenai tingkat permintaan masyarakat terhadap daging dan telur ayam saat puasa dan menjelang lebaran tahun ini, Nasrullah mengatakan bahwa untuk permintaan terhadap daging dan telur ayam ras selama Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) munggahan puasa dan lebaran tahun 2021 diprediksi mengalami peningkatan meskipun masih dalam kondisi pandemi COVID-19. Pergerakan ekonomi sudah mulai bangkit dan daya beli masyarakat mulai tumbuh kembali sehingga berdampak pada konsumsi. Sandi, Yafi, Zen, Ulil, Dafiq
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Mei 2021 dengan judul “Supply, Demand dan Harga Komoditas Unggas”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153