Swollen Head Syndrome (SHS) atau sindrom kepala bengkak merupakan penyakit infeksius dengan komplikasi yang biasa ditemukan pada ayam. Penyebab utama kasus ini adalah avian pneumovirus (APV). Namun, kejadian ini juga seringkali ditambah dengan adanya komplikasi oleh E. coli. Oleh karena itu, SHS disebut sebagai penyakit multifaktorial.
Sindrom kepala bengkak dengan ciri kepala bengkak dan membesarnya bagian sekitar mata membuat ayam tidak bisa melihat secara simetris. Apa penyebab penyakit ini dan bagaimana bisa ada perbedaan sisi kanan dan kirinya?
Kejadian SHS dapat disebabkan oleh berbagai kondisi. Namun, sindrom ini hampir selalu diawali dengan adanya kondisi imunosupresi yang kemudian memicu infeksi agen penyakit menyerang saluran respirasi. Gejala klinisnya ditandai dengan bersin, batuk, rales (suara napas abnormal), dan konjungtivitis. Sekresi air mata berlebih dan peradangan pada konjungtiva ditemukan pada kasus ini.
Kasus ini biasa ditemukan pada broiler berumur 4 minggu. Kejadian SHS ini kemudian akan diakhiri dengan infeksi sekunder dari E. coli atau kolibasilosis, sehingga kolibasilosis seringkali menjadi komplikasi utama pada kasus ini.
Pakar Patologi Veteriner, Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, drh. Vetnizah Juniantito, Ph.D, APVet, pada kanal YouTube-nya mengatakan bahwa sebelum kepala ayam membengkak, SHS akan diawali dengan sinusitis atau konjungtivitis.
“Pada anatomi ayam maupun hewan lain, ada yang disebut dengan ductus nasolacrimalis yang menghubungkan antara rongga hidung, saluran respirasi, dan mata. Adanya sinusitis ini kemungkinan membuat agen penyebab sinusitis, baik bakteri maupun virus, menyebar dan menyebabkan konjungtivitis,” ujarnya.
Karakteristik kejadian SHS
Ia mengatakan bahwa konjungtivitis dan sinusitis menyebar ke jaringan sekitarnya, sehingga menyebabkan peradangan pada jaringan di bawah kulit, terutama di sekitar mata dan sinus, yang disebut dengan selulitis. Pada kasus Swollen Head Syndrome (SHS), selulitis yang terjadi ditemukan eksklusif pada bagian daerah di sekitar mata serta sinus, dan tidak ditemukan di leher maupun kaki.
“Gambaran klinisnya, selain kepala bengkak, akan ditemukan juga mata berair, banyak lendir karena adanya konjungtivitis. Konjungtivanya seringkali merah dan basah, bahkan bengkak. Nah, konjungtivitis ini diikuti juga dengan pembengkakan yang disebabkan periorbital cellulitis yang mengakibatkan kepala bengkak. Jadi, kepala ayam bengkak karena ada cellulitis di sekitar mata dan sinus,” jelasnya.
Doktor jebolan Osaka Prefecture University yang akrab disapa Tito ini mengatakan bahwa jika dibuka, sinus di bawah mata (infraorbitalis) berisi eksudat fibrin atau eksudat perkejuan (kaseus). Jika jumlah volume dari eksudat perkejuan di sinus berlebih, maka pada saat nekropsi, kita bisa temukan, bahkan sampai ke bagian koane yang merupakan penghubung antara rongga pernapasan dan rongga mulut.
“Jika kita buka sinusnya, dan kita buka kulit di sekitar mata dan sinus, bahkan sampai ke pial, akan terlihat bagian yang basah dan ada fibrin yang berwarna kekuningan menempel di bawah kulit. Jadi, semuanya diawali oleh sinusitis yang menyebar ke daerah sekitarnya. Fibrin seperti ini seringkali melibatkan infeksi oleh agen penyakit yang dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah yang berakibat fibrin bisa bebas keluar masuk jaringan,” tuturnya.
Secara histopatologi, jika bagian selulitis ini dilihat secara mikroskopik, maka akan temukan adanya penebalan dari jaringan di bawah kulit akibat infiltrasi sel radang, pendarahan, trombus, dan koloni bakteri. Sel radang yang ditemukan di bawah kulit dan folikel bulu mencirikan adanya edema pada bawah kulit akibat peradangan akut pada bawah kulit.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada majalah Poultry Indonesia edisi November 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com
Menyukai ini:
Suka Memuat...