Oleh : Kadma Wijaya*
Selamat Tahun Baru 2020. Semoga di tahun yang baru ini, dunia perunggasan memiliki harapan baru, suasana baru, dan semoga persaingan di dunia perunggasan akan lebih sehat dan kembali kepada tahun-tahun sebelumnya di mana tidak terjadi krisis. Definisi dari krisis di sini bukan terletak pada sisi konsumen melainkan ada pada pihak produsen/peternak karena produksi yang berlebih membuat harga ayam menjadi turun. Hal tersebut juga merupakan bagian dari krisis apabila tidak ditangani dengan baik.
Padahal secara ilmu ekonomi, kelebihan produksi (oversupply) itu sebetulnya berkah, jika ditangani secara tepat, namun jika tidak dapat ditangani dengan baik, maka akan menjadi bencana terutama bagi pelaku usaha. Cita-cita dari industri perunggasan ini adalah pelaku budi daya bisa mendapatkan untung, konsumen juga bisa mendapatkan harga terjangkau.
Penulis telah mengamati beberapa waktu terakhir, asosiasi mengalami penurunan jumlah anggota yang akhirnya secara otomatis aktivitasnya juga semakin lesu. Minimal jika anggota dari asosiasi itu tetap, maka aktivitas dari asosiasi itu akan berjalan terus menerus. Maka dari itu, di tahun yang baru ini penulis berharap ada sebuah regenerasi.
Baca Juga: Dua Minggu Berselang Peternak Kembali Lakukan Aksi Damai
Pelaku usaha budi daya hanya bertumpu pada aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Artinya, peternak sesungguhnya ingin ada pembatas dan segmentasi pasar antara pelaku usaha kecil dan besar supaya iklim perunggasan itu sehat dan bisa memberikan manfaat bagi setiap pelaku di dalamnya. Selain itu, peternak juga berharap berbagai peraturan yang sempat dijanjikan oleh pemerintah agar segera dikeluarkan, seperti harga bibit untuk ayam misalnya.
Selain masalah harga bibit ayam (DOC), untuk mendapatkan produk unggas yang berkualitas maka harus ditopang dengan input pakan yang berkualitas pula. Harga komoditas ayam hidup menjadi mahal itu salah satunya adalah biaya pakan yang cukup mahal. Biaya pakan sangat menentukan harga ayam di tingkat peternak, karena hampir 70 persen dari biaya produksi berasal dari pakan. Pakan yang cukup mahal disebabkan oleh salah satu komponen pakan yaitu jagung yang notabene memiliki harga yang cukup tinggi. Sebagai perbandingan saja, harga jagung di Malaysia itu lebih murah daripada di Indonesia sehingga produksi ayam di sana bisa lebih efisien.
Penulis tentu berharap di tahun yang baru ini dunia perunggasan dapat bergerak ke arah yang lebih baik lagi.  Persaingan yang semakin sehat dan kondusif merupakan impian bagi setiap pelaku yang bergerak di dalamnya. Adanya kepemimpinan Tim Analisa dari Direktorat PKH yang baru ini diharapkan mampu memberi angin segar bagi masa depan perunggasan ke depannya.*Sekretaris Jenderal Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara (PPUN).
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2020 dengan judul “Tahun Baru Semangat Baru”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153