Oleh : drh. Paulus Setiabudi, MM, PhD*
Waktu terus bergulir, situasi dunia terus berubah, keadaan berbagai negara dicekam ketidak pastian dan tidak dalam kondisi yang baik baik saja. Itulah sikon berat yang kita hadapi bersama. Kini masyarakat yang tinggal di negara 4 musim sudah memasuki musim dingin dengan temperatur di bawah 10oC, dan akan makin dingin, serta diperparah dengan cuaca yang tidak menentu (climate change).

Walaupun kondisi ekonomi tahun 2023 membuat orang cemas, namun kita harus tetap optimis dan yakin bahwa ekonomi Indonesia tidak akan terpuruk seperti beberapa negara lain.

Mereka membutuhkan bahan bakar untuk pemanas ruangan yang harganya membumbung tinggi. Demikian juga harga bahan pangan dan biaya listrik yang terus meningkat. Cuaca ekstrem di berbagai belahan bumi ini akibat ulah manusia, serta problem geopolitik yang dimainkan oleh beberapa tokoh dunia. Hal ini membuat alam semesta ciptaan Allah SWT yang sebetulnya indah menjadi terasa tidak nyaman bagi manusia yang tidak mau sadar atas perbuatanya, sehingga banyak terjadi berbagai peristiwa bencana alam.
Dilain sisi, populasi dunia sebentar lagi akan mencapai sekitar 8 miliar orang. Penduduk di India mencapai sekitar 1,428 miliar jiwa dan disusul Tiongkok 1,425 miliar. Demikian juga kenaikan populasi di beberapa negara di Asia dan Afrika yang tentu membutuhkan lebih banyak bahan pangan serta bahan energy. Hal ini tentu tidak mudah bagi makhluk hidup di alam semesta ini.
Ancaman inflasi dan resesi
Kita semua sudah mengerti keadaan ekonomi dunia mulai agak membaik setelah kasus pandemi Covid-19 yang makin menurun. Masih tergambar jelas pada tahun 2020 – 2021 terjadi resesi di berbagai negara akibat pandemi dan lockdown, sehingga pertumbuhan ekonomi melambat bahkan tak sedikit negara yang negatif.
Memasuki tahun 2023, nampaknya awan mendung masih menyelimuti. Para ekonom dan tokoh di dunia mengatakan bahwa berbagai negara sedang menghadapi jurang resesi ekonomi, krisis keuangan dan inflasi tinggi. “Bank Dunia pun telah menyampaikan bahwa seluruh bank sentral bersama sama melakukan peningkatan suku bunga secara cukup ekstrem, sehingga dunia pasti mengalami resesi pada tahun 2023,” kata Menteri Keuangan, Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN, Senin (26/09).
Sebagai contoh inflasi pada bulan Agustus di Cina mencapai 2,5%, Jepang 3%, Indonesia 4,7%, India 7%, AS 8,3%, Brasil 8,7%, Inggris 9,9%, Turki sekitar 78%, Lebanon 211%, Sudan 192%, Zimbabwe 192%, Venezuela 167% dan Argentina 64%. Inflasi yang meningkat tersebut terutama akibat harga pangan dan energi yang melambung naik serta harga berbagai barang manufaktur dan jasa yang terkait juga naik.
Untuk menahan meningkatnya laju inflasi maka The FED (Federal Reserve/ bank sentral AS) dan BOE (Bank of England) serta berbagai bank sentral menaikan suku bunga acuan. Seperti contoh di AS sudah 3,25%, Inggris 2,25%,  Brasil 13,7% naik, Indonesia 4,75%. Dilain pihak, akibat naiknya harga berbagai komoditas dan energi, maka masyarakat mengurangi konsumsi sebab daya beli yang menurun. Hal ini membuat produk manufaktur juga ikut menurun, akibat tidak bisa terjual sehingga PMI Purchasing Manager Index manufaktur secara global juga turun dari 51,1 ke 50,3.
Lebih lanjut menurut JP. Morgan dan IMF, pertumbuhan ekonomi Cina tahun 2022 hanya sekitar 3%, dan proyeksi tahun 2023 hanya sekitar 4,4%. Namun kita tahu bahwa ekonomi Cina tetap akan kuat dengan cadangan devisa USD 3.055 miliar dan Hong Kong USD 447 miliar.
Demikian juga investasi di berbagai negara menurun, dampak cost of capital yang meningkat, dan nilai tukar berbagai mata uang terhadap USD juga anjlok. Terlebih penulis melihat bahwa di Indonesia tahun 2023 – 2024 adalah tahun politik, sehingga rencana investasi juga akan tertunda. Hal tersebut berdampak pada menurunnya kebutuhan sumber daya manusia (SDM). Pertumbuhan ekonomi global akan melambat, dimana IMF memprediksi tahun 2022 sekitar 3,2% dan tahun 2023 sekitar 2,7% ; AS tahun 2022 1,6% dan tahun 2023 1% ;  Eropa tahun 2022 3,1% dan tahun 2023 0,5% ; Jepang tahun 2022 1,7% dan tahun 2023 1,6% ; India tahun 2022 6,8% dan tahun 2023 6,1%. Kita sebagai orang yang beriman pada Allah SWT tidak perlu terlalu cemas asal mawas diri, sebab bangsa kita sudah sering lolos dari berbagai kesulitan dengan pertolongan Allah SWT. Amin YRA.
Kondisi ekonomi Indonesia
Pemerintah RI sudah merancang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023 dengan semangat optimisme dalam menghadapi sikon ekonomi global yang berat. Dimana APBN 2023 ini mencapai Rp 3.061,17 triliun yang meliputi belanja pemerintah pusat sebesar Rp1.000,84 triliun, untuk belanja K/L dan Rp1.245,61 triliun, untuk belanja  non K/L serta transfer ke daerah sebesar Rp814,71 triliun. Sedangkan untuk pendapatan negara sebesar Rp2.463,02 triliun (dari Pajak & PNBP) atau defisit 2,84%.
Menkeu menjelaskan bahwa APBN berlanjut sampai Agustus 2022 sebesar Rp1.657 triliun (53,3% terhadap APBN) untuk Belanja Negara. Dari jumlah tersebut Rp575,8 triliun untuk Belanja K/L dimanfaatkan untuk berbagai bansos, program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) ke masyarakat, pengadaan peralatan, mesin, jalan, jaringan, irigasi, belanja pegawai termasuk THR, dan Gaji ke 13 serta operasional K/L. Sebesar Rp402,3 triliun untuk Belanja Non K/L diarahkan utamanya untuk subsidi kompensasi BBM dan listrik, pembayaran pensiun (termasuk THR dan Pensiun gaji 13) serta jaminan kesehatan ASN. Transfer ke Daerah Rp478,9 triliun terutama didukung kepatuhan daerah menyampaikan syarat sehat yang lebih baik.
Walaupun berbagai negara mengalami kontraksi ekonomi, bahkan mungkin resesi ataupun stagflasi, namun berbagai lembaga dunia masih memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia baik. Pada kuartal 2 tahun 2022 tumbuh 5,44 dan kuartal 3 tumbuh 5,50. Pada bulan Juli yang lalu, IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2022 5,3% dan tahun 2023 sebesar 5,0%. Kemudian proyeksi Bank Dunia pada bulan Juni lalu, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2022 5,1% dan pada tahun 2023 5,3%. Selanjutnya pada bulan September, ADB memproyeksikan ekonomi Indonesia pada tahun 2022 tumbuh 5,4% dan tahun 2023 5,0%. Cadangan devisa per Agustus 2022 sebesar USD 132,2 miliar,  CAR perbankan sekitar 20%, dan NPL di bawah 3%. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi perbankan Indonesia sehat, walaupun nilai tukar rupiah turun sekitar 6% terhadap USD.
Bagaimana dengan ketahanan pangan Indonesia?
Sejak dahulu Indonesia yang juga disebut dengan nama Nusantara, terdiri dari 17.000 pulau dengan luas daratan 1.919.440 km2, luas lautan 3.273.810 km2 dengan panjang garis pantai 99.083 km atau terpanjang kedua di dunia setelah Kanada (Data BIG & PUSHIDROS, TNI AL, Juli 2022), telah masyhur dikenal sebagai negara agraris dan negara maritim, sehingga mestinya penduduk kita tidak akan kekurangan pangan baik dari hasil pertanian, peternakan maupun perikanan. Namun realita, selama sekian tahun kita terpaksa harus impor berbagai bahan pangan, pakan ternak dan ikan karena berbagai masalah.
Dalam dinamikanya, Alhamdulillah menurut Presiden Jokowi sudah 3 tahun terakhir Indonesia tidak impor beras. Bahkan menurut Kementan, selama 3 tahun ini Neraca cadangan beras bisa surplus hingga 9,63 juta ton. Hal ini terbukti dari penghargaan dari International Rice Research Institute (IRRI) yang diserah oleh Direktur Jenderal IRRI, Jean Balle kepada Presiden Jokowi pada 14 Agustus 2022. Demikian juga impor jagung sudah sangat menurun/bahkan berhenti, hanya kadang impor sedikit bila terpaksa. Yang masih harus impor dalam kuantitas besar adalah gandum dan kedelai, serta beberapa bahan pakan utama untuk ternak seperti SBM, MBM, FM, CGM dan bahan baku vitamin serta obat.
Dalam AMM Agriculture Ministry Meeting G 20 di Bali, pada akhir September 2022 lalu,  Mentan memaparkan berbagai Strategi Ketahanan Pangan  dalam menghadapi ancaman krisis pangan dunia. Dimana Food estate tanaman pangan berbasis hortikultura dengan dukungan teknologi modern menjadi salah satu jurus andalan. Selain itu, beberapa tahun terakhir ekspor Indonesia atas berbagai komoditas pertanian terutama hasil perkebunan juga terus meningkat. Semua hal itu mendapat pujian dari Wakil Menteri Pertanian AS, Jewel H. Bronaugh serta Dirjen FAO, Qu Dongyu yang memberi apresiasi tinggi atas kemajuan Indonesia  di bidang pangan.
Dari rentetan dinamika tersebut, InsyaAllah berbagai strategi pembangunan pertanian tersebut bisa dilaksanakan, dan kita betul-betul mampu berdaulat pangan, bahkan ekspor bisa terus meningkat untuk menambah pasokan pangan global. Kita seharusnya tidak perlu cemas akan kekurangan pangan dan takut pada resesi, sebab postur APBN cukup baik asal kita waspada. Amin YRA. *Staf Ahli Poultry Indonesia, pengamat perunggasan, dan pengajar Global Marketing Management
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Sudut Kandang pada majalah Poultry Indonesia edisi November 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com