kestabilan pasokan dan ketersediaan jagung menjadi suatu hal yang harus diupayakan untuk meningkatkan daya saing perunggasan nasional
Efisiensi merupakan salah satu kunci utama peningkatan daya saing. Dalam perjalanan menuju industri yang berdaya saing kuat, Indonesia masih mengalami beberapa kendala baik dari segi hulu maupun hilir. Pada sektor hulu, industri perunggasan terjegal beberapa masalah, mulai dari pemenuhan bahan pakan utama seperti jagung yang sampai saat ini masih menjadi perdebatan berbagai pihak mengenai jumlah ketersediannya.

Peternak Indonesia masih harus dihadapkan pada tantangan dari tingginya biaya produksi maupun minimnya permodalan untuk memodernisasi kandang. Banyaknya kendala ini mengakibatkan daya saing industri perunggasan nasional masih lemah.

Saat diwawancarai Poultry Indonesia di Jakarta, Selasa (22/10), Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Desianto Budi Utomo, mengungkapkan bahwa dalam menanggapi isu yang berkembang di masyarakat mengenai produksi jagung di dalam negeri, maka indikator ketersediaan jagung itu dapat dilihat dari harga yang beredar di pasaran. Selain pola dari distribusi produksi jagung, keterjangkauan pada sumber jagung juga turut andil dalam membentuk tingginya harga jagung. Permasalahan infrastruktur lainnya yaitu petani tidak memiliki corn dryer, sehingga kebanyakan dari mereka menggunakan metode kering sawah atau jemur lantai yang membutuhkan waktu sekitar 1 sampai 2 minggu dan jagung yang dihasilkan pun masih memiliki kadar air tinggi. Tingginya kadar air pada jagung tersebut, menyebabkan jagung tersebut tidak dapat ditransportasikan lebih dari 2 hari perjalanan.
Baca Juga : New Mobile Corn Dryer Ramaikan Panen Raya Jagung di Tuban
Kendala lain pada komoditas jagung yakni pola tanam yang seragam sehingga pada bulan-bulan tertentu produksinya sangat sedikit. Menurut Dr. Mursyid Ma’sum di dalam bukunya yang berjudul “Jagung untuk Pakan, Masalah dan Solusinya dari Hulu Sampai Hilir”, menyebutkan bahwa sesuai dengan musim tanam yang dimulai bulan Oktober, maka panen jagung pertama yang jumlahnya sekitar 49% dari total produksi jagung nasional terjadi pada triwulan pertama tahun berikutnya, yaitu antara bulan Februari sampai April, kemudian berturut-turut sekitar 20% tersebar antara bulan Mei sampai dengan Juli, sekitar 17% tersebar antara bulan Agustus sampai dengan Oktober, dan 14% tersebar antara bulan November sampai dengan bulan Januari tahun berikutnya. Maka tak heran jika kegaduhan akibat masalah jagung terjadi setiap akhir tahun.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi November 2019 dengan judul “Tantangan dalam Peningkatan Daya Saing”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153