POULTRYINDONESIA, Jakarta – Dunia perdagangan internasional kembali bergejolak setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi mengumumkan kebijakan tarif pajak impor baru pada Rabu (2/4) lalu. Langkah agresif ini memicu kekhawatiran akan meluasnya perang dagang antara AS dan sejumlah negara mitra, termasuk Indonesia, yang kini dikenai tarif resiprokal sebesar 32 persen. Meski implementasinya masih diberi tenggat 90 hari, sinyal waspada sudah dikibarkan banyak sektor industri di Tanah Air, tak terkecuali industri peternakan.
Dalam acara NTV Insight bertajuk “Peluang Bisnis Menghadapi Perang Dagang Trump” yang diadakan di Jakarta, Rabu (30/4/2025), Wakil Ketua Umum Bidang Peternakan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin Indonesia), Cecep M. Wahyudin menyebut bahwa kebijakan Trump ini justru bisa menjadi bumerang bagi Amerika sendiri. Pasalnya selama ini justru industri peternakan nasional yang justru lebih banyak mengimpor produk dari Amerika. Dimana diantaranya produk hasil ternak seperti daging dan bahan baku pakan ternak, termasuk soybean meal (SBM), selama ini juga banyak diimpor dari Amerika Serikat. Sebaliknya, ekspor produk peternakan Indonesia ke AS masih sangat minim.
“Yang justru akan rugi adalah AS, karena banyak produk mereka yang masuk ke Indonesia. Terutama obat-obatan dan vaksin untuk kebutuhan peternakan. Dan di sisi lain, produk ternak kita belum masuk ke pasar AS. Paling mentok ekspor kita hanya sampai Asia. Jadi secara langsung industri peternakan kita belum terlalu terpengaruh,” lanjutnya.
Menurut Cecep, situasi perang dagang ini bahkan berpotensi memberikan peluang bagi Indonesia. Ia memprediksi, stok bahan baku pakan ternak global akan meningkat, sehingga harga impor bisa lebih murah, terutama untuk komoditas yang belum bisa disuplai penuh oleh produksi dalam negeri. “Sampai hari ini, di industri peternakan belum terasa dampak besarnya. Tapi, kita tunggu saja setelah 90 hari ke depan, apakah ada perubahan atau tidak,” katanya.
Dalam diskusi ini, turut hadir dan memberikan pandangan Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha dan Pengolahan Daging Indonesia (APPDI), Teguh Boediana serta Strategic Asean International Advocacy & Consultancy (SAIAC), Shaanti Shamdasani.