POULTRYINDONESIA, Jakarta – Pandemi COVID-19 sudah hampir dua tahun melanda dunia secara global, tak terkecuali Indonesia. Dampak yang diakibatkan oleh pandemi ini terasa di berbagai sektor, termasuk industri perunggasan. Kebijakan pemerintah terkait aturan pembatasan kegiatan masyarakat sangat berdampak terhadap rantai pasok bisnis perunggasan, seperti menurunnya permintaan pasar terhadap unggas, daya konsumsi masyarakat yang terbatas, harga bahan baku pakan ternak yang melambung tinggi, hingga tantangan impor ayam dari Brazil dan permasalahan di ranah hilir harga telur serta harga livebird yang fluktuatif.
Baca juga : Kolaborasi Untuk Meringankan Beban Masyarakat Terdampak Pandemi
Kondisi pandemi ini tentunya menjadi tantangan bagi para stakeholder perunggasan. Oleh karena itu, untuk mendiskusikan mengenai kondisi industri perunggasan Indonesia, serta tantangan dan peluangnya setelah pandemi berakhir, sekaligus untuk memperingati ulang tahun Farmsco Indonesia pada bulan Agustus, Farmsco Indonesia menyelenggarakan Farmsco e-Learning Part 9 dengan tema Tantangan dan Peluang Perunggasan Indonesia Paska Pandemi yang dihadiri oleh para ahli di bidangnya yang diselenggarakan secara virtual via Zoom, Selasa (31/8).
Park Ju Hyun selaku Vice President Sales and Marketing PT Farmsco Feed Indonesia pada sambutannya menyampaikan harapan agar pandemi COVID-19 segera berakhir dan para peternak dapat bergotong royong, berjalan beriringan melewati tantangan dengan sabar, dan mengambil peluang dengan cepat agar dapat tumbuh bersama.
Selanjutnya dalam acara yang sama, Iqbal Alim selaku Kasubdit Unggas dan Aneka Ternak Ditjen PKH mengatakan jika tantangan di era pandemi sangat sulit untuk dihadapi, namun tetap harus dihadapi bersama.
“Masih rendahnya angka konsumsi broiler dan layer masyarakat Indonesia membuka peluang pasar ekspor,” ungkap Iqbal.
Achmad Dawami selaku Ketua GPPU mengatakan dampak dari pandemi COVID-19 di Indonesia sendiri antara lain adanya penurunan ekonomi, peningkatan jumlah pegangguran, serta meningkatkan penduduk miskin yang berimbas pada naiknya angka stunting.
“Permasalahan yang dihadapi adalah demand semakin rendah akibat penurunan pendapatan masyarakat dan pemberlakuan PPKM. Selain itu, terjadi juga oversupply populasi FS akibat jumlah impor GPS, tingginya HPP akibat kenaikan harga bahan baku pakan dan harga DOC,” tutur Dawami.
Dalam menghadapi tantangan oversupply, pemerintah berperan penting untuk melakukan pengendalian supply dan menyeimbangkan harga. Tingginya HPP dapat ditekan dengan meningkatkan efisiensi produksi melalui modernisasi dan teknologi. Guna meningkatkan konsumsi masyarakat, diperlukan promosi dan edukasi serta inovasi pemasaran dari pemerintah maupun stakeholder.
Lebih lanjut di acara yang sama, drh. Desianto Budi Utomo,Ph.D. selaku Ketua GPMT menyampaikan Indonesia bercita-cita menjadi lumbung pangan dunia, tetapi masih menjadi pengimpor pangan terbesar di dunia untuk gandum dan lain sebagainya.
“Tantangan Brazil yang mendorong impor ayam ke Indonesia bisa diatasi dengan meningkatkan daya saing. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan efisiensi,” ucapnya.
Baca juga : Gambaran Peta Persaingan Produk Pertanian AS Brazil
Sejalan dengan Desianto, Ir. Jenny Soelistiani,MM selaku Pelaku Peternak Layer memaparkan materinya tentang industri layer Indonesia dari sudut pandang pelaku usaha dimana kondisi untuk para peternak layer sedang tidak ramah akibat harga sapronak yang tinggi dan daya beli yang turun.
Menurut Jenny, strategi yang dapat dilakukan adalah dengan membentuk peternak penggerak dengan tim harga dan pemasaran; membuat referensi harga yang ideal dan dapat menjadi acuan bagi semua peternak, pedagang, dan pemerintah, serta memastikan setiap peternak dapat memasok dan memasarkan hasil ternaknya sendiri di daerahnya sebagai kekuatan lokal dan bersama mencari solusi mengatasi surplus produksi dalam berbagai kondisi.
Ir. H. Tri Hardiyanto selaku Pelaku Peternak Broiler mengatakan peluang perunggasan pasca pandemi adalah terjadinya kolaborasi antara peternak mandiri besar dan peternak mandiri kecil agar angka konsumsi kembali naik ke level sebelum pandemi. Angka konsumsi ini diharapkan meningkat seiring dengan kenaikan pendapatan per kapita.
Para panelis berharap pemerintah dapat memperkuat regulasi yang melindungi peternak sebagai produsen telur, menjamin ketersediaan jagung dengan harga wajar, serta mempersiapkan cadangan jagung nasional. Perusahaan sapronak juga diharapkan dapat menjadi fasilitator peternak dengan memfasilitasi kebutuhan sapronak yang berkualitas dan pelayanan terbaik, serta memberikan standar harga sapronak yang wajar.