POULTRYINDONESIA, Jakarta – Terus berkomitmen secara berkelanjutan membangun dunia peternakan melalui diskusi keilmuan, Badan Pengembangan Peternakan Indonesia (BPPI) bersama beberapa stakeholders terkait kembali menggelar Indonesia Livestock Club edisi ke-27 dengan tema ‘Dinamika Rantai Dingin Produk Hasil Unggas 2023’ melalui aplikasi Zoom, Minggu (21/5).
Dalam materinya, Thomas Kristiyanto selaku Koordinator Humas, Media & Publikasi, Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (ARPHUIN) menjelaskan bahwa produk dari industri broiler ini secara umum ada 3 jenis, yaitu bibit, livebird dan karkas. Dimana ketiga produk ini mempunyai kecenderungan uncontrollable. Dalam artian biaya produksinya bisa kita hitung dan atur, namun dari sisi harga penjualan akan cukup sulit untuk dikontrol.
“Hal tersebut karena hasil unggas kita masih mengarah ke produk komoditas, sehingga tingkat harga jualnya akan sangat tergantung pasar. Dan dari ketiga produk tersebut, menurut saya karkas menjadi produk yang masih cukup bisa diatur. Hal ini terbukti, selama tahun 2022 fluktuasi harga LB cukup tinggi dan masih menjadi PR kita bersama,” terangnya.
Untuk itu, menurut Thomas aturan yang tertuang dalam Permentan 32 tahun 2017 yang mewajibkan semua pelaku usaha yang mempunyai kapasitas di atas 300.000 ekor/minggu untuk mengarahkan produknya ke rantai dingin, telah menuju kearah yang benar. Hal ini agar LB yang lebih uncontrollable ini tidak menjadi pasar utama di Indonesia. Namun sebagai pelaku usaha RPHU, dirinya mengaku bahwa hal ini bukanlah sesuatu yang mudah.
Sementara itu, Prastyo Ruandhito, selaku Co-Founder dan CEO PT Integrasi Teknologi Unggas/BroilerX dalam materinya banyak menyinggung terkait tantangan membangun sistem traceability pada produk asal unggas. Menurutnya traceability (ketertelusuran) merupakan alat manajemen risiko yang memungkinkan pelaku bisnis atau pihak berwenang untuk menanggapi kebutuhan akan kualitas dan keamanan produk pangan. Hal tersebut juga menjadi suatu landasan dari berbagai negara dalam hal kebijakan keamanan pangannya.
Baca Juga: Langkah Penentu Keberhasilan Pemeliharaan Ayam Ras Petelur
“Membangun sistem traceability pada produk pangan ayam menjadi hal yang penting untuk memastikan keamanan dan kualitas pangan serta menjaga reputasi dan kepercayaan konsumen. Namun demikian berbagai tantangan yang kompleks harus diatasi oleh para pelaku usaha, seperti kompleksitas dan panjangnya rantai pasok ayam, banyaknya pelaku usaha yang terlibat serta proses pengolahan dan distribusi yang kompleks,” jelas Prastyo.
Selain itu, dirinya juga mengungkapkan bahwa data yang sangat beragam dan tersebar serta keterbatasan teknologi juga menjadi tantangan lain dalam membangun sistem traceability produk asal ayam ini. Namun demikian, dirinya yakin bahwa dengan mengatasi tantangan tersebut, maka dapat meningkatkan keamanan pangan dan membangun kepercayaan konsumen.
Masih dalam acara yang sama Tri Melasari, selaku Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Ditjen PKH, Kementan RI banyak menjelaskan terkait dukungan regulasi pemerintah dalam meningkatkan akselerasi ekspor produk hasil unggas. Menurutnya, secara year of year, di Maret tahun 2023 volume ekspor peternakan nasional meningkat sebesar 15,92% dengan peningkatan nilai sebesar 9,30%. Dalam hal ini, produk unggas menjadi salah satu produk potensial ekspor karena secara nasional telah mengalami surplus produksi.
“Untuk mengakselerasi ekspor unggas, pemerintah telah melakukan penguatan regulasi ekspor (Gratieks Unggas), termasuk membuat buku panduan ekspor dan akan ditingkatkan kembali sosialisasinya untuk memudahkan para pelaku usaha perunggasan. Kemudian kami juga mendorong pelaku usaha ekspor baru dengan penerapan sistem penilaian importasi GPS unggas. Selanjutnya kami juga melakukan penguatan sistem monitoring dan informasi percepatan ekspor. Tak lupa juga penguatan sistem monitoring dan informasi percepatan ekspor,” ujarnya.
Untuk membuka pasar luar negeri, Mela mengaku pemerintah juga terus melakukan penguatan diplomasi dengan negara tujuan ekspor untuk peningkatan volume ekspor dan pembukaan akses pasar baru dengan melibatkan K/L terkait. Baik berupa promosi luar negeri, bisnis matching, hingga harmonisasi persyaratan. Untuk tahun 2022, terdapat 20 negara tujuan ekspor unggas Indonesia, mulai dari Saudi Arabia, Japan, Egypt, Nigeria, dan lain-lain.