(Image source: https://www.eptalaboratories.com)
Dengan segala manfaatnya, rupanya penerapan uji laboratorium juga masih memiliki tantangan tersendiri. Fauzi mengatakan bahwa di lapangan, peternak seringkali terlambat melaporkan kasus penyakit yang terjadi di kandang, sehingga pengambilan sampel lambat. Keterlambatan ini bisa saja menghasilkan hasil yang rancu dalam uji laboratorium, terutama saat melakukan uji PCR.
“Penanganan serum saat pengambilan sampel darah menjadi salah satu masalah yang ditemukan. Sering kali, serum yang diambil kurang volumenya atau sampel serum darah yang ada terkadang telah bercampur dengan plasma darah, sehingga hasil lab menjadi tidak valid. Jika kita salah mendiagnosa penyakit karena tidak didukung oleh pengujian laboratorium, maka kerugian yang dialami akan semakin besar, baik dari turunnya produksi telur, tidak maksimalnya kenaikan berat badan harian, hingga kematian,” terangnya.
Sejalan dengan Fauzi, Lia juga mengatakan bahwa tantangan tantangan dalam penerapan uji laboratorium yang ia temukan adalah kondisi sampel. Menurutnya, kualitas sampel dapat memengaruhi hasil uji. Contohnya, uji PCR dan serologi dapat menghasilkan palsu negatif atau titer rendah karena perlakuan yang kurang baik, seperti pengiriman yang tidak dalam kondisi dingin atau pengambilan sampel yang kurang aseptis.
“Tantangan selanjutnya adalah data, seperti riwayat kasus dan riwayat vaksinasi. Uji laboratorium untuk mendiagnosa kasus secara tepat memerlukan data untuk pembacaannya, salah satunya waktu vaksinasi dilakukan. Baik ayam yang baru saja divaksin 3 hari maupun ayam yang sudah lama divaksin, bisa saja memiliki titer antibodi yang rendah, tetapi penanganan kedua kasus ini tentu berbeda. Demikian pula ayam yang terjangkit kasus dan ayam yang baru saja divaksin dengan vaksin live, bisa saja menghasilkan uji PCR yang sama-sama positif terhadap ND. Dari situ kita bisa lihat bahwa uji yang dilakukan tetap harus disertai dengan keterangan yang lengkap. Sayangnya, data recording beberapa peternak kurang lengkap, sehingga menjadi tantangan dalam uji yang dilakukan,” jelasnya.
Perkembangan uji laboratorium
Ketika ditanya mengenai perkembangan teknologi yang ada, Lia mengatakan bahwa perkembangan teknologi terbaru akan selalu ada dan sifatnya merupakan pegembangan dari uji yang sudah ada untuk mempermudah pengujian. Pada uji PCR, selalu ada terobosan optimalisasi agar hasil lebih valid dan cepat. Salah satunya adalah Reverse-trancription Polymerase Chain Reaction (RT-PCR), baik Real-time RT-PCR (rRT-PCR) maupun RT-PCR konvensional.
Kelebihan dari metode ini antara lain sensitivitas dan spesifisitasnya yang tinggi, mampu mengakomodasi ukuran sampel yang kecil, dapat mengurangi kontak dengan material yang infeksius, dan hanya memerlukan jumlah sampel yang sangat sedikit. Real-time RT-PCR juga memiliki kelebihan dibandingkan RT-PCR konvensional dimana hasil akan lebih cepat diterima, setidaknya kurang dari 3 jam, dengan hasil yang lebih spesifik dibandingkan RT-PCR konvensional, dan mengurangi potensi kontaminasi.
“Uji laboratorium memiliki banyak manfaat untuk mendukung kesehatan unggas. Seperti manusia yang saat sakit pasti membutuhkan uji lab guna mendukung diagnosis, demikian pula untuk unggas. Oleh karena itu, jangan khawatir ketika dilakukan uji laboratorium pada ayam di lapangan. Kami yakin bahwa semua yang terkait dalam uji laboratorium akan memastikan yang terbaik untuk membantu memberikan hasil yang valid yang dapat membantu menjaga kesehatan unggas,” tegasnya.
Fauzi menambahkan bahwa yang paling penting dari penerapan uji laboratorium adalah kualitas sampel yang akan diuji serta kesiapan laboratorium dalam menguji sampel. Namun, beberapa pengujian laboratorium, khususnya PCR, masih terhambat keterbatasan alat dan primer yang digunakan. Oleh karena itu, kerja sama dengan laboratorium lokal dan juga internasional juga perlu dilakukan.
“Saat ini, banyak sekali penyakit yang non-spesifik yang ditemukan di farm akibat gejala klinis masing-masing penyakit yang memiliki persamaan. Oleh sebab itu, peneguhan diagnosa dengan menggunakan pengujian lab sangat penting dilakukan. Selain investigasi penyakit, uji lab juga dapat dilakukan untuk memonitor keberhasilan program vaksinasi dan pengobatan, sehingga peternak dapat mengevaluasi program kesehatan di farm dan mengetahui jika perlu dilakukan perubahan ke arah yang lebih baik,” pungkasnya.
Artikel ini merupakan bagian dari majalah Poultry Indonesia edisi Juni 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com