Keamanan pakan merupakan hal penting dalam perunggasan
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Pakan yang baik dan berkualitas harus memenuhi persyaratan mutu yang mencakup kualitas nutrisi, kualitas teknis, keamanan pakan dan nilai ekonomis penggunaan pakan. Keamanan pakan adalah bagian dari keamanan pangan, karena pakan merupakan salah satu mata rantai awal dari keseluruhan mata rantai makanan. Mengacu dari hal ini, Poultry Indonesia menyelenggarakan Poultry Indonesia Forum ke-20 yang bertemakan “Keamanan Pakan untuk Kesejahteraan Hewan dan Kesehatan Manusia“ melalui aplikasi zoom, Sabtu (2/10).
Baca juga :Peningkatan Mutu Pakan untuk Dukung Kesehatan Unggas
Menurut pemaparan dari drh. M. Syukron Amin, M.Si selaku Koordinator Bidang Mutu, Keamanan dan Pendaftaran Pakan, Direktorat Pakan Ditjen PKH, Kementan mengatakan bahwa untuk mencapai keamanan pakan dan pangan, pemerintah telah mengupayakan berbagai aturan untuk pengembangan pakan olahan dan bahan pakan. Upaya yang dilakukan ialah memfasilitasi pemenuhan kebutuhan bahan pakan unggas dan meningkatkan produksi dan usaha pakan olahan unggas berbasis sumberdaya lokal.
“Bahan baku yang menjadi penyusun pakan harus terus tersedia, sehingga kualitasnya konsisten, tidak ketergantungan, dan tidak kesulitan mendapatkannya. Apabila kesulitan mendapatkan bahan baku, tentu saja akan mengubah bahan formulanya yang akan mempengaruhi standar yang telah ditentukan,” papar Syukron.
Selain membahas mengenai ketersediaan pakan yang harus berkelanjutan, Syukron juga membahas mutu dan keamanan pakan. Untuk menjaga mutu dan keamanan pakan, pemerintah telah berupaya dengan mengembangkan regulasi mengenai pakan, meningkatkan pengawasan mutu dan keamanan pakan, serta mengembangkan laboratorium pengujian mutu pakan yang terakreditasi. Syukron menegaskan bahwa pakan yang beredar secara komersial harus berkualitas baik dan memiliki sertifikat CPPB (Cara Produksi Pakan yang Baik) dan NPP (Nomor Pendaftaran Pakan).
“Untuk memenuhi mutu dan keamanan pakan, pemerintah memiliki 5 kebijakan yakni penyusunan standar bahan pakan, menerapkan pedoman Cara Produksi Pakan yang Baik (CPPB), sertifikasi mutu keamanan pakan, pendaftaran pakan serta pengawasan mutu dan keamanan pakan,” lanjut Syukron.
Selanjutnya pemaparan dilanjutkan oleh drh. Desianto Budi Utomo, M.Sc., Ph.D selaku Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) menyatakan bahwa keamanan pakan sebuah tuntutan bagi industri pakan. Desianto memberikan keterangan bahwa adanya larangan penggunaan Antibiotic Growth Promotor (AGP), cukup sulit untuk mencari pengganti feed additive yang performanya setara dengan AGP.
“Dengan adanya larangan penggunaan AGP ini, kita mau tidak mau harus mencari feed additive yang non-antibiotik. Pada kondisi di lapangan, memang sulit untuk menemukan pengganti yang efikasinya setara dengan AGP. Namun, dengan manajemen dan biosekuriti yang baik, terdapat beberapa bahan yang mampu memiliki performa yang mendekati AGP, yakni dengan memanfaatkan antara lain enzim, probiotik, sinbiotik, herbal, asam organik dan lain-lain,” ujar Desianto.
Sementara itu, Desianto telah mengamini langkah pemerintah dalam upayanya untuk menjaga mutu dan keamanan pakan. “Kontrol dari pemerintah sudah sangat lengkap dan detail. Untuk mendapatkan NPP pun syaratnya harus memenuhi SNI sehingga pakan tersebut memenuhi spesifikasi pakan yang baik,” sambung Desianto.
Dalam kesempatan yang sama, Ir. H. Herry Dermawan selaku Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) mengatakan bahwa kesejahteraan hewan dan Kesehatan konsumen harus diturut sertakan oleh kesejahteraan peternak pula.
“Kedepannya saya harapkan, pemerintah serta industri pakan turut mengembangkan inovasi untuk menciptakan sebuah pakan yang berkualitas baik namun juga ekonomis di kalangan peternak sehingga peternak yang melakukan budi daya juga bisa sejahtera secara ekonomi,” ucap Herry.