Petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor menunjukkan hasil panen budidaya maggot di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse dan Recycle (TPS 3R) DLH, Paledang, Bogor, Jawa Barat, Rabu (2/12/2020). Budidaya maggot yang dipanen setiap dua minggu sekali tersebut mampu mengurangi sampah organik hingga dua ton dalam sebulan dan hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan lele dan pupuk organik tanaman. ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/rwa.
Oleh : Dr. Muhsin Al Anas, S.Pt*
Produksi tepung maggot secara efisien masih menjadi tantangan. Salah satu startup Magalarva yang mengembangkan maggot sebagai pengolah sampah mampu menghasilkan 4-4,5 ton per bulan. Keadaan pemasarannya tetapi masih diperuntukkan untuk ekspor dengan harga Rp30.000-45.000 per kilogram. Tentu apabila diperuntukan sebagai pengganti bungkil kedelai, harga yang diterapkan harus di bawahnya. Sementara harga bungkil kedelai saat ini berkisar antara Rp8.000-10.000 per kilogram. Oleh sebab itu, bagaimana mass production tepung maggot agar bisa lebih efisien.
Berdasarkan hasil penelitian Putra dan Ariesmayana (2020) bobot maggot sebelum dan sesudah mengurai sampah mengalami peningkatan berat yang signifikan selama 7 hari. Maggot yang semula berbobot masing-masing 100 gram mengalami peningkatan bobot. Maggot pengurai sampah organik daging memiliki bobot 160 gram, 10 gram lebih tinggi dibandingkan maggot dengan sampah organik sayur (150 gram). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa 100 gram maggot mampu mengurai 250 gram sampah organik dengan waktu 7 hari. Oleh karena itu, dengan adanya maggot bisa menjadi solusi untuk mengurangi sampah organik yang menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi.
Potensi pengembangan maggot sangat menjanjikan, mengingat limbah sampah di Indonesia cukup besar. Berdasarkan laporan Bank Dunia, produksi sampah di Indonesia tahun 2016 mencapai 65,2 juta ton setiap tahun, terdiri 50-60% sampah organik yang tentunya dapat digunakan sebagai media pertumbuhan maggot. Berdasarkan data dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bahwa total jumlah sampah Indonesia di 2019 akan mencapai 68 juta ton dengan sampah organik mencapai 47,6 juta ton per tahun. Selain itu, sampah diproduksi harian oleh masyarakat sehingga keberlanjutannya terjamin.
Baca Juga: Tantangan Penggunaan Maggot di Industri Pakan Ikan dan Unggas
Berdasarkan data di atas, dapat diketahui bahwa 1 ton maggot mampu mengurai 2,5 ton sampah organik dalam waktu 7 hari. Jika sampah organik yang tersedia mencapai 47,6 juta ton (Data KLHK), maka dapat menghasilkan maggot sebanyak 19,04 juta ton. Apabila dalam setiap ton maggot mampu menghasilkan tepung maggot sebanyak 300 kilogram, artinya terdapat potensi 5,71 juta ton tepung maggot. Apabila per kilogram dinilai Rp 10.000 saja, berarti terdapat potensi ekonomi mencapai 57,12 triliun rupiah per tahun.
Dengan catatan semua limbah organik termanfaatkan semua. Hanya saja tantangan dalam pengembangan maggot adalah keberadaan limbah organik yang sejauh ini belum dipisahkan. Rerata limbah yang dihasilkan di Indonesia masih tercampur antara organik dan anorganik. Pemisahan sampah tentu membutuhkan usaha yang tidak mudah. Oleh karena itu, pengembangan peternakan maggot harus dilakukan dengan membangun pengepulan sampah yang telah terpisahkan antara organik dan anorganik. Edukasi pemilahan sampah menjadi penting untuk dilakukan mulai dari rumah tangga maupun rumah makan yang paling banyak memproduksi limbah organik.
Pengolahan limbah menggunakan Black Soldier Fly (BSF) dapat menghasilkan dua keuntungan, pertama sebagai solusi untuk mengurai permasalahan limbah yang selalu menjadi pekerjaan rumah untuk bangsa Indonesia. Kedua, maggot menjadi bahan pakan sumber protein pengganti bungkil kedelai yang paling umum digunakan dalam formulasi pakan unggas. Memang masih diperlukan penelitian dan inovasi berkelanjutan untuk menghasilkan teknologi yang mendukung produksi maggot secara efisien. Hal tersebut tentunya membutuhkan waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Namun tidak ada salahnya untuk dicoba, karena potensi pengembangan Black Soldier Fly (BSF) sangat mungkin. Paling tidak adanya produksi maggot secara mass production akan mengurangi ketergantungan impor bahan pakan sumber protein. Penting juga untuk dipahami bahwa, kedaulatan pangan harus dimulai dari kekuatan suplai bahan pakan. *Dosen Fakultas Peternakan UGM
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2021 dengan judul “Potensi Maggot Sebagai Bahan Pakan Sumber Protein Ternak Unggas”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153