Suasana lock down di Kota Wuhan
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Sebelum virus COVID-19 melanda, pemerintah Tiongkok melakukan pemusnahan besar-besaran ternak babi yang disebabkan oleh wabah African Swine Fever (ASF). Wabah tersebut mengakibatkan produksi serta konsumsi ternak babi menurun. Hal ini tentu menjadi peluang bagi pengusaha ternak lain, khususnya perunggasan untuk memenuhi peralihan konsumsi protein masyarakat Tiongkok ke ternak lainnya. Akan tetapi faktanya peluang tersebut tidak bisa direalisasikan karena pandemi COVID-19 ini tengah melanda. Penutupan akses di beberapa provinsi di Tiongkok mengakibatkan tersendatnya kebutuhan bahan pakan ternak, seperti bungkil kedelai yang sangat diperlukan dalam pembuatan pakan ayam.
Merujuk sebauh artikel dari Consumer News and Business Channel (CNBC), peternak di Provinsi Hubei sebagai salah satu daerah terbesar penghasil produk perunggasan di Tiongkok saat ini berada dalam situasi sangat tertekan. Peternakan di daerah tersebut terganggu produksinya karena menipisnya ketersediaan pakan akibat lumpuhnya transportasi yang ada. Langkah penyembelihan unggas dalam jumlah besar terpaksa dilakukan untuk meningkatkan efisiensi pakan.
Selain dari sisi hulu, sisi pemasaran produk perunggasan juga terganggu akibat pandemi COVID-19. Penutupan pasar hewan yang dilakukan oleh Pemerintah Tiongkok akan menghambat proses pemasaran perunggasan di negara ini. Chenjun Pan, Senior Analyst for Animal Protein Rabobank, menjelaskan bahwa ditutupnya pasar hewan di Tiongkok akan mengganggu proses pemasaran ayam karena masih banyak peternak yang menjual ayamnya melalui pasar hewan.
Baca Juga: COVID-19 Membuat Sektor Perunggasan Tiongkok Terganggu
Terganggunya berbagai sisi usaha sektor perunggasan, membuat Pemerintah Tiongkok mengambil langkah impor produk unggas dari luar negaranya. Tercatat Amerika Serikat, Rusia, dan Brasil mengekspor produk unggas ke Negara Tirai Bambu tersebut. Berdasarkan situs www.poultryworld.com, Tiongkok telah mengimpor 115.400 ton daging ayam Brasil selama periode pertama tahun 2020. Angka ini 59% lebih tinggi dari periode yang sama pada tahun 2019. Selain efek dari COVID-19, kasus ASF juga disinyalir sebagai salah satu faktor meningkatnya impor ayam di Tiongkok.
Kasus flu burung
Di tengah usahanya melawan COVID-19, negara Tiongkok juga menemukan kasus flu burung (H5N1) yang menyerang sektor perunggasannya. Pemerintah Tiongkok melalui Kementerian Pertanian dan Pedesaan melaporkan temuan wabah flu burung (H5N1) di sebuah peternakan di Kota Shaoyang, Provinsi Hunan Selatan.
Kasus flu burung ini ditemukan di sebuah peternakan yang memiliki populasi 7.850 ekor ayam. Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.500 ekor mati karena serangan flu burung. Akibat wabah tersebut, pihak berwenang Tiongkok telah memusnahkan 17.828 ternak unggas. Kondisi ini menambah daftar tantangan yang harus dihadapi sektor perunggasan Tiongkok di tengah COVID-19 yang melanda.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Mei 2020 dengan judul COVID-19 Membuat Sektor Perunggasan Tiongkok Terganggu”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153