Indonesia mempunyai berbagai tantangan dalam berbudi daya unggas
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Sebagai negara beriklim tropis, tentu Indonesia mempunyai berbagai tantangan tersendiri dalam proses budi daya perunggasan. Lingkungan tropis ini berpengaruh secara langsung terhadap kondisi kesehatan, fisiologi, produksi dan reproduksi unggas. Selain itu hal ini juga memberikan pengaruh tidak langsung terhadap kualitas karkas, ketersediaan sumber pakan dan air serta memengaruhi desain kandang dan sistem pemeliharaan.
Berangkat dari hal tersebut, Pengurus Besar Perkumpulan Insinyur dan Sarjana Peternakan Indonesia (PB-ISPI) bekerja sama dengan Program Magister Peternakan Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar RnD Exchange : Forum Diskusi Industri, Praktisi dan Akademisi pada Kamis, (2/9). Acara yang bertema “Tantangan dan Strategi Beternak Unggas di Iklim Tropis” ini digelar secara virtual melalui aplikasi Zoom.
Baca juga : Ketersediaan Bibit Kunci Utama Pengembangan Usaha Ayam Lokal
Joko Susilo, selaku Sekretaris Jenderal ISPI menjelaskan bahwa pada intinya untuk menciptakan kemandirian perunggasan, Indonesia juga harus mampu menghasilkan DOC dan tidak bergantung terhadap negara luar. Untuk itu, menurutnya perlu adanya pengembangan breeding ayam lokal dalam rangka mendukung terwujudnya ketahanan pangan di Indonesia.
“Kita berharap adanya pengembangan pola breeding yang hasilnya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat luas dan tidak bergantung pada produk luar. Terlebih dengan kondisi negara kita dan status perdagangan bebas, hal ini bisa menjadi alternatif usaha untuk kita bersama” jelasnya.
Dirinya melanjutkan, saat ini usaha pembibitan ayam lokal masih menemui banyak tantangan. Pola budi daya yang masih tradisional sehingga hasilnya belum optimal untuk mencapai keseragaman menjadi sebuah poin perbaikan. Disisi lain, belum adanya jaminan pasar dalam skala besar atau industri juga menjadi sebuah tantangan.
Hal senada disampaikan oleh Sudarno, selaku Comercial Lead Key Acount Management, Cargiill Indonesia. Dalam materinya yang berjudul “Chalenge Of Animall Production in Climate Changing” ia menyampaikan bahwa secara umum tantangan perunggasan di Indonesia adalah lingkungan tropis yang dihadapkan pada ternak yang dikembangkan merupakan ternak dari luar, sehingga hasilnya tidak bisa maksimal. Terlebih faktor lingkungan yang sangat berpengaruh tidak bisa di kontrol.
“Kemudian kondisi iklim saat ini yang sudah tidak seimbang menjadi tantangan bagi proses budi daya perunggasan,” terangnya.
Dalam kesempatan yang sama, Amalia Ikhwanti, International Business Manager , PT Nutricell Pacific mengatakan bahwa terdapat tiga pilar utama dalam strategi budi daya unggas di iklim tropis yaitu price nutrition, gut health compass dan premix solution. Amalia meneruskan bahwa pertimbangan ekonomi dan teknis seperti lingkungan, umur ternak harus diperhatikan.
“Kita semua sepakat bahwa biaya pakan berkontribusi relatif besar dari total biaya produksi yang sekitar 70-75 persen. Untuk itu, penting mendesain pakan yang efisien sehingga tidak banyak yang terbuang. Kemudian, juga terdapat suatu alat yang dinamakan gut health compass yang digunakan untuk mengukur, menganalisis dan mendiagnosis parameter kesehatan terkhusus usus dalam broiler,” jelasnya.