Oleh : Setya Winarno*
“Regenerasi dalam asosiasi bukan sekadar pergantian figur, tetapi proses menyiapkan generasi baru yang memahami persoalan peternak sekaligus mampu membaca arah masa depan perunggasan”
Industri perunggasan Indonesia telah berkembang menjadi salah satu sektor penting dalam penyediaan protein hewani bagi masyarakat. Produksi ayam dan telur yang terus meningkat menjadikan sektor ini sebagai tulang punggung pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. Namun di balik dinamika produksi, distribusi, serta persaingan pasar yang semakin ketat, terdapat satu persoalan yang kerap luput dari perhatian, yakni regenerasi kepemimpinan dalam asosiasi perunggasan.
Padahal, keberadaan asosiasi memiliki peran strategis dalam memperjuangkan kepentingan peternak. Melalui organisasi inilah berbagai aspirasi peternak disampaikan kepada pemerintah, mulai dari persoalan harga ayam hidup, harga telur, hingga kebijakan produksi bibit ayam.
Dalam konteks ini, menarik untuk menengok perjalanan salah satu asosiasi peternak, yaitu Garda Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan). Organisasi ini memiliki sejarah yang cukup istimewa karena diresmikan langsung oleh Presiden Megawati Soekarnoputri. Hal tersebut memberikan legitimasi simbolik yang kuat bagi organisasi ini sejak awal berdiri. Berbeda dengan beberapa organisasi lain di sektor perunggasan yang umumnya diresmikan oleh pejabat setingkat menteri.
Namun perjalanan waktu menunjukkan bahwa legitimasi awal saja tidak cukup untuk menjaga dinamika organisasi. Dalam industri yang terus berubah, sebuah asosiasi dituntut untuk terus memperbarui energi, gagasan, serta kepemimpinan. Tanpa pembaruan tersebut, organisasi berisiko berjalan di tempat, bahkan tertinggal dari kelompok lain yang lebih adaptif terhadap perubahan.
Jika menengok ke belakang, kekuatan asosiasi perunggasan sering kali bertumpu pada figur-figur sentral. Tokoh-tokoh ini tidak hanya memiliki pengalaman panjang di lapangan, tetapi juga memiliki jaringan luas serta kemampuan memobilisasi dukungan, termasuk dalam hal pendanaan organisasi.
Dalam konteks Gopan, misalnya, peran beberapa tokoh seperti Pak Tri, Pak Bagus, maupun Pak Haji Dudung pernah menjadi penopang penting bagi dinamika organisasi. Kehadiran mereka tidak hanya memberi arah bagi organisasi, tetapi juga memperkuat posisi asosiasi dalam berbagai forum dialog dengan pemerintah.
Namun ketika tokoh-tokoh tersebut tidak lagi aktif, organisasi dihadapkan pada tantangan baru. Ketergantungan yang terlalu besar pada figur tertentu membuat proses regenerasi tidak berjalan secara optimal. Akibatnya, muncul kekosongan kepemimpinan yang tidak mudah diisi oleh generasi berikutnya.
Fenomena ini sebenarnya tidak hanya terjadi pada satu organisasi saja. Dalam banyak asosiasi perunggasan, proses regenerasi kerap terhambat oleh dua faktor utama, yakni keterbatasan sumber daya dan perubahan karakter peternak.
Padahal selama ini, asosiasi memiliki peran penting dalam dinamika kebijakan perunggasan nasional. Berbagai isu strategis yang menyangkut kepentingan peternak sering kali diperjuangkan melalui advokasi organisasi.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Opini pada majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Maret 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.