Oleh: Joko Susilo*
Untuk menghasilkan produksi unggas yang sehat dan efisien tentu tidak dihasilkan secara instan. Perlu proses perencanaan sejak dari pembangunan kandang hingga dengan akhir pemasaran sampai pada konsumen. Oleh kerana itu dalam rangkaian proses tersebut tentu saja diperlukan tenaga profesional yang mumpuni dengan kemampuan keilmuan yang dimiliki. Faktor input mulai dari pembuatan pakan, budi daya dan faktor eksternal cuaca ekstrem harus mendapatkan perhatian khusus. 

Dengan berbagai persoalan teknis di lapangan, diperlukan profesi insinyur peternakan yang memiliki kompetensi di bidang perunggasan khususnya mulai dari perencanaan pembangunan kandang sampai keamanan hasil akhir produk yang dihasilkan dari proses budi daya broiler maupun layer.

Mengutip berita detik.com 10 Oktober 2022,  Dalam buku “Prakiraan Musim Hujan 2022/23 di Indonesia” yang dirilis BMKG melalui situs resminya awal September 2022 lalu, BMKG memperkirakan bahwa puncak musim hujan terjadi di bulan Desember 2022 dan Januari 2023. Adapun untuk setiap pulau di Indonesia memiliki Zona Musim (ZOM) yang berbeda-beda. Adapun prediksi Puncak Musim Hujan 2023 di Indonesia untuk Zona Pulau Sumatra akhir musim hujan pada bulan Mei 2023. Beralih ke pulau Jawa, periode Januari 2023 adalah puncak musim hujan dan akhir musim hujan pada bulan April 2023.
Untuk wilayah pulau Kalimantan Maret 2023 merupakan akhir musim hujan, sedangkan untuk Pulau Bali dan Nusa Tenggara puncak musim hujan januari 2023 akhir musim hujan maret 2023. Selanjutnya, untuk pulau Sulawesi puncak musim hujan januari 2023, dan akhir musim hujan maret 2023, lalu untuk pulau Maluku dan Papua musim hujan Februari 2023 dan akhir musim hujan April 2023. 
Dengan kondisi cuaca di berbagai daerah Indonesia tersebut, tentunya membutuhkan strategi dari pelaku usaha peternakan khususnya peternak broiler dan layer untuk menyesuaikan sistem perkandangan dan bahan pembuatan kandang agar dalam pelaksanaan budi daya bisa dilakukan seefisien mungkin. Pemilihan konstruksi kandang dan bahan pemanas untuk masa brooding harus benar-benar menjadi pertimbangan sejak awal pembangunan kandang, hingga sebelum masuk DOC. Karena hal ini biasanya sangat berpengaruh pada besaran biaya yang akan dikeluarkan dan lama kembalinya modal kerja untuk pembangunan kandang.
Belajar dari kebakaran kandang ayam petelur di Nebraska
Pada 27 Desember 2022 World Poultry melaporkan adanya perusahaan asuransi yang menuntut sebesar  US$25 juta atas kebakaran peternakan ayam petelur yang terjadi pada tahun 2020 di Michael Foods. Tak kurang 40.000 ekor ayam petelur masa produktif hangus terbakar. Perusahaan asuransi yang berbasis di Rhode Island Factory Mutual menggugat perusahaan konstruksi Henning Companies LLC. Lebih lanjut  Daniel Berglund, pengacara Factory Mutual, mengklaim bahwa Waldbaum mengalami kerugian senilai US$ 24.908.633 akibat kebakaran tersebut. Menurut Berglund, api bermula dari rakitan kipas penyedot kotoran yang menyulut debu pakan ayam, dan debu lainnya di bagian sisi timur kandang.
Hal ini dilatarbelakangi pada 2017,  M.G. Waldbaum Company sebagai anak perusahaan Michael Foods, menggunakan Henning sebagai kontraktor pembangunan kandang dan fasilitas pendukung proyek di pedesaan Bloomfield, Nebraska. M.G. Factory Mutual yakin Perusahaan Henning melanggar perjanjian dengan Waldbaum terkait desain, konstruksi, pemilihan, penggunaan, dan pemasangan kipas penyedot kotoran/blower. Selain itu, terdakwa Henning dan subkontraktor juga menciptakan kondisi yang memungkinkan api menyebar dengan cepat, kata Berglund dalam gugatan tersebut. Hingga 27 Desember 2022, Henning belum menanggapi gugatan tersebut.
Kondisi di Indonesia
Kandang berisi belasan ribu ekor ayam di Banjar Susut Kelod, Desa Susut, ludes terbakar Selasa (6/12) malam, demikian Bali Post menurunkan beritanya pada tanggal 7 Desember 2022. Apa yang bisa kita petik dari peristiwa tersebut? Tentu saja perlunya kewaspadaan dan kehati-hatian terhadap proses rangkaian budi daya di farm, terlebih lagi perlunya audit secara berkala dari pemilik kandang atau operator terlatih dan mengetahui secara pasti kondisi kesiapan kandang beserta peralatan pendukungnya.
Tabel 1. Kejadian Kebakaran Kandang di Indonesia
Kejadian
Sumber Berita
Keterangan
Lokasi
6 Desember 2022
Bali Post
15.000 ekor
Bali
20 November 2022
Detik Jatim
7.000  ekor
Blitar
8 November 2022
Solo Pos
12.000 ekor
Wonogiri
4 November 2022
Detik Jatim
33.000 Ekor
Ponorogo
02 November 2022
Detik Jatim
Selesai Panen
Pasuruan
01 Agustus 2022
Detik Jatim
Akan Chick in
Blitar
22 Juli 2022
Kompas.com
40.000 ekor
Tuban
21 April 2022
Detik Jatim
8.500 ekor
Kulon Progo
28 Januari 2022
Detik Jatim
12.000 ekor
Blitar
Sumber : Berbagai media
Terlepas daripada musibah yang menimpa sebuah kebakaran, faktor-faktor penyebab kebakaran dapat dikategorikan karena kesalahan manusia dan faktor peralatan yang dipakai, meliputi bahan pemanas, dan instalasi listrik serta kontruksi kandang. Kesalahan manusia atau operator lebih pada kekurang hati-hatian dalam menggunakan peralatan pemanas pada masa brooding. Sumber pemanas pada masa brooding bisa berasal dari serbuk kayu, kayu bakar, batu bara, minyak tanah/solar atau Gas LPG.
Peternak sering mengabaikan sumber pemanas di masa brooding, karena pada intinya sumber pemanas diupayakan seefisien mungkin dari sumber pemanas sehingga biaya akan dapat ditekan, tetapi dampak yang ditimbulkan dari salah memilih bahan pemanas akan berdampak pada terjadinya kejadian kebakaran. Sebagai contoh, sumber pemanas serbuk gergaji dan kayu serta batu bara tidak ada standar bentuk maupun bahan yang digunakan untuk tempat pembakaran, pada umumnya bahan yang digunakan bisa modifikasi dari tong bekas dibelah menjadi dua atau dari kaleng bekas cat.
Kalaupun ada dari aluminium dibuat secara khusus untuk batu bara biasanya juga tidak ada standar ketebalan aluminium yang digunakan serta standar alas yang dipakai.  Kita sangat memaklumi, biasanya bentuk kandang peternakan UMKM bangunannya berbentuk panggung dengan lantai dari bambu yang sangat mudah terbakar. Apabila pembakaran pada suhu tertinggi, kontrol brooding boleh tidak dilakukan oleh operator kandang.
Perlunya Insinyur Peternakan 
Untuk menyelesaikan persoalan seperti contoh kejadian di atas diperlukan profesi insinyur peternakan yang memiliki kompetensi di bidang perunggasan khususnya mulai dari perencanaan pembangunan kandang sampai keamanan hasil akhir produk yang dihasilkan dari proses budi daya broiler maupun layer. Profesi insinyur merupakan sebuah tuntutan atas lahirnya Undang-undang nomor 11 tahun 2014, tentang keinsinyuran dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2019 sebagai turunannya. Berdasarkan Undang-undang tersebut, insinyur ditetapkan sebagai gelar profesi, bukan gelar akademik dengan memiliki 3 tingkatan keahlian, yakni Insinyur Profesional Pratama (IPP), Insinyur Profesional Madya (IPM) dan Insinyur Profesional Utama (IPU).
Apa saja ruang lingkup yang menjadi kewenangan dari profesi insinyur ini tentu saja meliputi teknik pembenihan, pembibitan, dan produksi ternak, teknik pakan, teknik budi daya ternak, teknik peralatan dan permesinan peternakan, serta teknik pemanenan dan pengolahan pascapanen. Dengan melihat kewenangan-kewenangan tersebut di atas ke depan pemangku kebijakan yang membidangi peternakan sudah selayaknya harus mengambil profesi insinyur meskipun sudah memiliki gelar akademik dari S1 maupun S3. 
Bagaimana dengan perusahaan peternakan? Tim HRD sudah selayaknya memberikan apresiasi untuk bidang-bidang khusus pada level pimpinan di unit usaha. Sudah seharusnya pada posisi tersebut memiliki gelar profesi Insinyur karena dilindungi oleh undang-undang. Tenaga ahli formulasi pakan, pembibitan serta rancang bangun kandang, peralatan sudah selayaknya harus mengacu pada kewenangan yang dimiliki oleh seseorang yang memiliki gelar Insinyur sehingga apabila muncul persoalan di kemudian hari maka dapat dipertanggungjawabkan secara keprofesiannya. *Staf ahli PI dan pemerhati bidang Perunggasan
Artikel ini merupakan rubrik Sudut Kandang pada majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com