Teguh, sapaan akrab Teguh Sudaryatno, mengatakan bahwa sejak kecil dirinya memang sudah dekat dengan dunia peternakan. Pria berdarah jawa ini lahir di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, 8 september 1970. Pendidikan tingginya ia selesaikan di Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto dan Universitas Muhammadiyah Malang. Sebagai lulusan peternakan, Teguh memang memiliki keterampilan yang baik mengenai budi daya peternakan ayam ras khususnya broiler, selain juga karena saat kecil ayahnya memiliki ayam ras yang jumlahnya sekitar 500 ekor.
Usianya kala itu belum genap 30 tahun, akan tetapi keberaniannya dalam memulai usaha budi daya broiler hingga mencapai puluhan ribu ekor membuatnya menjadi peternak muda yang cukup dikenal di kalangan peternak senior di Cianjur.
Selepas lulus kuliah pada tahun 1995, ia sempat bekerja di peternakan broiler, namun hanya bertahan sekitar 3 bulan. Tak lama dari itu, pada awal tahun 1996, dirinya kemudian bekerja sebagai Technical Services di PT Mensana Aneka Satwa dan ditempatkan untuk wilayah kerja Tasikmalaya dan Ciamis, Jawa Barat.
Bekerja sebagai TS obat ternak menjadikannya banyak mengenal seluk beluk bisnis budi daya ayam ras beserta mata rantai niaganya. Setelah kurang lebih 1,5 tahun bekerja di wilayah Tasikmalaya-Ciamis, ia dipindahkan ke wilayah kerja Cianjur dengan status naik jabatan menjadi Supervisor Technical Services. Sejak di Cianjur inilah nasibnya berubah menjadi jauh lebih sejahtera dan kesuksesan berpihak padanya. Teguh mengaku, ia banyak mendapatkan peternak pelanggan yang sangat mendukung dirinya untuk terjun dalam usaha budi daya broiler mandiri.
Seperti sudah menjadi jalan takdir, Teguh yang awalnya sudah tidak bermimpi untuk menjadi peternak, sejak bekerja di Cianjur, panggilan hati untuk memulai beternak justru menyeruak. Seperti gayung bersambut, berawal dari sekadar obrolan bersama rekan kerjanya mengenai kondisi bisnis budi daya broiler, rekannya tersebut kemudian mengajaknya beternak menggunakan sistem makloon.
Kondisi bisnis perunggasan pada tahun 1999 bisa dibilang masih belum stabil akibat krisis moneter. Banyak peternak maupun perusahaan tidak berani mengisi semua kandang karena daya beli masyarakat di tanah air belum sepenuhnya membaik. Bermodalkan uang tabungan hasil bekerjanya selama 3 tahun, dengan kondisi bisnis perunggasan yang seperti itu, ia justru nekad untuk terjun beternak.
Teguh hanya berpikir bahwa jika saat itu kandang-kandang banyak yang kosong, artinya ayam di pasaran pasti sedikit. Kesempatan itu yang ia manfaatkan dengan baik walaupun sebenarnya risiko potensi ayam tidak laku juga sebenarnya ada. Sejak saat itu mental berusahanya semakin meningkat. Bagaimana tidak, gaji bekerjanya yang saat itu hanya 900 ribu rupiah per bulan, sangat jauh berbeda dengan hasil usahanya dalam beternak. Teguh semakin percaya diri untuk menambah populasi ayamnya.
Teguh juga banyak dikenal di kalangan peternak. Selain aktif di Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), ia juga aktif sebagai salah satu Pengurus Besar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (PB ISPI). Ia berpesan kepada generasi muda yang ingin berwirausaha, bahwa dunia bisnis itu tidak semata-mata harus bermodalkan uang, justru yang paling utama adalah jaringan dan kepercayaan (nama baik). Farid
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Desember 2019 dengan judul “Teguh Sudaryatno, Sukses Beternak Sejak Muda”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153
Menyukai ini:
Suka Memuat...