Fowl Adenovirus (FAdV) merupakan jenis virus yang dapat menimbulkan berbagai penyakit pada unggas, diantaranya Hydropericardium Syndrome (HHS), infeksi saluran pernapasan pada ayam, bronkitis pada puyuh, Inclusion Body Hepatitis (IBH), dan Adenoviral Gizzard Erosion (AGE). Secara penggolongan serotipe, IBH termasuk kedalam serotipe FAdV-2, FAdV-11 (spesies Fowl aviadenovirus D) dan FAdV-8a dan FAdV-8b (spesies Fowl aviadenovirus E), sementara HHS termasuk FAdV-4, serta AGE termasuk dalam FAdV-1 (Kumar et al., 2013; Schachner et al., 2018; Wibowo et al., 2019; Silaen et al., 2020). 

Inclusion Body Hepatitis merupakan salah satu penyakit yang ditimbulkan oleh FAdV dan menjadi penyakit prioritas pada berbagai negara karena menimbulkan kematian yang sangat cepat dan kerugian ekonomi yang cukup tinggi

Inclusion Body Hepatitis telah menjangkit unggas di seluruh dunia dan dapat menimbulkan kematian secara tiba-tiba selama dua dekade terakhir ini. Inclusion Body Hepatitis telah menjadi ancaman serius bagi beberapa negara seperti Cina, India, Korea, Kanada, Amerika Serikat, Jepang, Pakistan, dan Hungaria karena menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat tinggi. Spesies unggas yang dapat terjangkit Aviadenovirus diantaranya ayam, angsa, itik, dan kalkun (Silaen et al., 2020). Infeksi Adenovirus tersebar luas pada unggas yang diternakan secara komersial dan memiliki rentang virulensi yang luas. Jenis ayam yang banyak terjangkit Adenovirus di berbagai negara yaitu broiler, walaupun layer dan breeder juga dapat terjangkit Adenovirus (Chandra et al., 2000; Wibowo et al., 2019). 
 Unggas yang mati akibat IBH menunjukan kerusakan yang masif pada hati. Secara anatomis, hati dari ayam yang positif terinfeksi IBH menunjukan pembesaran, rapuh, serta terdapat spot-spot petekie. Perbesaran pada hati ditandai dengan tepi hati yang terlihat tumpul (Mirzazadeh et al., 2020). Temuan lainnya menunjukan adanya eksudat fibrinosa pada hati (Mitra et al., 1996). Perubahan hati yang terlihat secara mikroskopis yaitu nekrotik hepatitis dan ditemukannya badan inklusi intraseluler basofilik dan eosinofilik pada hepatosit (Kumar et al., 2013). 
Inclusion Body Hepatitis menyebabkan kematian sekitar 2–11% dan morbiditas 80% umumnya pada ayam umur 1–7 minggu, namun kasus outbreak kematian sebesar 30% juga pernah dilaporkan pada ayam umur 10 minggu (Hess, 2013; Kumar et al., 2013; Schachner et al., 2018; Mirzazadeh et al., 2020). Kematian yang tajam dalam waktu singkat dapat dikaitkan dengan terganggunya metabolisme akibat adanya badan inklusi adenovirus di hati, pankreas, dan usus. Broiler akan mengalami hipoglikemia, metabolik asidosis, dan hipokalsemia (Goodwin et al., 1993; Venne dan Chorfi, 2012; Schachner et al., 2018).
Berbicara mengenai patogenisitas jenis FAdV, jika dibandingkan dengan HHS, IBH memiliki patogenisitas yang lebih rendah dibandingkan HHS. Walaupun secara gejala klinis IBH dan HHS memiliki kemiripan (Schachner et al., 2018). Ayam yang terinfeksi IBH menunjukan gejala klinis berupa menurunnya laju pertumbuhan, penurunan nafsu makan, anemia, depresi, lemas, bulu yang kusam dan tidak beraturan, serta diare dengan warna feses kekuningan atau kehijauan atau keputihan. Gejala klinis tersebut umumnya timbul sangat cepat. Periode waktu inkubasi IBH yaitu 1–2 hari, sementara lesio pada hati akan timbul 1–2 hari setelah infeksi (Steer et al., 2015). 
Secara patologis, selain mengalami perubahan pada hati, ayam yang terinfeksi IBH juga mengalami perubahan pada ginjal, pankreas, usus, bursa Fabricius, limpa, gizzard, dan otot. Ginjal mengalami pembesaran dan spot-spot petekie maupun adanya penumpukan asam urat (Wibowo et al., 2019; Mirzazadeh et al., 2020). Pankreas mengalami perubahan warna, atrofi, petekie, dan nekrosis (Grimes et al., 1978; Schachner et al., 2018). Hemoragi terjadi pada berbagai organ seperti limpa, usus, otot, gizzard, dan bursa Fabricius (Wibowo et al., 2019).

 

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada majalah Poultry Indonesia edisi April 2024. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi April 2024, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com