Oleh: Prof. Ir. Burhanudin Sundu, M.Sc.Ag., Ph.D*
Produksi bungkil inti sawit (BIS) dunia equivalent dengan produksi minyak inti sawit. Dengan produksi BIS dunia sebesar 8.8 juta ton di tahun 2019, Indonesia menyumbang lebih dari 50% produksi BIS, atau sekitar 5 juta ton BIS di tahun 2019 (FAO, 2019). Dengan kondisi ketahanan pakan nasional yang labil, dimana sebagian besar bahan pakan sumber protein unggas masih import, optimalisasi penggunaan bahan pakan limbah inti sawit ini menjadi penting untuk terus diteriakkan.
Kombinasi teknologi biokonversi dan pre-treatment enzimatik hadir untuk merespon rendahnya kualitas bungkil inti sawit dengan cara meningkatkan nilai kecernaan dan kandungan protein.
Hal ini dikarenakan BIS memenuhi syarat untuk dijadikan bahan pakan utama dalam ransum unggas di Indonesia. Ketersediaanya yang melimpah tanpa bergantung musim, kandungan nutrisinya yang relatif baik dan tidak terdapatnya zat anti-nutrisi menyebabkan bahan pakan ini mesti didorong untuk digunakan dalam pakan unggas dengan konsentrasi yang lebih besar.
Besarnya variasi kualitas BIS yang diproduksi di Indonesia menghambat industri feedmill untuk menggunakan bahan pakan ini dalam jumlah besar pada pakan unggas komersial. Variasi kualitas ini diakibatkan karena kontaminasi cangkang yang belum terstandar. Tingginya kandungan serat baik berupa selulosa maupun beta mannan dapat menurunkan kecernaan bahan pakan ini. Hal ini dapat berimplikasi pada rendahnya kualitas bahan pakan ini.
Untuk itu, upaya awal untuk mengurangi variasi kualitas dapat dilakukan dengan pemisahan cangkang secara sederhana melalui pengayakan. Hal ini akan menghasilkan dua kualitas BIS. Pertama, BIS dengan cangkang minimal yang dapat digunakan untuk ternak unggas. Kedua, BIS dengan kandungan cangkang tinggi untuk ternak ruminansia. Kondisi ini telah penulis lakukan di kandang penelitian dengan hasil yang cukup baik.
Upaya untuk meningkatkan kualitas BIS dan mengoptimalkan penggunaannya untuk ternak unggas telah banyak dilakukan oleh peneliti di Indonesia. Beberapa teknologi yang sering digunakan adalah dengan teknologi biokonversi dan teknologi penambahan enzim. Namun, penulis melihat bahwa teknologi biokonversi melalui fermentasi lebih diarahkan untuk meningkatkan kecernaan yang berimpit fungsinya dengan teknologi penambahan enzim. Hal ini dikarenakan dua teknologi tersebut sering digunakan secara terpisah karena memiliki tujuan yang hampir sama.
Lebih lanjut, penulis telah mengaplikasikan dua teknologi ini dalam satu paket teknologi. Dimana, penulis telah menggeser tujuan teknologi biokonversi dari hanya sekedar meningkatkan kecernaan menjadi meningkatkan kandungan protein. Peningkatan kecernaan dapat dilakukan dengan penggunaan enzim. Teknologi ini disebut teknologi “kombinasi biokonversi dan hidrolisis enzimatik”.
Teknologi Biokonversi dalam meningkatkan kandungan protein
Mikroba memiliki kemampuan dalam mengubah nitrogen anorganik menjadi organik. Pemberian nitrogen urea pada ternak ruminansia menjadi protein mikroba dalam rumen yang bermanfaat bagi ternak mengindikasikan bahwa kemampuan mikroba ini adalah fakta empiris yang dapat ditiru. Karena itu, teknologi biokonversi ini sejatinya dilakukan dengan menambahkan lebih banyak nitrogen dalam media fermentasi, agar dapat terkonversi menjadi protein. Pada akhirnya, hal ini dapat meningkatkan kandungan protein bahan pakan.
Dalam penelitiannya, penulis melakukan penambahan nitrogen dalam bentuk amonium sulfat pada media BIS sebelum difermentasi (BISF) dengan ragi. Hasilnya, penambahan amonium sulfat dapat meningkatkan kandungan protein dan asam amino. Peningkatan kandungan asam amino ini menggambarkan bahwa perubahan nitrogen menjadi protein murni benar–benar terjadi dengan melibatkan peran ragi (lihat Tabel 1). Peningkatan kandungan protein ini berkorelasi dengan peningkatan penambahan konsentrasi amonium sulfat pada BIS sebelum difermentasi.
Tabel 1. Peningkatan kandungan protein dan asam amino pada bungkil inti sawit fermentasi (BISF) yang ditambahkan dengan ammonium sulfat (AS) sebelum difermentasi dengan ragi.
Nutrisi
|
BIS (%)
|
Peningkatan Konsentrasi kandungan protein (%)
|
|
|
BISF + 3% AS
|
BISF + 6% AS
|
Protein
|
12.7
|
63.0
|
77.2
|
Total asam amino
|
11.7
|
10.3
|
11.1
|
Metionin
|
0.85
|
15.3
|
2.4
|
Lisin
|
0.38
|
18.4
|
50.0
|
Arginin
|
1.42
|
-27.5
|
0.70
|
Triptofan
|
0.09
|
18.2
|
0
|
Leusin
|
0.94
|
23.4
|
-9.6
|
Isoleusin
|
0.52
|
26.9
|
0
|
Valin
|
0.76
|
17.1
|
-6.6
|
Treonin
|
0.47
|
44.7
|
-10.6
|
Histidin
|
0.27
|
29.6
|
0
|
Fenilalanin
|
0.66
|
8.0
|
12.1
|
Penambahan amonium sulfat pada BIS dapat meningkatkan kandungan protein sebesar 63-77%. Akan tetapi peningkatan konsentrasi total asam amino akibat dari penambahan ammonium sulfat hanya berkisar 10–11%. Ini mengindikasikan bahwa tidak semua nitrogen dalam amonium sulfat terkonversi menjadi asam amino atau protein ragi. Temuan ini juga mengindikasikan bahwa penambahan 3% ammonium sulfat sebelum fermentasi menghasilkan lebih banyak asam amino esensial (Tabel 1), ketimbang penambahan 6% ammonium sulfat dalam media BIS sebelum difermentasi.
Aplikasi penggunaan enzim melalui metode pre-treatment
Penggunaan enzim melalui penambahan langsung pada ransum saat pencampuran pakan telah menjadi metode umum dalam formulasi pakan ternak. Walaupun metode ini memiliki keunggulan dalam hal kepraktisannya, tapi metode aplikasi enzim semacam ini memiliki banyak kelemahan. Problem pertama adalah adanya kemungkinan penurunan aktivitas enzim akibat dari proses pencampuran pakan, proses pelleting, distribusi pakan dan penyimpanan pakan. Kemudian, kerusakan aktivitas enzim itu dapat diakibatkan karena proses panas yang ditimbulkan dari pencampuran, pelleting dan transportasi. Oleh karena itu, boleh jadi ketika pakan tersebut diberikan ke ternak, maka manfaat optimal dari penggunaan enzim tidak dapat diperoleh.
Di laboratorium, teknologi pre-teatment enzimatik sedang dikembangkan untuk meminimalkan rusaknya aktivitas enzim pada pakan. Teknologi pre-treatment enzimatik ini sebenarnya sudah umum dilakukan pada pembuatan tepung bulu untuk meningkatkan kualitas tepung bulu, sehingga dihasilkan tepung bulu yang lebih baik. Dimana teknologi pre-treatment enzimatik ini juga dapat diaplikasikan pada BIS untuk menghasilkan BIS yang berkualitas.
Proses pre-treatment ini dilakukan dengan mengatur kelembapan, pH dan temperatur selama proses hidrolisis. Keberhasilan teknologi ini akan meminimalkan kerusakan aktivitas enzim pada pakan, baik saat pencampuran, pelleting maupun penyimpanan. Hal ini karena enzim telah bekerja sebelum enzim dicampur dengan bahan pakan. Kerusakan aktivitas enzim secara proses pre-treatment baik karena pencampuran pakan atau pelleting menjadi tidak bermasalah.
Komponen serat terbesar pada bungkil inti sawit adalah beta mannan. Untuk itu, penggunaan enzim penghancur beta mannan menjadi sebuah solusi dalam penerapan teknologi pre-treatment enzimatik ini. Uji biologis dari teknologi pre-treatment enzimatik telah kami lakukan pada unggas dengan mengamati kecernaan beberapa nutrisi dan energi metabolis. Hasil yang diperoleh adalah teknologi ini dapat meningkatkan kecernaan dan energi metabolis bungkil inti sawit (lihat Tabel 2). Penggunaan enzim mannanase dalam menghidrolis bungkil inti sawit cenderung lebih baik dibandingkan dengan multi enzim dalam perlakuan teknologi kombinasi biokonversi dan pre-treatment enzimatik.
Tabel 2. Kecernaan nutrisi BIS setelah proses pre-treatment enzimatik dengan beberapa enzim.
Kecernaan nutrisi
|
BIS (%)
|
BISF (%)
|
BISF + mannanase (%)
|
BISF+multi-enzim (%)
|
Kecernaan bahan kering (%)
|
55.9
|
61.8
|
70.9
|
70.0
|
Kecernaan protein
|
41.0
|
52.6
|
65.4
|
60.5
|
Kecernaan Serat kasar
|
10.1
|
14.6
|
19.6
|
18.3
|
Energi metabolis (Kkal/kg)
|
1411
|
1720
|
2530
|
2177
|
Kecernaan asam amino
|
78.9
|
81.4
|
82.4
|
81.9
|
Melihat potensi keberhasilan dari kombinasi teknologi biokonversi dan pre-treatment enzimatik dalam meningkatkan kualitas BIS atau bahan pakan yang berkualitas rendah, maka aplikasi teknologi ini dapat dijadikan alternatif dalam mengoptimalkan potensi bahan pakan yang tersedia melimpah di Indonesia. Ruang besar dalam menyempurnakan teknologi ini masih terbuka lebar baik dari aspek biokonversinya (jenis mikroba, lama dan kondisi fermentasi, serta sumber nitrogen yang ditambahkan) maupun aspek pre-treatment-nya (jenis enzim dan kondisi proses hidrolisisnya).
Di atas segalanya, upaya mengoptimalkan penggunaan bahan pakan lokal untuk ransum unggas juga mesti dipikirkan bersama. Jika tidak, bayang–bayang kasus tahun 1998 ketika bangsa kita didera masalah melemahnya kurs rupiah terhadap dolar yang menyebabkan semua bahan pakan impor melangit, dapat terulang kembali. Dampak saat itu sangat parah, dimana industri perunggasan nasional mengalami kebangkrutan di semua level usaha. *Guru Besar Fakultas Peternakan dan Perikanan, Universitas Tadulako, Palu
Tulisan ini merupakan potongan dari artikel rubrik Riset majalah Poultry Indonesia edisi Juli 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153
Menyukai ini:
Suka Memuat...