Pemeliharaan ayam broiler di berbagai belahan dunia, terutama di kawasan yang mengalami suhu panas ekstrem, seringkali dihadapkan pada tantangan yang signifikan. Salah satu masalah terbesar dalam industri ini adalah stres panas yang berdampak negatif terhadap kesehatan dan produktivitas unggas. 
Tantangan Pemeliharaan Ayam di Musim Panas
Seiring dengan perubahan iklim yang menyebabkan peningkatan suhu global, ayam broiler semakin rentan terhadap kondisi panas. Stres panas yang dialami oleh ayam dapat mengganggu fungsi tubuhnya, mengakibatkan penurunan nafsu makan, pertumbuhan yang terhambat, serta peningkatan angka kematian. Selain itu, stres panas memicu pelepasan hormon stres seperti kortikosteron, yang dalam jumlah besar dapat merusak kesehatan unggas secara keseluruhan. Karena itu, banyak peternak di berbagai negara, termasuk Indonesia, mulai mencari solusi alternatif untuk mengurangi dampak buruk dari suhu tinggi ini terhadap ayam mereka. Penelitian oleh Iwona Skomorucha dan Ewa Sosnówka-Czajka mengamati bagaimana teknologi pemeliharaan yang berbeda dapat mempengaruhi kinerja produksi, parameter darah, dan tingkat kesejahteraan ayam broiler selama musim panas.
Beberapa pendekatan yang mulai dilirik termasuk perubahan sistem pemeliharaan, seperti memberikan akses ke area luar (free-range) dan pemberian suplemen pakan herbal. Sistem pemeliharaan yang memberi ayam kebebasan bergerak di area luar diharapkan dapat memberikan keuntungan berupa kondisi lingkungan yang lebih sejuk dan alami. Di sisi lain, suplemen herbal diketahui memiliki sifat antioksidan dan anti-stres, yang diyakini dapat membantu ayam menghadapi tantangan lingkungan yang keras. Penelitian ini menguji kedua metode tersebut secara bersamaan, dengan fokus pada dampak sistem pemeliharaan dan suplemen herbal terhadap kesejahteraan ayam broiler.
Desain penelitian
Penelitian ini melibatkan 600 ekor ayam broiler Ross 308 yang dibagi menjadi tiga kelompok pemeliharaan, masing-masing terdiri dari 200 ekor ayam. Kelompok pertama (CON) dipelihara secara konvensional di dalam kandang dengan alas litter tanpa akses ke luar. Kelompok kedua (HE) dipelihara dengan metode serupa, namun diberi suplemen herbal berupa campuran lemon balm (Melissa officinalis) dan jelatang (Urtica dioica) yang ditambahkan ke dalam air minum ayam. Campuran ini diberikan sebanyak 2 ml/liter air minum pada hari ke-22 hingga hari ke-42 siklus pemeliharaan. Kelompok ketiga (AP) dipelihara dengan akses ke area luar (free-range) sejak hari pertama tanpa suplemen herbal.
Suplemen herbal yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua tanaman yang dikenal memiliki sifat antioksidan yang kuat. Lemon balm dan jelatang adalah tanaman yang umum digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengatasi stres dan memiliki efek menenangkan. Selain itu, kandungan antioksidan dalam kedua tanaman ini diyakini mampu melindungi tubuh ayam dari kerusakan oksidatif akibat paparan suhu tinggi.
Selama penelitian, berbagai parameter dipantau, termasuk berat badan ayam, konsumsi pakan, konversi pakan, dan tingkat kematian. Para peneliti juga memeriksa suhu tubuh ayam, menganalisis kadar hormon stres seperti kortikosteron dalam darah, serta mengukur rasio heterofil terhadap limfosit (H) yang merupakan indikator stres pada unggas.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Riset pada majalah Poultry Indonesia edisi Oktober 2024. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Oktober 2024, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com