Dengan kandungan gizi yang lengkap dan daya serap yang baik, telur menjadi bahan pangan yang dapat membentuk generasi Indonesia yang lebih sehat dan cerdas.
Telur adalah salah satu bahan pangan yang paling akrab dalam kehidupan sehari-hari. Dari meja makan rumah sederhana hingga dapur hotel berbintang, kehadirannya selalu mudah ditemukan. Bentuknya sederhana, harganya terjangkau, dan cara pengolahannya pun sangat praktis. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan kekuatan besar untuk mendukung kesehatan dan kecerdasan manusia.
Dalam konteks ketahanan pangan dan gizi nasional, telur sering disebut sebagai kapsul gizi alami. Istilah ini bukan sekadar kiasan, melainkan mencerminkan kenyataan ilmiah bahwa hampir seluruh zat gizi penting yang dibutuhkan tubuh manusia terdapat di dalam telur. Protein berkualitas tinggi, asam lemak esensial, berbagai vitamin dan mineral, hingga senyawa bioaktif, semuanya terkemas dalam satu bentuk sederhana.
Zat gizi yang terkandung di dalam telur tidak hanya lengkap, tetapi juga memiliki tingkat keterserapan yang tinggi, atau disebut dengan bioavailabilitas. Hal ini berarti, tubuh manusia mampu menyerap dan memanfaatkan nutrien dari telur dengan sangat efisien, menjadikannya salah satu sumber protein hewani paling unggul yang dikenal sains.
Namun, fakta menarik yang muncul memperlihatkan bahwa konsumsi telur di kalangan anak-anak dan wanita usia subur di negara berkembang masih tergolong rendah. Padahal, kelompok inilah yang paling membutuhkan asupan pangan sumber protein hewani berkualitas untuk mendukung pertumbuhan, perkembangan otak, dan daya tahan tubuh. Di Indonesia, peningkatan konsumsi telur secara merata di seluruh lapisan masyarakat sebenarnya bisa menjadi strategi sederhana namun berdampak besar dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia.
Di tengah upaya besar menuju Indonesia Emas 2045, telur sesungguhnya dapat menjadi bahan pangan strategis untuk memperkuat fondasi gizi dan kecerdasan bangsa. Pasalnya, kualitas sumber daya manusia yang unggul tidak hanya ditentukan oleh pendidikan dan ekonomi, melainkan juga oleh kualitas gizi. Di Indonesia, masih terdapat tiga tantangan besar yang sering disebut sebagai triple burden of malnutrition, yakni stunting akibat kekurangan gizi kronis, penyakit tidak menular yang muncul karena kelebihan gizi, serta kekurangan zat gizi mikro seperti zat besi, yodium, dan seng.
Ketiganya saling berkaitan dan berpotensi menghambat produktivitas generasi muda. Dari ketiga tantangan tersebut, stunting menempati posisi paling mengkhawatirkan karena berhubungan langsung dengan perkembangan otak dan kemampuan kognitif anak. Anak yang mengalami stunting umumnya memiliki tinggi badan di bawah rata-rata untuk usianya, tetapi dampak sebenarnya jauh lebih kompleks. Mereka cenderung memiliki kecerdasan di bawah normal, rentan terhadap penyakit, serta memiliki daya saing yang rendah ketika memasuki usia produktif.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Pasca Panen pada majalah Poultry Indonesia edisi November 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi November 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754 atau sirkulasipoultry@gmail.com










