Oleh : drh Eti Marlina*
Telur omega adalah telur dengan kandungan omega-3 terstandar yang dihasilkan melalui pemeliharaan dan formulasi pakan khusus, bukan sekadar telur dengan kuning yang lebih pekat warnanya.
Beberapa tahun terakhir, istilah telur omega semakin sering muncul dalam percakapan masyarakat, terutama mereka yang mulai peduli pada kesehatan dan nutrisi keluarga. Produk ini banyak diasosiasikan dengan manfaat bagi perkembangan otak, kesehatan jantung, serta pencegahan penyakit degeneratif. Namun, seiring meningkatnya popularitasnya, juga bermunculan produk yang hanya menempelkan label tanpa fondasi nutrisi yang benar. Situasi ini menuntut pemahaman yang lebih baik agar masyarakat dapat membedakan antara telur omega asli dan produk yang hanya mirip secara tampilan.
Telur omega pada dasarnya merupakan telur yang diperkaya asam lemak omega-3 melalui pemberian pakan khusus berbahan alami. Kandungan omega-3 ini tidak hadir secara kebetulan, melainkan melalui proses pemeliharaan unggas yang terencana. Ayam ditempatkan dalam kelompok tertentu yang memperoleh pakan dengan komposisi nutrien tambahan berupa biji-bijian dan bahan tanaman yang kaya omega-3. Proses ini tentu membutuhkan ketelitian, formulasi gizi yang tepat, serta pendampingan ahli agar konsentrasi omega-3 dalam telur tetap konsisten dan sesuai standar yang diharapkan.
Pengembangan telur omega tidak hanya bertujuan menciptakan produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi, tetapi juga membawa misi sosial yang lebih besar. Ketersediaan pangan fungsional yang mendukung kecerdasan dan kesehatan masyarakat menjadi bagian dari upaya jangka panjang menuju visi Indonesia Emas 2045. Telur omega dipandang sebagai salah satu kontribusi sektor peternakan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, mengingat omega-3 berperan penting dalam perkembangan otak serta membantu menjaga kesehatan jantung dan sistem saraf. Di tengah meningkatnya angka kasus kolesterol, penyakit jantung, dan gangguan metabolik di masyarakat, pilihan protein hewani bernutrisi tinggi seperti telur omega menjadi semakin relevan.
Jika dilihat dari teknis produksi, telur omega tidak identik dengan telur berwarna kuning pekat. Warna kuning yang intens pada beberapa telur biasanya berasal dari pigmen alami seperti cantaxanthin, yang sesungguhnya memiliki fungsi berbeda, terutama untuk kesehatan kulit dan mata ayam. Penggunaan pigmen tersebut lebih bertujuan menghasilkan visual kuning telur yang menarik, bukan menambah kandungan omega-3. Karena itu, asumsi bahwa semua telur berwarna jingga pekat adalah telur omega merupakan kesalahpahaman umum di masyarakat. Telur omega sejati dibedakan berdasarkan kandungan nutrisinya, bukan tampilannya.
Agar konsumen tidak salah memilih, ada beberapa hal yang dapat diperhatikan. Telur omega yang kredibel biasanya berasal dari peternakan yang telah memiliki Nomor Kontrol Veteriner (NKV), sebuah sertifikasi pemerintah yang menjamin pengelolaan peternakan sesuai standar keamanan pangan dan biosekuriti. Selain itu, produsen telur omega yang serius menjalankan proses penguatan nutrisi akan memiliki hasil pengujian laboratorium berkala dari laboratorium terakreditasi. Data hasil uji ini menjadi bukti ilmiah bahwa produk benar-benar mengandung omega-3 sesuai standar, bukan sekadar klaim pemasaran.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Opini pada majalah Poultry Indonesia edisi November 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi November 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754 atau sirkulasipoultry@gmail.com











