Dari seluruh organisme yang ada di bumi, jumlah serangga hampir setengahnya dan dapat ditemukan dimana-mana. Sebagian besar serangga memang bersifat menguntungkan, yang merugikan hanya sekitar 2% karena berkompetisi dengan kepentingan manusia. Oleh karena itu, karena merugikan harus dilakukan pengendalian agar dampak negatif yang ditimbulkan dapat ditekan. Hal penting dalam pengendalian hama untuk menerapkan program sanitasi yang baik dan pemilihan pestisida/insektisida yang tepat.
Penggunaan pestisida untuk mengendalikan hama tentunya tetap memilki efek negatif. Oleh karena itu, Envu Indonesia menyelenggarakan seminar dan peluncuran produk untuk memberikan update informasi terkait pengendalian hama yang benar dan efektif. Seminar yang bertajuk “Templar, Pestisida Peternakan Pertama dengan Kombinasi 2 Bahan Aktif – Meningkatkan Produktivitas Ternak dengan Efektif dan Berwawasan Lingkungan” diselenggarakan oleh Envu Indonesia bekerjasama dengan PT. SHS International sebagai distributor di Le Eminence Puncak Hotel Convention & Resort Cianjur, pada Rabu, 9 Agustus 2023.
Menurut drh. Nining Indiarti, Area Coordinator Jakarta – PT SHS International dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih kepada Envu Indonesia yang telah berkolaborasi dengan PT SHS Internasional sebagai distributor produk dari Envu Indonesia. Selain itu, ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga disampaikan kepada para peserta seminar yang telah hadir.
“Dalam seminar dan peluncuran produk ini Envu Indonesia dan PT SHS International menghadirkan 2 pembicara ahli yakni Prof. Intan Ahmad yang akan membahas mengenai bioekologi hama di lingkungan peternakan ayam dan pengendaliannya serta Didi Suwandi yang akan menjelaskan mengenai pestisida dan manajemen resistensi yang tentunya akan sangat bermanfaat bagi peserta seminar untuk diaplikasikan di kandangnya,” papar Nining.
Sementara itu, Didi Suwandi, PPM Commercial Manager – Envu Indonesia menyampaikan 3 hal yang menjadi tujuan penyelenggaraan seminar dan peluncuran produk baru hari ini, yang pertama adalah mengenalkan siapa Envu Indonesia. Dari sisi portpolio produk yang dipasarkan, Envu Indonesia sebetulnya bukan pemain baru di industri pestisida.
“Pada Februari 2021, Bayer mengumumkan bahwa Bayer akan mendivestasikan Enviromental Science (ES) yang merupakan salah satu sub unit bisnisnya secara global dengan memproduksi dan memasarkan pestisida untuk lingkungan urban (perumahan, pabrik dan lainnya). Kemudian Maret 2022, Bayer secara resmi menandatangani kerjasama dengan Cinven yang merupakan investor dari UK untuk pembelian sub unit bisnis ES. Pada Oktober 2022 secara resmi divisi Enviromental Science menjadi independent company dengan entitas baru bernama Envu, sehingga Envu inilah yang secara global merupakan transformasi dari Bayer Enviromental Science. Di Indonesia sendiri secara legalitas bernama PT Discovery Environmental Science Indonesia (DESI) dengan brand Envu Indonesia yang tetap berfokus pada environmental. Pada November 2022, kami menyelesaikan transfer registrasi semua produk dan Juni 2023 mulai melakukan launching packaging baru produk-produk dengan brand Envu,” papar Didi.
Didi memaparkan lebih lanjut bahwa tujuan yang kedua, saya yakin beberapa produk kita sudah digunakan oleh para peternak, namun pada tahun ini kami memberikan solusi produk baru untuk segmen peternakan dengan meluncurkan produk Templar 121,8/243,4 SC yang merupakan produk pestisida PERTAMA yang kami luncurkan setelah perusahaan kami resmi berdiri di tahun 2022. Secara bisnis Envu Indonesia sendiri tidak hanya meliputi segmen peternakan melainkan banyak segmen lainnya. Tujuan yang ke tiga kami ingin melakukan sharing dengan para peternak mengenai bagaimana kita bisa mengendalikan hama secara baik dan efektif serta tentunya secara benar.
Pengendalian Hama Terpadu
Pada sesi pemaparan materi Prof. Intan Ahmad, Ph.D., Profesor Entomologi – Sekolah Ilmu Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung menyampaikan hama yang banyak ditemukan pada peternakan ayam dan menimbulkan dampak negatif secara ekonomi maupun sosial seperti
tungau, lalat rumah, dan frengki. Banyak cara yang bisa dilakukan, salah satunya dengan pendekatan komprehensif yang menggabungkan berbagai metode untuk mengelola populasi hama sambil meminimalkan risiko terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.
“Untuk mengendalikan hama secara efektif sesuai dengan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) di peternakan ayam, penting sekali memahami dengan baik tentang bio ekologi dari hama itu sendiri. Bio ekologi hama dalam lingkungan peternakan ayam adalah studi tentang aspek biologi dan ekologi dari spesies hama yang berinteraksi di dalamnya, baik itu dari habitatnya, perilaku, siklus hidup, maupun dengan lingkungan,” papar Prof. Intan.
Menurut Prof. Intan, penggunaan pestisida masih merupakan komponen penting dalam pengendalian hama, karena hasil pengendalian dapat dilihat dalam waktu singkat, mudah, penggunaannya dan ekonomis. Jika pengendalian serangga dengan dosis penggunaan terjadi masalah, cara terbaik adalah bukan dengan menambah dosis karena akan menimbulkan terjadinya resistensi insektisida/pestisida tersebut dan menambah biaya tetapi tidak memberikan hasil yang efektif.
“Untuk mencegah terjadinya resistensi, diperlukan juga adanya rotasi penggunaan pestisida dengan tidak hanya menggunakan 1 jenis pestisida di dalam pengendalian hama. Kepandaian pemilihan bahan aktif dan kombinasinya juga dapat menghasilkan kemampuan pengendalian serangga target yang baik,” terang Prof. Intan.
Lebih lanjut, Prof. Intan menyampaikan dalam pengendalian hama beberapa hal yang harus menjadi perhatian adalah jenis kandang (terbuka, tertutup atau lainnya) untuk disesuaikan strategi PHT yang diterapkan. Selain itu pengaruh cuaca juga akan mempengaruhi perilaku hama, jenis hama yang menjadi target pembasmian, pemberian pakan dan manajemen sampah untuk mengurangi ketertarikan hama. Update informasi tentang bioekolgi hama, penerapan strategi PHT untuk keberlanjutan pengendalian. Setiap peternakan memiliki unik masing-masing sehingga perlunya adanya pendekatan peternakan.
Templar 121,8/243,4 SC, efektif basmi frengki
Dalam kesempatan yang sama, Didi Suwandi, PPM Commercial Manager – Envu Indonesia meresmikan peluncuran produk pestisida pertama di Indonesia dengan kandungan 2 bahan aktif yang secara khusus diformulasikan untuk membasmi frengki (Alphitobius sp). Karena kita melihat frengki ini adalah hama seranga utama yang ada dipeternakan selain lalat.
“Keberadaan frengki di peternakan jika tidak dikendalikan akan berdampak pada kerugian ekonomi yang cukup besar. frengki merupakan vektor utama penyakit pathogen di peternakan ayam yang menularkan bakteri atau virus sehingga menyebabkan gangguan pada ayam dan penurunan produksi yang cukup signifikan,” terang Didi
Lebih lanjut, Didi memaparkan 2 bahan aktif yang terkandung dalam Templar 121,8/243,4 SC, yakni; beta cyfluthrin 121,8 g/l dan imidacloprid 243,6 g/l dengan formulasi Suspension Concentrate (SC). Envu menerapkan teknologi Homogenized Active Synergy (HAS) yang sangat penting untuk mencampurkan 2 bahan aktif terebut. Templar 121,8/243,4 SC telah diuji memiliki performa yang stabil, tidak berbau, tidak iritasi, toksisitas rendah dan ramah lingkungan.
“Kombinasi kekuatan Beta-cyfluthrin dan Imidacloprid merupakan salah satu cara untuk menagemen resistensi hama. Dalam pengendalian hama diusahakan tidak menggunakan pestisida yang itu-itu saja karena suatu saat berpotensi terjadinya resistansi. Untuk mencegah itu terjadi kita perlu melakukan rotasi pestisida dengan produk pestisida yang memiliki golongan bahan aktif yang berbeda,” papar Didi.
Didi menyampaikan bahwa penggunaan produk Templar 121,8/243,4 SC pada dosis 3 ml per liter dengan kebutuhan air 70 ml/ m2. Pengaplikasian dilakukan dengan spray di area frengki sering muncul (dinding, craking, tiang dan lainnya). Hasil percobaan di peternakan menunjukan penggunaan Templar 121,8/243,4 SC dapat menurunkan persentse frengki secara signifikan setelah H+1 penggunaan dan menunjukan hasil yang stabil setelah H+7 dan seterusnya tehadap kemunculan frengki. Selain itu uji efikasi juga dilakukan di SITH ITB yang menunjukan hasil efektifitas daya residual Templar 121,8/243,4 SC terhadap tingkat kematian frengki 1 bulan setelah aplikasi diatas 90%.
“Kami merekomendasikan program pengendalian frengki di peternakan ayam terbagi menjadi tahap persiapan dan tahap produksi. Templar 121.8/243.4 SC bisa diaplikasikan ditahapan persiapan yaitu setalah cuci kandang atau pengapuran dan bisa diaplikasikan pada saat setalah tabur sekam. Kemudian pada saat produksi Templar bisa diaplikasikan di area-area hama (frengki atau lalat) berada,’ pungkas Didi. Adv