Putih telur merupakan sumber protein hewani yang dapat menangani keracunan timbal
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Keracunan timbal pada hewan sering ditemukan di seluruh dunia. Khan et al. (2008) melaporkan jenis hewan domestik seperti yang dapat mengalami keracunan timbal yaitu kuda, anjing, dan unggas. Ayam ras pedaging (broiler) memiliki kerentanan tinggi terhadap keracunan timbal, yang dapat menurunkan bobot badan secara signifikan. Berdasarkan laporan Erdogan et al. (2005), 200 mg timbal/kg dalam pakan dapat menurunkan bobot badan, performa yang buruk, serta dapat menimbulkan kematian. Laporan lainnya oleh Bakali et al. (1995) menyebutkan bahwa penurunan feed conversion ratio (FCR) secara signifikan terjadi pada 10 mg timbal/kg pakan. Gejala klinis lainnya yang timbul akibat keracunan pada unggas yaitu kelemahan, ataksia (inkoordinasi gerakan otot), anoreksia (tidak mau makan), bentuk feses yang abnormal atau terdapat darah dalam feses, diare berwarna hijau kehitaman, banyak minum (polydipsia), head tilt (posisi kepala yang miring ke salah satu sisi saja), kejang, dan kebutaan (Suganya et al. 2016).
Tindakan medis untuk menanggulangi terjadinya keracunan akibat timbal yaitu dengan melakukan terapi kelasi (chelation). Agen kelasi mampu mengikat ion logam berat dari dalam sel dan luar sel dengan membentuk struktur kompeks dan mudah dieksresikan keluar tubuh. Terdapat berbagai macam agen kelasi yang telah terbukti efektivitasnya yaitu asam kalsium disodium etilendiamin tetraasetik (CaNa2EDTA), kalsium trisodium DTPA, british anti lewisite (BAL), unithiol, etilendiamin tetraaserik (EDTA), penisilamin, dan sukimer. Agen kelasi ini dapat diberikan secara perenteral (injeksi), inhalasi, maupun oral, tergantung dari jenis sediaannya.
Penelitian terhadap potensi kelator pada putih telur beberapa jenis unggas, yaitu telur bebek mojokerto, telur bebek peking, telur ayam buras/lokal, dan telur layer. Kategori telur yang dipilih berdasarkan keutuhannya, bentuk, warna, kebersihan, dan usia telur. Pemilihan secara fisik ini ditujukan agar tidak terjadinya kontaminasi pada telur. Kualitas telur juga dilihat setelah dipecahkan untuk melihat konsistensi, warna, dan bau. Telur yang baik memiliki konsistensi putih dan kuning telur kental, warna putih telur bening dan kuning telur berwana kuning hingga jingga, dan tidak berbau busuk. Pengujian yang dilakukan secara in-vitro ini dilakukan dengan mencampurkan putih telur keempat jenis unggas pada konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100% dengan Timbal asetat (Pb(CH3COO)2) 1000ppm pada perbandingan 1:1. Kecepatan kelasi berbanding lurus dengan denaturasi protein putih telur oleh logam berat. Hasil riset ditujukan pada Tabel 1.
Tabel 1. Profil Komparasi Pengikatan/Kelasi Timbal oleh Berbagai Jenis Telur Unggas
Konsentrasi
Jenis Telur
Ayam Buras
Ayam Ras/Layer
Bebek Mojokerto
Bebek Peking
25%
12,23 ± 1,64
11,69 ± 1,27
11,03 ± 0,96
9,89 ± 1,04
50%
9,71 ± 1,44
9,98 ± 1,23
9,36 ± 0,75
7,50 ± 0,84
75%
7,82 ± 1,24
7,37 ± 0,92
7,35 ± 0,78
5,90 ± 0,84
100%
5,44 ± 0,86
5,41 ± 0,73
4,58 ± 0,69
3,86 ± 0,55
Keterangan     : Probability (P) jenis telur = 0; konsentrasi = 0; dan interaksi = 0,135
Denaturasi tercepat secara berurutan ditujukan pada telur bebek peking, telur bebek mojokerto, ayam ras/layer, dan ayam buras. Kecepatan dari denaturasi juga berbanding lurus dengan konsentrasi dan kandungan protein dalam telur. Semakin tinggi konsentrasi putih telur, semakin cepat pula waktu denaturasinya. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, kandungan protein bebek mojokerto (11%) lebih tinggi dibandingkan kandungan protein pada telur ayam (10,8%). Protein telur ayam buras/lokal lebih tinggi daripada telur ayam ras/layer. Hasil kecepatan denaturasi menunjukkan telur bebek mojokerto lebih tinggi dibandingkan telur ayam buras/layer dan ayam buras. Data mengenai kandungan protein dari bebek peking sendiri belum diketahui, tetapi dari hasil kecepatan denaturasinya yang tinggi, maka dapat diasumsikan bahwa nilai protein telur bebek peking lebih tinggi daripada telur lainnya.
Baca Juga : Keragaman Pemasaran Telur Ayam Ras di Indonesia
Terjadinya denaturasi protein putih telur disebabkan oleh adanya kerusakan ikatan sekunder dan tersier protein. Denaturasi merusak bentuk alfa-heliks normal protein dan menguranginya menjadi bentuk yang tidak teratur. Garam logam berat seperti timbal bersifat ionik dan dapat merusak jembatan garam protein. Kelasi merupakan ikatan suatu ion logam atau kation dengan struktur cincin kompleks dari molekul organik agen kelasi. Ciri dari kelasi berupa adanya atom donor-elektron pada molekul kelasi seperti sulfur, nitrogen, dan atau oksigen.
Mayoritas protein dan peptida yang memiliki fungsi mengikat, mendistribusikan, dan detoksifikasi logam esensial ataupun yang tidak esensial, membentuk satu atau beberapa situs pengikatan logam. Asam amino yang mengandung sulfur seperti methionin, analog asetil dari sistein, S-adenosilmethionin, asam a-lipoid, dan tripeptida glutation berkontribusi dalam mengikat dan mengeksresikan logam dari dalam tubuh.
Sebagai sumber protein yang terjangkau dan ketersediaannya yang melimpah. Putih telur unggas terbukti dapat dijadikan pilihan alternatif pada kasus keracunan akibat timbal. Putih telur bebek peking menunjukan potensi yang paling baik sebagai kelator timbal karena kecepatannya dalam mengkelasi logam berat tersebut. 
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Oktober 2019 dengan judul “Pemanfaatan Putih Telur Unggas untuk Mengatasi Keracunan Timbal”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153