Public Expose PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Pandemi covid-19 yang mulai merebak pada tahun 2020 telah membuat iklim industri perunggasan terasa berat. Berbagai aturan pembatasan telah menekan kinerja usaha yang berimbas pada lemahnya daya beli konsumen. Akibat kondisi tersebut, industri ini menghadapi risiko kelebihan pasokan ayam karena penurunan daya beli masyarakat. Selain itu berbagai risiko-risiko usaha yang perlu dimitigasi diantaranya fluktuasi harga bahan baku pakan serta turunnya harga DOC dan live bird.
Baca juga : Peternak Harapkan Harga Jual Ayam dan Telur Naik Seiring Naiknya Harga Pakan
Terlepas dari berbagai risiko yang ada, PT. Sreeya Sewu Indonesia Tbk berhasil membuat transformasi bisnis melalui beberapa terobosan strategis. Direktur Utama PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk, Tommy Wattimena mengemukakan bahwa pihaknya terus melakukan terobosan dan inovasi strategis selama pandemi. Seperti penerapan halal blockchain di rumah potong ayam, yang merupakan transformasi digital atas transparansi data dan ketelusuran halal. Kemudian, perseroan telah meluncurkan inovasi pakan ternak dengan ekstrak alami buah nanas (Bromelain) yang mampu meningkatkan berat badan ayam dan menurunkan tingkat kematian.
“Dilanjutkan dengan konsep smart farm yang telah dikeluarkan sejak tahun 2019, dimana ternak yang dikembangkan dengan menggunakan konsep ini memiliki performa yang lebih bagus, salah satunya tingkat konversi pakan (FCR) yang lebih rendah di banding kandang yang tidak menggunakan smart farm. Selain itu, kami juga memperluas distribusi rantai dingin dalam upaya demokratisasi protein, serta meluncurkan pakan burung premium pertama di Indonesia yang mempunyai kandungan protein serangga,” jelas Tommy dalam acara Public Expose PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk, di Jakarta, Senin (16/8).
Tommy melanjutkan bahwa perseroan menutup tahun 2020 dengan tingkat profitabilitas yang positif. Perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp28,27 miliar dengan penjualan bersih sebesar Rp4,34 triliun atau meningkat 7,21 persen dibandingkan penjualan bersih tahun 2019 sebesar Rp4,05 triliun.
“Untuk tahun 2021 ini pandemi masih berlangsung, sehingga situasinya belum pasti. Namun saya optimis akan tumbuh double digit sampai akhir tahun. Beberapa faktor eksternal masih menjadi tantangan, seperti harga jagung belum membaik, SBM masih tinggi, demand masih rendah sehingga profitability akan terdampak. Tapi, perusahaan kami sangat solid dan kuat, sehingga optimis pertumbuhannya bisa terus berlanjut,” tegasnya.