POULTRYINDONESIA, Jakarta – Peternak ayam UMKM mandiri asal Jabodetabek melakukan demonstrasi di depan Monumen Nasional, Jakarta, Kamis (12/10). Demonstran berjumlah 50 orang yang termasuk ke dalam Komunitas Peternak Unggas Nasional (KPUN). Beragam spanduk dibawa oleh peternak mandiri untuk melayangkan berbagai tuntutan kepada pemerintah.
“Harga ayam hidup di kandang hari ini di bawah HPP. Dengan harga DOC di angka Rp7000,00 dan harga pakan di atas Rp9.000,00, HPP kami bisa menyentuh di angka Rp21.000,00 – 22.000,00, namun kami menjual ayam hidup di kandang seharga Rp19.000,00 – Rp20.000,00 per kilogram ayam hidup. Hari ini kami sudah mengalami kerugian sebesar Rp2.000,00 per kilogram. Kondisi ini sudah terjadi sejak 3 minggu yang lalu. Bahkan saat itu, harga ayam hidup di kandang sempat menyentuh di angka Rp16.000,00,” Kata Alvino Antonio selaku Ketua KPUN. 
Menurut Alvino, perusahaan integrator melakukan predatory pricing (jual rugi) melalui harga input sapronak (sarana produksi ternak) yang tinggi dan selalu mengalami kenaikan, namun hal ini tidak diimbangi dengan peningkatan harga jual ayam hidup di kandang, sehingga peternak mandiri selalu mengalami kerugian dalam berproduksi. Disisi lain, pemerintah tidak memiliki data yang valid mengenai kebutuhan dan konsumsi ayam broiler di Indonesia. Hal ini mengakibatkan kebutuhan dan permintaan tidak dapat diproyeksikan secara tepat. Sehingga, di pasaran ketersediaan ayam selalu surplus. Ketiadaan data yang valid ini kemudian digunakan oleh perusahaan-perusahaan integrator untuk menguasai pasar dari hulu ke hilir yang berdampak secara langsung terhadap operasional dan kehidupan peternak mandiri dan peternak rakyat.
“Pemerintah harus mengatur pasar dengan mengatur perusahaan integrator untuk tidak menjual ayam hidupnya ke pasar becek atau tradisional, melainkan ke pasar dingin. Biarkan pasar tradisional menjadi target pasar para peternak UMKM mandiri. Kami menginginkan harga jual ayam hidup yang sewajarnya sekitar 5% dari HPP yaitu dengan nilai Rp23.000,00,” jelasnya.
Pada kesempatan ini, demonstran melakukan aksi bagi-bagi 500 ekor ayam gratis kepada masyarakat di titik lokasi demonstrasi. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk kekecewaan peternak mandiri. Harapannya, kondisi rugi ini dapat tersampaikan kepada pemerintah dan membalikkan situasi secepatnya.