Penyakit satu ini memang merupakan penyakit multifaktorial yang memiliki dampak ekonomi yang besar dalam industri unggas, oleh karenanya upaya pencegahan akan lebih efektif dibandingkan upaya pengobatan.
Di lapangan, kasus kolibasilosis pada peternakan masih sering ditemukan, terutama pada peternakan ayam pedaging. Escherichia coli sendiri merupakan bakteri yang umum ditemukan pada saluran pencernaan hewan. Bakteri ini pada umumnya merupakan flora normal dan bersifat non-patogen, namun ada pula strain yang bersifat patogen. Strain E. coli patogen dapat menyebabkan masalah kesehatan pada unggas, baik infeksi secara lokal maupun sistemik, yang disebut sebagai kolibasilosis. Kolibasilosis dapat menunjukkan berbagai manifestasi patologis, seperti pneumonia, omfalitis, cellulitis, airsacculitis, osteomielitis, dan peritonitis.
Berdasarkan penelitian Wahyuwardan et. al., (2014) sebanyak 22,2% E. coli dilaporkan sebagai penyebab infeksi pada unggas. Lebih lanjut ia meneliti bahwa sebanyak 75-100%, E. coli diisolasi dari bangkai ayam mati di Yogyakarta dan Bogor. Kejadian ini mengindikasikan bahwa kolibasilosis banyak terjadi pada industri perunggasan. Bakteri E. coli dapat ditemukan sebagai bakteri di saluran pencernaan dan lingkungan.
Keberadaan bakteri E. coli pada air minum maupun sumber air minum biasa digunakan sebagai indikator adanya pencemaran air yang menyebabkan penurunan kualitas air minum. Pencemaran air minum dimulai dari sumber air sampai penampungan air. Air yang tercemar E. coli dikhawatirkan dapat menyebabkan penyebaran bakteri dan menyebabkan penyakit.
Identifikasi bakteri Escherichia coli
Escherichia coli adalah bakteri gram negatif, berbentuk batang, dan mempunyai flagella. Escherichia coli secara alami merupakan flora normal di saluran pencernaan hewan dan manusia. Beberapa strain E. coli ada yang bersifat patogen dan memiliki kemampuan menularkan sifat patogen ke bakteri lain.
Kondisi kotoran ayam dengan kelembaban tinggi sangat mendukung perkembangan bakteri. Escherichia coli merupakan bakteri komensal yang dapat bersifat patogen, bertindak sebagai penyebab utama morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Pada suhu kamar (27°C) pertumbuhan bakteri E. coli lebih banyak. Hal ini disebabkan E. coli merupakan bakteri yang tergolong mesofil yaitu bakteri yang mempunyai suhu pertumbuhan optimal 15 – 45°C dengan suhu minimum pertumbuhan 10 – 20°C, dan suhu maksimum 40 – 45°C serta dapat hidup pada pH 5,5 – 8 dengan pH optimum 6,5 (Lubis, 2012). Sedangkan kelembapan optimum untuk pertumbuhan bakteri E. coli adalah 85%.
- coli merupakan bakteri yang mempunyai peran cukup penting dalam penyakit zoonosis. Penyebarannya dapat melalui kontak langsung dengan feses, kontak dengan peralatan kandang yang terkontaminasi, seperti makanan yang mentah atau daging yang dimasak kurang matang.
Di Indonesia penelitian yang dilakukan Suardana (2014) dari 76 sampel feses ayam yang diambil menunjukkan tingkat prevalensi sebesar 8,54%. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur pada tahun 2007 tercatat kasus kolibasilosis sebanyak 129 kasus yang terjadi pada ayam di daerah Sumba Timur.










