Upacara Pembukaan THAIFEX ANUGA 2025
POULTRYINDONESIA, Bangkok – Suasana IMPACT Exhibition and Convention Center di Muang Thong Thani, Thailand, terasa berdenyut cepat sejak pagi tanggal 27 Mei 2025. THAIFEX-ANUGA ASIA 2025 resmi dibuka, dan gegap gempita dunia kuliner, teknologi pangan, dan inovasi global kembali mengguncang Asia Tenggara. “Tahun ini kami benar-benar melampaui ekspektasi,” kata Wendy Lim, Manajer Umum Pameran Makanan dan Teknologi Pangan. “Dengan 3.231 exhibitor dari 57 negara, lebih dari 2.000 hosted buyers, dan target 90.000 pengunjung, ini adalah tahun besar bagi kami.”
Wendy menggarisbawahi bahwa yang membedakan THAIFEX-ANUGA tahun ini bukan hanya angka, tapi juga kurasi dan kualitas. “Kami tidak hanya memperbanyak jumlah negara peserta, tapi juga memperketat proses kurasi. Tahun ini kami menerima 10 negara baru, banyak diantaranya berasal dari Asia Tengah, Africa, dan Eropa Utara seperti Uzbekistan dan Slovenia. Kami ingin mempersembahkan wajah baru industri makanan dunia kepada para pembeli yang hadir,” ujarnya .
Lynn How, Direktur Proyek yang turut mendampingi Wendy dalam wawancara, menambahkan, “Kami tidak ingin acara ini terasa seperti sama setiap tahun. Itulah kenapa dari 100 buyer yang kami undang, 70% adalah nama baru. Kami ingin membuka koneksi baru bagi exhibitor dan buyer setiap tahunnya.”
Salah satu langkah strategis tahun ini adalah perluasan eksibisi ke sembilan segmen utama, serta pemanfaatan teknologi untuk mempercepat proses koneksi antar pelaku industri. “Kita bukan hanya mempertemukan pembeli dan penjual,” jelas Lynn, “kita membangun platform yang bisa menavigasi bisnis mereka. Kami punya aplikasi mobile yang memungkinkan pengunjung untuk merancang kunjungan mereka secara efisien, melakukan riset awal, dan memanfaatkan fitur business matching sebelum mereka menginjakkan kaki di hall.”
Kejutan lain tahun ini adalah hadirnya jalur MRT Pink Line yang secara langsung menghubungkan kota Bangkok dengan venue IMPACT. “Ini game changer,” kata Wendy. “Aksesibilitas menjadi lebih mudah dan nyaman. Ini salah satu cara kami mendukung pengalaman pengunjung dan exhibitor.”
Bersama tagline “Beyond the Experience”, Wendy menyampaikan bahwa makanan bukanlah sekadar produk. “Makanan itu harus dilihat, dirasakan, dinikmati. Dan di THAIFEX-ANUGA, kami menghadirkan panggung di mana pengalaman ini terjadi secara langsung—melalui tampilan, rasa, dan bahkan cerita di balik kemasannya.”
 
THAIFEX-ANUGA bukan hanya panggung megah bagi para raksasa industri. Wendy dengan penuh perhatian menyoroti dukungan mereka kepada bisnis skala kecil dan menengah. “Kami tidak membiarkan mereka datang dan hanya berharap dikunjungi. Kami adakan webinar, profiling digital di platform business matching, bahkan edukasi intensif agar mereka bisa tampil kompetitif. Ukuran booth bukan penentu, tapi cara mereka menyampaikan nilai produk mereka.”
Lynn menambahkan, “Jangan salah, antrean untuk jadi exhibitor di THAIFEX-ANUGA itu panjang sekali. Tapi kami tidak hanya mengejar kuantitas. Kami ingin pameran ini selalu terasa segar, inspiratif, dan mencerminkan apa yang sedang bergerak di dunia nyata.”
Menariknya, tahun depan Wendy mengungkapkan bahwa THAIFEX-ANUGA 2026 akan mengambil tagline “Bigger, Better, Bolder”, dan akan memperluas area ke 12 hall. “Kami selalu berpikir tentang bagaimana memberi lebih. Lebih banyak ruang, lebih banyak inovasi, lebih banyak negara, dan tentu saja, lebih banyak peluang.”
Oliver Frese, Kepala Operasional Koelnmesse, dalam ANUGA 2025 MEDIA ROUNDTABLE menyampaikan. “Rantai makanan saat ini berada dalam tekanan luar biasa. Ketegangan geopolitik, inflasi, dan ekspektasi sosial terhadap keberlanjutan memaksa industri makanan beradaptasi cepat. Dan dalam tekanan itu, THAIFEX-ANUGA  hadir bukan hanya sebagai tempat jual beli, tetapi juga tempat pertukaran ide global,” ujar Frese tegas.
Lebih lanjut, ia menekankan peran AI dalam efisiensi rantai pasok, pemasaran, dan pengembangan produk. “Teknologi tidak lagi pelengkap. Ia kini pondasi. AI mengubah semua,” tambahnya. Ia juga mengingatkan pentingnya acara utama ANUGA di Cologne, Jerman pada 8 Oktober 2025 mendatang.
Bastian Mingers, VP Food and Foodtech di Koelnmesse, membawa diskusi ke ranah kebiasaan pasca-pandemi. “COVID-19 membuat banyak orang lebih memilih memasak di rumah. Tapi bukan sembarang masakan, mereka mencari kualitas,” katanya. “Isu animal welfare kini bukan hanya diskusi, ini jadi regulasi di banyak negara. Lalu, label asal produk menjadi tren penting. Konsumen ingin tahu dari mana makanan mereka berasal. Bahkan, permintaan terhadap produk berbasis perdagangan adil dan berkelanjutan meningkat, meski harga tetap menjadi faktor sensitif.”
Franz Martin Raush, CEO dari Asosiasi Federal Perdagangan Kelontong Ritel Jerman, menambahkan bahwa persilangan antara nutrisi dan teknologi akan menjadi fokus besar di Eropa, “Kita sedang menuju era di mana makanan tidak hanya bergizi, tapi juga cerdas secara teknologi,” ujarnya singkat namun tajam.
Felicia Kristanti, Manajer Keberhasilan Pelanggan APAC, Innova Market Insight, membawa perspektif konsumen kawasan Asia ke tengah meja diskusi. “Konsumen Asia kini hidup dengan kesadaran tinggi akan kesehatan mental, kesejahteraan, dan keberlanjutan,” katanya. “Isu food waste menjadi topik utama. Bahkan konsumen kini bertanya, bukan hanya apa yang mereka makan, tapi apa yang dilakukan produsen makanan untuk menjaga bumi.”
Felicia juga menyampaikan bahwa “home socializing” dan koneksi dengan alam menjadi gaya hidup baru. “Konsumen mencari momen makan bersama yang intim, santai, dan penuh makna,bukan hanya soal makanannya, tapi bagaimana mereka merasa saat menyantapnya.”
Dalam sesi tanya jawab, isu tekanan inflasi kembali muncul. “Konsumen makin selektif. Mereka menginginkan kualitas tinggi dengan harga terjangkau. Produsen harus menjaga kualitas ini jika ingin bertahan,” ucap salah satu panelis.
Diskusi kemudian ditutup dengan pengingat kuat: bahwa pameran seperti THAIFEX-ANUGA bukan sekadar tempat memamerkan produk. “Setiap sentimeter dari pameran ini diisi oleh inovasi global yang menawarkan solusi nyata, berbagi wawasan eksklusif, dan membentuk masa depan industri pangan,” ujar Oliver Frese menutup sesi roundtable.
Ketika ditanya mengapa pameran seperti ini penting, Felicia menjawab tegas, “Kalau kita ingin memimpin perubahan, kita harus berada di garis depan. Kita harus menjadi first mover.”