Usaha tak pernah menghianati hasil. Pesan yang mengingatkan kita untuk tidak menyerah dalam mencapai tujuan ini, kiranya masih sangat relevan hingga sekarang. Sebagai manusia, tentu kita tidak selalu memiliki perjalanan hidup yang lurus, tanpa ada belokan dan tekanan. Namun setiap diri masing-masing, mempunyai kesempatan untuk memilih alur kehidupan yang akan dijalani.
Dari masa kecil yang penuh perjuangan, hingga kesuksesan di dunia profesional, Thomas terus menginspirasi dengan komitmennya pada dunia perunggasan. Harapannya untuk masa depan perunggasan yang lebih mandiri, menjadi gambaran sebuah ketulusan dan ketekunan.
Hal tersebut tergambar dari sosok Thomas Ribut Subagyo, seorang tokoh perunggasan yang nyatanya mempunyai perjalanan hidup yang cukup berliku. Lahir di tengah keriuhan politik Indonesia, tepatnya pada 11 Juli 1966 di kota Malang, Thomas Ribut Subagyo adalah contoh hidup yang dipenuhi dengan warna-warni perjuangan dan kebahagiaan. Namanya sendiri menjadi cerminan dari perjalanan hidupnya yang penuh dengan tantangan dan kebahagiaan.
“Konon kata almarhumah ibu saya, nama asli pemberian orang tua ketika itu adalah Bambang Subagyo. Namun beberapa hari setelah saya lahir, sahabat ayah saya berkunjung dan mengusulkan untuk mengganti nama saya, menjadi Ribut Subagyo. Hal ini sehubungan dengan kondisi sosial-politik negara kita yang lagi keruh. Jadilah nama saya berganti, untuk menggambarkan situasi masyarakat yang lagi “ribut”. Dan untuk Subagyo, dalam bahasa Jawa bisa diartikan sebagai “kebahagiaan yang indah”, sehingga secara bebas, makna yang terkandung pada nama saya adalah walaupun kondisi sosial masyarakat ribut, namun telah lahir seorang bayi yang membawa kebahagiaan yang indah bagi keluarga saya. Sedangkan nama, Thomas adalah nama baptis, yang secara resmi saya sandang sejak 25 Juni 1978, setelah saya dibaptis sebagai seorang Kristen,” jelas Thomas melalui keterangan tertulis, Rabu (24/4).
Menghabiskan masa kecil di sebuah desa bernama Nongkojajar di wilayah Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, kisah perjuangan Thomas dimulai sejak dini. Kehilangan ayah saat usianya baru menginjak 3,5 tahun bukanlah sebuah perkara yang sederhana. Sebagai seorang yang ulet dan tangguh, Ibunya harus berjuang sendirian menghidupi Thomas dan tujuh saudara lainnya. Walaupun dalam kondisi berat, dirinya mengaku bahwa masa kecilnya sangat menyenangkan dengan kebahagiaan di tengah keluarganya.
“Bersyukur saat itu kakak perempuan saya yang pertama sudah menikah. Untuk membantu ekonomi keluarga, kakak saya yang kedua harus putus sekolah dan menerima dukungan masyarakat untuk menggantikan ayah saya menjadi seorang Kepala Desa. Kala itu, ayah meninggal pada tahun 1970, dengan usia relatif muda yakni 55 tahun ketika menjabat sebagai seorang Kepala Desa. Dan beberapa tahun kemudian, kakak saya yang kedua harus meninggalkan bangku kuliah juga dan bekerja sebagai guru di Sekolah Dasar,” ungkapnya.










