Salah satu gambaran perbandingan antara penggunaan kandang tertutup dengan kapasitas penuh dengan kandang tertutup ber kapasitas menengah
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Ada tiga kunci utama dalam manajemen pemeliharaan agar peternakan broiler dapat berjalan dengan baik. Manajemen tersebut adalah pertama, sumber daya manusia (SDM) yang terampil, cakap dan terlatih. Kedua, Infrastruktur perkandangan yang mampu mendukung budi daya dan adaptif terhadap lingkungan. Ketiga, manajemen pengelolaan lingkungan seperti cuaca, suhu, dan kelembaban. Hal tersebut seperti yang disampaikan oleh Eko Prasetio, DVM, Head of Broiler Production Improvement Division PT. Tri Satya Mandiri, Rabu (15/ 12).
Baca juga : ASOHI Optimis Bisnis Peternakan Tumbuh di Tahun 2022
“Peningkatan sumber daya manusia bisa dilakukan dengan berbagai macam seperti technical training, kunjungan ke farm atau bisa juga dengan observasi,” tegasnya ketika mengisi webinar secara virtual via Zoom Meeting dengan tema ‘Digital Tool for Smart Farming, yang diadakan oleh Trouw Nutrition.
Untuk infrastruktur kandang menurut Eko, ada peluang mini integrated, dimana ada integrasi dalam skala yang lebih kecil mulai dari breeding farm, pabrik pakan, mini closed house, penyembelihan ayam hingga pada pengolahan daging ayam menjadi berbagai macam produk yang siap di konsumsi.
“Salah satu yang kita kembangkan adalah mini closed house, dimana dengan mini closed house ini mempunyai sejumlah keunggulan seperti dapat memanfaatkan lahan yang semakin terbatas, dapat disesuaikan dengan lingkungan di Indonesia seperti suhu dan kelembabannya, biaya pembangunan terjangkau, serta dapat diakses dengan kredit usaha rakyat (KUR),” terangnya.
Mesih menurut Eko, mini closed house ini langsung tersambung dengan teknologi digital sehingga bisa meminimalisir error dalam pencatatan parameter pemeliharaan.
“Oleh karena itu, kebutuhan akan update teknologi menjadi upaya yang secara konsisten harus dilakukan, agar peternak tidak sekedar bisa bertahan. Namun, terus bisa tumbuh dan berkembang, pembaharuan sistem atau teknologi yang dilakukan sebaiknya sejalan dengan pembaharuan pola pikir dari sumber daya manusia yang ada, serta diperlukan komitmen yang tinggi, kedisiplinan, dan kejujuran dalam menjalankan setiap inovasi yang ada,” pungkasnya.