Perikarditis dan perbesaran ukuran hati pada ayam (dok: Prof. Dr. drh. Michael Haryadi W)
oleh: drh. Esti Dhamayanti*
Gallibacterium anatis menjadi sorotan dunia perunggasan dan disebut sebagai emerging disease pada unggas. Bakteri yang dideskripsikan oleh Kjos-Hansen pada tahun 1950 sebagai bakteri kloaka hemolitik ini sebenarnya merupakan bakteri komensal pada saluran pernapasan atas maupun saluran reproduksi bagian bawah pada unggas yang sehat. Gallibacterium anatis, ini dibagi menjadi dua biovar, yaitu biovar haemolytica dan annatis.

Peningkatan dan pelaksanaan identifikasi agen penyakit membantu dalam proses penanganan penyakit, terutama pada jenis penyakit yang memiliki perubahan patologis menyerupai penyakit dari agen lainnya seperti Gallibacterium anatis.

Secara morfologi, bakteri ini merupakan bakteri gram negatif berbentuk pleomorfik, tidak memiliki spora, tidak motil, tidak berflagela, memiliki fimbriae, dan memiliki kapsula. Inang dari G. anatis ini tergolong bervariasi dan dapat ditemukan pada berbagai spesies unggas. Bakteri yang tergolong baru diidentifikasi ini menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi dunia perunggasan, karena masih minimnya pengetahuan terhadap virulensi, patogenesis, dan kontrol, dalam hal ini vaksin.
Keberadaannya pada unggas sehat tanpa menyebabkan gejala klinis tetapi juga dapat ditemukan pada ayam yang memiliki lesio perubahan organ, menjadikan bakteri ini sebagai bakteri patogen oportunis. Laporan terhadap kejadian Gallibacterium anatis ini umumnya diasosiasikan dengan ditemukannya bakteremia, gangguan saluran reproduksi, dan gangguan pada sistem pernapasan. Gallibacterium anatis dapat menimbulkan tanda klinis atau penyakit jika distimulasi oleh beberapa hal, seperti perubahan cuaca, hormonal, serta perubahan sistem imun (Singh et al. 2016).
Perubahan patologis tersebut memiliki kemiripan dengan beberapa penyakit, seperti Avian Pathogenic Escherichia coli (APEC), Avian Influenza (AI), fowl coryza, dan Newcastle Disease (ND) terkadang menyulitkan untuk mendiagnosa penyakit yang sebenarnya berasal dari Gallibacterium anatis. Memang sering kali infeksi Gallibacterium anatis juga ditemukan bersama dengan E. coli saat diisolasi, namun ada juga temuan oleh Mirle et al. (1991) yang menyebutkan bahwa ditemukan infeksi tunggal oleh Gallibacterium anatis saja.
Prof. Dr. drh. Michael Haryadi Wibowo, MS selaku Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada mengungkapkan bahwa kasus G. anatis ini umumnya ditemukan pada layer dan menyebabkan penurunan produksi dengan penularan penyakit utamanya terjadi secara horizontal.
Pada kasus yang Michael temukan di lapang, umumnya di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, awalnya kecurigaan terhadap agen penyebab penurunan produksi mengarah pada virus, seperti Avian Influenza H5 dan H9, Infectious Bronchitis Virus, serta Newcastle Disease Virus (NDV), namun hasilnya negatif.
Baca Juga: Konsultan Sebut Mengatasi Drop Produksi Telur Perlu Perbaikan Holistik
“Dari beberapa sampel yang negatif virus, memang ternyata ada bakteri menarik, memang E. coli juga ditemukan, tetapi ada bakteri yang berbeda. Setelah dilanjutkan membaca beberapa jurnal, ternyata ada bakteri yang namanya dulu Pasteurella haemolytica, sekarang namanya Gallibacterium anatis,” jelasnya melalui sambungan telepon, Sabtu (7/11/2020).
Penurunan produksi pada layer akibat dari G. anatis terbilang bervariasi tergantung dari tingkat keparahan infeksi dan ada atau tidaknya penyakit ikutan di lapang. “Penurunan produksi yang saya temukan di lapang bisa sampai 20-30%,” ujarnya.
Gangguan saluran reproduksi yang ditemukan pada ayam yang terserang G. anatis di antaranya salpingitis, oophoritis, hemoragi pada ovarium, folikulitis, serta degenerasi folikel. “Gambaran dari infeksi buatan G. anatis berupa folikel sel telur yang mirip dengan brokoli. Sebelumnya kita sering mendengar bahwa perubahan tersebut disebabkan oleh AI H9, namun bisa jadi akibat infeksi bakteri. Saya rasa di lapangan banyak kejadian seperti itu,” kata Michael.
Tidak hanya pada ayam betina, G. anatis juga dapat menimbulkan gangguan reproduksi pada ayam jantan. Melalui uji Koch Postulate yang dilakukan oleh Paudel et al. (2014), dampak infeksi yang ditimbulkan oleh G. anatis dapat menurunkan fertilitas pada ayam jantan tersebut akibat kerusakan sperma.
Penyakit ikutan serta faktor imunosupresi yang dapat memperparah infeksi G. anatis maupun mempersilahkan bakteri untuk menyebabkan terjadinya penyakit diantaranya adanya Mycoplasma, Infectious Bursal Disease (IBD), Inclusion Body Hepatitis (IBH). Faktor kelalaian dari segi manajemen seperti ventilasi, sirkulasi udara, dan tingginya kadar amonia yang dapat merusak sistem pernapasan.
“Rusaknya sistem saluran pernapasan ini mempermudah bakteri untuk berkolonisasi pada saluran tersebut dan dapat juga terjadi perluasan penyakit,” papar Michael pada Webinar Nasional Asosiasi Mikrobiologi Veteriner Indonesia (AMVI), melalui aplikasi Zoom, Rabu (19/9/2020).
Michael menambahkan bahwa jika terjadi perluasan penyakit akibat septikemia, maka lesi juga ditemukan pada berbagai organ seperti hemoragi pada rongga toraks, perihepatitis, perikarditis, enteritis, dan folikulitis pada calon telur. Jika pecah calon tersebut pecah, maka akan menimbulkan peritonitis.*Wartawan Poultry Indonesia
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi April 2021 ini dilanjutkan pada judul “Tingkatkan Kewaspadaan Hadapi Infeksi Gallibacterium anatis”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153