Tahun 2003 menjadi tahun yang menggemparkan bagi industri perunggasan hampir di seluruh dunia. Munculnya wabah flu burung menjadi tantangan terbesar bagi peternak hingga saat ini. Avian Influenza (AI) merupakan salah satu penyakit disebabkan oleh virus yang menyerang hewan unggas. Penyakit ini menyerang sistem pernapasan, pencernaan, reproduksi dan saraf pada berbagai spesies unggas. Kemunculannya sangat ditakuti oleh para peternak, karena dapat mengakibatkan kerugian yang sangat besar.

Virus AI memiliki kemampuan penyebaran penyakit yang masif pada unggas maupun lingkungan sekitarnya. Para peternak harus melakukan proteksi sejak dini, karena virus ini masih sering menyerang peternakan. Hingga saat ini dikenal dua jenis virus AI yaitu High Pathogenic Avian Influenza (HPAI) yang bersifat ganas dan Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI) yang bersifat kurang ganas. HPAI yang beredar di Indonesia adalah AI subtipe H5N1 yang menyebabkan kematian tinggi pada unggas, sedangkan LPAI yang beredar di Indonesia adalah AI subtipe H9N2.

Adanya dua varian AI ini membuat pemilik dari Trimojemu Farm semakin berusaha meningkatkan perlindungan bagi peternakan miliknya. Trimojemu Farm merupakan peternakan layer di Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Sejak tahun 1998, perkembangan peternakan ini sangat pesat dan saat ini telah memiliki ratusan ribu ekor layer.

Trimojemu Farm diambil dari nama pemiliknya yakni Trimojemu yang seringkali disapa Trimo. Ia menceritakan bahwa wilayah Sukorejo merupakan daerah sentra peternakan petelur rakyat. Wilayah ini termasuk lingkungan padat ternak dan pernah muncul kasus AI. Peternakannya menjadi salah satu yang terserang penyakit AI H9N2 dan AI H5N1 .

“Kasus AI H9N2 mengakibatkan penurunan produksi hingga 50%, namun kematiannya tidak begitu tinggi. Sedangkan, kasus H5N1 kematiannya cukup tinggi setiap harinya yakni minimal 5% kematian di peternakan kami. Tak bisa dipungkiri kerugian secara finansial kami rasakan,” kenang Trimo.

Saat terjadi outbreak tersebut, beberapa vaksin AI H5N1 & H9N2 dari berbagai perusahaan telah digunakan. Namun karena tidak ada perubahan, akhirnya Trimo menghubungi personil Medion untuk membantu menangani kasus tersebut. Ia disarankan melakukan vaksinasi AI dengan menggunakan Medivac AI H5N1 & H9N2 untuk semua layer yang dimilikinya, dari pullet hingga layer yang memasuki awal produksi dan setelah puncak masa produksi.

“Atas informasi dari personil Medion dan pengalaman rekanrekan peternak di wilayah ini, saya pun memilih menggunakan Medivac AI H5N1 & H9N2. Hal itu ditunjang dengan pengendalian lingkungan dengan didukung biosekuriti dan manajemen yang baik agar hasil vaksinasi optimal. Hasil nyata yang saya rasakan bahwa hasil produksi terus merangkak naik dan pullet yang sudah divaksin semakin terlindungi dan kasus kematian berkurang,” ungkap Trimo.

Strategi kendalikan AI

Pengalaman munculnya kasus AI H5N1 & H9N2 yang terjadi saat awal produksi membuat Trimo semakin memerhatikan program vaksinasi di peternakannya. Pemantauan titer hasil vaksinasi terus ia lakukan dengan menggunakan HI test yang ada di laboratorium Medion yaitu MediLab.

Trimo menambahkan bahwa waktu terbaik dalam pemberian vaksinasi AI H5N1 & H9N2 dilakukan saat pullet memasuki umur 10-15 minggu dan dilanjutkan saat umur 18-19 minggu. Kemudian melakukan revaksinasi pada umur 30-an minggu, 50-an minggu dan 70-an minggu.

“Pemberian dosis Medivac AI H5N1 & H9N2 untuk ayam kecil dosisnya 0,25ml/ekor, sedangkan untuk ayam besar dosisnya 0,5ml/ekor. Selain vaksinasi, yang perlu diingat adalah biosekuriti dan manajemen yang baik juga harus dilakukan. Hampir setiap hari kami rutin melakukan semprot kandang agar menunjang kesehatan ternak-ternak kami,” tuturnya.

Medivac AI H5N1 & H9N2 memberikan perlindungan yang optimal dan aman bagi ternak dan tidak memengaruhi hasil vaksin lainnya dan telah teruji kualitas penggunaannya di kandang. Trimo berharap Medion terus berkembang mengikuti perkembangan yang terjadi di lapangan. Adv