Komoditas pangan yang digemari dan banyak di konsumsi oleh masyarakat Indonesia salah satunya ialah telur. Dalam pemenuhan ketersediaan telur diperlukan upaya khusus dari hulu dalam penyediaan telur yang berkualitas bagi masyarakat. Atas dasar hal tersebut, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) dan Hy-Line International menyelenggarakan seminar untuk mengedukasi para peternak. Melalui seminar bertemakan CPI Layer Seminar 2023, “Hy-Line Brown Max Advantages Worldwide” menjadi bagian dari rangkaian roadshow PT CPIN dan Hy-Line dalam memperkenalkan strain baru, kegiatan ini diselenggarakan di Bali, Jakarta, Lampung, Makassar, Medan, Semarang dan Surabaya, (9-19/1).
Eric C Handoko selaku Regional Head PT CPIN Jawa Barat dan Banten mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan kesempatan untuk berdiskusi sekaligus memperkenalkan salah satu lini produk baru dari kerjasama antara PT CPIN dan Hy-Line International yaitu HyLine Brown Max. “Saya berharap semoga dalam seminar ini para pembicara, tamu undangan, dan peserta seminar bisa melakukan diskusi yang mendalam tentang teknik pemeliharaan strain baru yaitu HyLine Brown Max dan memberikan manfaat bagi para peserta yang telah memelihara strain Hy-Line ini maupun bagi pelanggan kami yang baru akan mencoba,”papar Eric di Hotel Mercure Alam Sutera, Rabu, (18/1).
Memasuki sesi pemaparan materi, Thomas M Dixon selaku Hy-Line International Global Product Manager membuka sesi pertama presentasi dengan pembahasan mengenai potensi komoditas telur secara global. Menurutnya telur memiliki kandungan gizi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh, sehingga kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi telur setiap hari perlu digugah. Kandungan protein di dalam telur merupakan kandungan yang terbaik, menurut Thomas, telur mengandung zat kolin sebagai nutrisi untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan manusia. “Berbicara tentang telur maka kita berbicara tentang superfood. Telur juga sangat baik untuk semua kalangan, baik untuk anak kecil hingga lansia,” ucap Thomas.
Oleh sebab itu, Thomas menilai bahwa prospek masa depan bisnis telur masih memiliki potensi untuk dikembangkan. Dengan produksi telur sekitar 250 juta butir per tahunnya menjadikan posisi Indonesia sangat krusial karena menjadi 5 besar produsen telur secara global. “Indonesia masih memiliki ruang untuk berkembang jika dilihat dari konsumsi per kapita yang masih rendah, mengingat telur digemari oleh semua lapisan masyarakat,” papar Thomas.
Produksi tinggi dan optimal dengan Hy-Line Brown Max
Untuk mendukung penyediaan telur untuk konsumsi masyarakat, maka dibutuhkan dukungan dari ternak yang mampu memberikan produksi telur tinggi, namun tetap menguntungkan bagi masyarakat. Maka untuk menjawab tantangan tersebut Hy-Line International telah menyiapkan strain ayam ras petelur yang tangguh dan mampu berproduksi secara efisien melalui Hy-Line Brown Max, sehingga dapat mendatangkan keuntungan yang optimal bagi para peternak.
Menurut Thomas, Hy-Line Brown Max merupakan strain ayam petelur yang sangat efisien karena didukung oleh seleksi genetik secara terus menerus dan dilakukan oleh para ahli genetik dari Hy-Line International. Dalam 3 tahun terakhir tim ahli genetik dari Hy-Line membuat perubahan yang penting dan signifikan untuk meningkatkan efisiensi dalam melakukan seleksi genetik.
“Hy-Line memiliki 3 research farm yang mampu meningkatkan intensitas seleksi genetik, kami menargetkan 3-5% ayam yang terbaik dari yang terbaik. Para ahli genetik terus melakukan research di laboratorium untuk mendapatkan ayam terbaik,” papar Thomas.
Masih menurut Thomas, strain Hy-Line Brown Max diklaim memiliki toleransi yang tinggi terhadap kondisi lapangan, bahkan jika kondisi lapangan terebut kurang ideal untuk pemeliharaan ayam ras petelur. Strain ini diklaim memiliki tingkat toleransi tinggi terhadap stres, dan cekaman panas. “Selain itu strain kami juga memiliki persentase yang tinggi untuk masa produksi telur. Untuk urusan kerabang, kami menjamin telur yang dihasilkan cukup resisten terhadap benturan untuk ayam yang telah berproduksi setelah umur 50 minggu, dan memiliki warna kerabang yang lebih gelap terutama di umur awal produksi,” jelas Thomas.
Tak hanya itu, keunggulan lain dari Hy-Line Brown Max menurut Thomas adalah mampu memproduksi telur dengan bobot 1,5 gram lebih berat dari sebelumnya pada umur 40 minggu untuk urusan feed intake, strain ini mampu mengonsumsi 2 gram pakan per hari lebih banyak, dan memberikan bobot afkir sebesar 50 gram lebih berat, sehingga cocok untuk mengisi ceruk pasar layer afkir di Indonesia.
Rambu – rambu dalam pemeliharaan ayam ras petelur
Dalam memelihara ayam ras petelur, para peternak perlu memahami pemeliharaan ayam untuk memunculkan potensi genetik terbaiknya. I Made Dewa Santana selaku Hy-Line South East Asian Technical Service Manager menyatakan bahwa peternak perlu memerhatikan beberapa rambu – rambu pemeliharaannya. “Di tiap – tiap umur pertumbuhan ayam ras memiliki peran dan fungsi khusus yang berbeda, sehingga yang perlu diperhatikan oleh para peternak jangan hanya berfokus pada pertambahan berat badan akan tetapi harus juga memerhatikan seluruh kesatuan sistem pada ayam tersebut,” ujar Santana.
Tubuh ayam menurut Santana, merupakan sebuah kesatuan sistem yang sangat kompleks, dimana perkembangan saluran pencernaan dan organ imunitas terbentuk pada umur enam minggu. “Bisa dikatakan pada fase brooding merupakan fase untuk perkembangan saluran pencernaan dan sistem imun, tetapi ketika pertumbuhan dalam periode tersebut tidak optimal, maka potensi ternak untuk mengalami gangguan kesehatan akan meningkat,” ungkap Santana.
Selanjutnya pada periode pemeliharaan 6 – 16 minggu menurut Santana, sedang terjadi proses pembentukan frame atau jika dianalogikan seperti sebuah pabrik, maka periode tersebut merupakan periode pembentukan besar atau kecilnya sebuah kapasitas produksi pada sebuah pabrik. “Jika pada periode tersebut tidak mencapai target yang sudah ditentukan, maka otomatis frame yang dimiliki oleh ayam tersebut tidak akan optimal, otomatis produksi telur nantinya tidak akan sebesar ayam dengan frame yang sesuai dengan target yang ditentukan. Akan sangat terlihat nantinya di umur 16 sampai dengan masa produksi ketika ayam tersebut tidak mencapai target dari periode 0-16 minggu,” pungkas Santana.
Tantangan nutrisi ayam ras petelur
Pembicara selanjutnya dalam seminar tersebut yaitu Hani Wijaya selaku nutrisionis dari PT CPIN yang membahas tentang tantangan yang dihadapi saat ini oleh nutrisionis untuk memenuhi kebutuhan ayam ras petelur. Menurutnya tantangan yang mesti diatasi oleh para nutrisionis adalah aspek ketersediaan bahan baku, kecernaan dari pakan itu sendiri, kesesuaian nutrisi dan menekan kehilangan nutrisi, serta meningkatkan efisiensi. “Jadi untuk mengoptimalkan keempat komponen tersebut, maka kami mempersiapkan nutrisi yang ada di dalam pakan dengan menghitung ulang kebutuhan nutrisi dari strain Hy-Line Brown Max supaya bisa berproduksi dengan optimal,” papar Hani.
Untuk mendukung periode awal dari masa pemeliharaan menurut Hani kandungan nutrisi yang sangat dibutuhkan adalah energi, begitu pula ketika memasuki fase produksi yang mana banyak sekali membutuhkan kalsium. “Inilah yang kami lakukan dimana kami menghitung ulang nilai kecernaan dari pakan tersebut, dimana setiap kandungan nutrisi akan dievaluasi secara terus menerus menyesuaikan dengan kebutuhan dari layer yang dipelihara,” ungkap Hani.
Untuk tantangan dari kecernaan sebuah pakan menurut Hani ada dua upaya yang dilakukan oleh tim formulator pakan. Aspek pertama yang menjadi pertimbangan adalah bagaimana ukuran partikel dari pakan yang digunakan untuk memaksimalkan kecernaan pakan. “Selain proses pelleting kami juga memiliki beberapa perlakuan khusus terhadap pakan supaya bisa tercerna dengan maksimal, juga memberi perhatian khusus untuk bahan pakan yang berpotensi menimbulkan kendala pada proses pelleting seperti bahan pakan yang tinggi akan kandungan minyak untuk meningkatkan kecernaan,” papar Hani. Adv