Provinsi Sulawesi Selatan memiliki potensi yang sangat besar dalam sektor peternakan. Sektor tersebut menjadi sektor unggulan di wilayah ini karena banyaknya jumlah ternak. Salah satu wilayah yang dikenal sebagai sentra peternakan penghasil telur yakni di Kabupaten Sidenreng Rappang atau lebih dikenal dengan sebutan Kabupaten Sidrap.
Lebih dari dua puluh tahun membantu orang tua mengelola peternakan layer, membuat H. Pathuddin, S.T. berkeyakinan untuk mengelola peternakan layer miliknya sendiri pada tahun 2003, dengan nama Mitra Bina Mandiri KK. Bermula dari hanya memelihara sebanyak
300 ekor saja, peternak dari Desa Bulo, Kecamatan Panca Rijang,saat ini telah memiliki ratusan ribu ekor pullet dan layer.
Ia menceritakan pengalamannya dalam memelihara ayam layer. Dahulu, saat musim penghujan tiba, di peternakannya sering muncul gejala Newcastle Disease (ND). Hal tersebut menurutnya bisa terjadi ketika biosekuriti di peternakannya kurang ketat, sehingga penyakit muncul karena terpapar dari peternakan lain yang ada di sekitarnya. Berdasarkan pengalaman itu, ia menyadari
perlunya tindakan pencegahan agar kesehatan ternaknya lebih terjaga.
“Dalam beberapa tahun terakhir ini sudah jarang muncul penyakit ND di peternakan kami. Lebih baik kita melakukan pencegahan dengan melakukan vaksinasi terlebih dahulu daripada nantinya mengalami kerugian yang lebih besar lagi,” tutur H. Pathuddin yang saat ini aktif sebagai Anggota DPRD Kabupaten Sidrap.
Meskipun penuh kesibukan menjadi politisi, H. Pathuddin tetap menjalankan peternakannya karena dunia peternakan yang membawanya menjadi sukses seperti sekarang. Dalam menjalankan usaha peternakan ayam petelur tersebut, ia mengaku sudah sejak puluhan tahun silam menggunakan produk Medion.
“Kami tidak khawatir dengan manajemen kesehatan ternak di sini karena kami sangat terbantu dengan adanya personil Medion yang terus memantau dan memberikan informasi terbaru dalam
mencegah munculnya penyakit,” ujarnya.
Waspada munculnya ND
Wilayah Kabupaten Sidrap memiliki tingkat kerawanan munculnya penyakit ND yang tinggi karena peternakan di sana masih banyak yang menggunakan kandang tradisional dalam pemeliharaannya. Maka, butuh kewaspadaan dalam mencegah munculnya penyakit masuk ke kandang.
H. Pathuddin berujar bahwa di daerahnya masih banyak peternakan yang tidak menerapkan biosekuriti yang ketat dan tidak melakukan tindakan pencegahan sehingga penyakit mudah
masuk ke peternakan. Akibatnya, banyak peternak di daerahnya yang gulung tikar.
Berdasarkan pengalamannya dalam beternak, jika muncul tanda-tanda klinis seperti berkurangnya nafsu makan, produksi telur menurun, warna kotoran yang berubah dan munculnya leher terpuntir, ia sudah dapat menduga bahwa peternakannya terserang penyakit ND. Oleh karena itu, untuk mengatasinya, ia cepat berkonsultasi dengan personil Medion karena penyebaran penyakit ND terbilang cepat dan mematikan jika terlambat
ditangani. “Biasanya langsung dilakukan pengambilan sampel untuk dilakukan PCR ataupun sequencing agar penanganannya lebih tepat. Kami pun direkomendasikan menggunakan Medivac ND T Emulsion untuk pencegahan ND,” tambahnya.
Medivac ND T Emulsion merupakan vaksin inaktif berbentuk emulsi mengandung virus ND genotipe II dan 2 isolat lapang terkini yang termasuk dalam genotipe VII untuk mencegah ND pada unggas. H. Pathuddin mengaku rutin menggunakan Medivac ND T Emulsion dan produk-produk Medion lainnya selama pemeliharaan. Hal tersebut dilakukan agar peternakannya
tetap terkendali dan terus berproduksi dengan optimal.
“Saat ini kami sangat ketat dalam manajemen kesehatan untuk mencegah penyakit masuk ke kandang karena kondisi lingkungan yang sedang tidak menentu. Kami mengunakan Medivac ND T Emulsion sesuai dengan anjuran,” terangnya. H. Pathuddin memberikan kepercayaan sepenuhnya terhadap Medion untuk obat-obatan dan vaksinasi di peternakannya. Menurutnya, produk lokal keluaran Medion sudah terbukti memberikan hasil yang sesuai dengan kebutuhan di peternakannya. Selain itu harga produknya juga terjangkau dan mudah didapatkan. Adv