Hens in factory, Chicken in cages
Oleh : Ahmad Safik, A.Md*
“Jas Merah” atau “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”, merupakan kutipan pidato dari Ir. Soekarno yang masih sangat relevan hingga saat ini. Pidato ini mengingatkan kita untuk tidak melupakan sejarah. Pencapaian di masa lampau adalah awal dari pencapaian di masa sekarang dan bekal di masa depan. Pemahaman sejarah yang benar juga sangat penting dalam dunia perunggasan di Jepang. Dalam hal ini penulis ingin mengulas terkait perjalanan sektor perunggasan di Jepang yang bersumber dari sebuah karya ilmiah berjudul ‘’ Historical Overview of Poultry in Japan” karya Atsushi Tajima.
Dalam tulisannya Tajima melihat bahwa kuatnya permintaan masyarakat akan produk unggas dengan standar kualitas yang tinggi setelah Perang Dunia II (PD II), membuat sektor perunggasan di Jepang mulai berbenah. Hal ini memantik perunggasan Jepang mengalami periode ekspansi yang cepat setelah PD II. Melalui pengenalan sistem manajemen unggas dari Eropa yang sistematis membuat perunggasan di Jepang dalam beberapa dekade berkembang menjadi sektor produksi pertanian utama yang secara efisien dan ekonomis memasok daging dan telur yang aman dan higienis untuk masyarakat.
Namun demikian, perlu diingat bahwa perkembangan industri unggas Jepang pascaperang dibangun di atas kajian akademis dan penelitian yang solid serta membutuhkan waktu beberapa dekade sebelum perang. Di sisi lain, sejak lama unggas memiliki peran budaya yang istimewa dalam masyarakat Jepang, sehingga juga menjadi faktor pendukung tersendiri perkembangan perunggasan di Jepang.
Seperti yang ditunjukkan pada Grafik 1, jumlah peternakan ayam petelur di Jepang meningkat tajam setelah PD II hingga mencapai puncaknya pada tahun 1955 (sekitar 4,5 juta peternakan) dan menurun dengan cepat setelahnya. Jumlah populasi ayam petelur pada awalnya meningkat secara paralel dengan peningkatan jumlah peternakan ayam petelur. Hal ini terus meningkat hingga awal tahun 1990, dan kemudian mengalami penurunan. Menurut data Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries Japan (MAFF), terdapat 1.810 peternakan ayam petelur dengan total populasi sekitar 137 juta ekor ayam petelur telah dipelihara di Jepang pada tahun 2022.
Grafik 1. Produksi telur ayam di Jepang
Masih dari sumber yang sama, 10 prefektur teratas untuk populasi ayam petelur di Jepang adalah Ibaraki (15.388.000), Chiba (12.886.000), Kagoshima (11.944.000), Hiroshima (9.982.000), Aichi (9.817.000), Okayama (9.323.000), Gumma (9.261.000), Niigata (6.952.000), Aomori (6.497.000), dan Hokkaido (6.466.000). Jumlah total ayam petelur yang dipelihara di sepuluh prefektur teratas ini adalah 98.416 × 103 ekor, atau sekitar 53,9% dari total jumlah ayam petelur di Jepang. Di antara 1.810 peternakan ayam petelur di Jepang, 334 peternakan ayam petelur (18,6%) memelihara lebih dari 100 × 103 ekor ayam petelur (MAFF 2022a). Di sisi lain, apabila melihat dari sisi konsumen, telur menjadi salah satu pangan yang popular dan disukai oleh masyarakat Jepang. Berdasarkan data dari International Egg Commission, 2022, jumlah telur yang dikonsumsi di Jepang adalah 337 butir telur/kapita/tahun pada tahun 2021. Yang mana merupakan tertinggi ke-2 setelah Meksiko, yang mengonsumsi 409 telur/kapita/tahun.
Sementara itu, seperti yang ditunjukkan pada Grafik 2, pasokan daging dari tiga sektor peternakan utama di Jepang sangat terbatas sebelum PD II. Ekspansi produksi daging pascaperang dimulai dari sektor daging babi dan diikuti oleh sektor ayam pedaging.  Sedangkan ekspansi sektor daging sapi dimulai sejak tahun 1960-an dan laju peningkatannya lebih lambat dibandingkan dengan sektor daging babi dan ayam pedaging. Perlu dicatat bahwa pada awal tahun 1980-an, produksi daging ayam telah melampaui produksi daging babi. Berdasarkan data MAFF 2022, produksi tahunan daging ayam, babi, dan sapi di Jepang pada tahun 2021 masing-masing adalah 2.216 × 103, 1.318 × 103, dan 477 × 103 ton per tahun.
Grafik 2. Produksi daging di Jepang
Mengutip data MAFF 2022, lima prefektur teratas untuk populasi ayam pedaging di Jepang  adalah Kagoshima (28.090.000), Miyazaki (27.599.000), Iwate (21.095.000), Aomori (8.058.000), dan Hokkaido (5.180.000). Jumlah total populasi broiler di lima prefektur ini adalah 90.022 × 103, yang menyumbang 65,8% dari seluruh populasi broiler di Jepang. Di antara 2.100 peternakan broiler di Jepang, 683 peternakan (32,5%) memelihara lebih dari 300 × 103 ekor broiler.
Peran penting penelitian dan Pendidikan
Tidak diragukan lagi bahwa berbagai hasil penelitian dalam ilmu unggas berkontribusi secara signifikan terhadap industri unggas Jepang yang berkembang pesat saat ini. Pada medio awal perkembangan perunggasan Jepang, sexing anak ayam yang baru lahir menjadi salah satu masalah serius, terutama dalam industri ayam petelur. Menjawab hal tersebut, pada tanggal 1 April 1925 Drs. Kiyoshi Masui, Shigeo Hashimoto, dan Isamu Ono memperkenalkan teknik sexing anak ayam baru lahir, yang disebut “vent sexing” dalam pertemuan perdana Asosiasi Ilmuwan Peternakan Jepang yang diadakan di Tokyo. Dimana para penulis mengamati bahwa anak ayam jantan memiliki sedikit benjolan pada ventilasi dan lubang di bawah ekor, yang tidak ada pada anak ayam betina (Masui et al., 1925). Kemudian pada tahun 1929, asosiasi sexing anak ayam pertama didirikan di Prefektur Aichi, yang kemudian berkembang menjadi “National Association of Chick Sexers”. Sejak saat itu, para ahli sexing anak ayam Jepang dikirim ke seluruh dunia untuk belajar, dan selanjutnya bertugas untuk  membantu serta melatih para sexer anak ayam yang baru.
Sementara itu, buku perunggasan pertama yang komprehensif diterbitkan pada tahun 1902 (Tsukita, 1902). Buku ini terdiri dari 16 bab yang mencakup hampir semua bidang utama ilmu unggas, termasuk sejarah, komposisi telur, penetasan, manajemen anak ayam, fisiologi, nutrisi, kandang unggas, manajemen ayam petelur, genetika dan pemuliaan, ras ayam, evaluasi, patologi, dan pembedahan. Selanjutnya pada tahun 1921, 13 volume buku teks yang disebut sebagai “Poultry Science Lecture Series” yang berisi tentang manajemen unggas praktis diterbitkan. Hal ini  berkontribusi besar pada standarisasi dan peningkatan industri perunggasan di Jepang.
Pada fase selanjutnya, penelitian perunggasan di Jepang diarahkan pada keberadaan ayam ras asli Jepang. Banyak ras ayam asli yang ditemukan di seluruh Jepang, di antaranya 17 yang ditetapkan sebagai “Natural Monuments of Japan” oleh pemerintah Jepang . Sebagian besar ras ini kemungkinan besar dibawa ke Jepang beberapa ratus atau lebih dari seribu tahun yang lalu dari berbagai tempat di Benua Eurasia. Sejak saat itu, fenotipe dan karakteristik genetik lainnya dipilih untuk berbagai tujuan, seperti pajangan, pencatat waktu, petarung, dan produksi daging.
The National Agriculture and Food Research Organization, Japan (NARO) membuat proyek GeneBank untuk menyimpan berbagai sumber daya genetik pertanian, termasuk unggas. Per 1 Desember 2022, 65 galur ayam telah terdaftar di GeneBank, di antaranya berupa semen beku dan PGCs beku masing-masing disimpan dalam 44 galur dan 1 galur. Selain itu, National Livestock Breeding Center, Jepang (NLBC) memelihara dan meningkatkan stok peternak untuk mempromosikan pengembangan galur komersial asli Jepang. Dimana Stasiun NLBC Hyogo bertanggung jawab atas ayam tipe daging, sedangkan Stasiun NLBC Okazaki bertanggung jawab atas ayam petelur.
Kemudian, dalam banyak kasus, fasilitas percobaan unggas milik pemerintah daerah merupakan bagian dari prefectural agricultural experiment stations (PAES). Di fasilitas percobaan unggas ini, berbagai macam teknologi manajemen untuk ayam petelur dan/atau ayam pedaging terus diuji, dimodifikasi, dan disebarluaskan ke peternakan unggas lokal melalui sistem penyuluhan PAES. Selain itu, 17 jenis ayam asli Jepang tersebut, juga dipelihara di fasilitas percobaan unggas prefektur untuk keperluan industri dan tujuan manajemen risiko. Banyak merek unggas lokal telah dibuat dengan memperkenalkan karakteristik genetik ayam asli ini ke dalam produk komersial.
Tak cukup sampai disini, kemajuan perunggasan Jepang juga didorong oleh berbagai temuan di dunia pendidikan. Seperti hal nya di Universitas Nagoya yang mempunyai Avian Bioscience Center (ABRC). ABRC didirikan pada tahun 2007 dan diadopsi ke dalam program peningkatan fasilitas inti dari National BioResource Project pada tahun 2012. Pusat pengembangan ini melakukan pengumpulan, pengawetan, dan penyediaan sumber daya ayam dan burung puyuh. Selain itu juga ada Universitas Hiroshima dengan Japanese Chicken ResourceDevelopment and Research Center yang didirikan pada tahun 2010. Pusat pengembangan ini melakukan penelitian tentang pelestarian dan analisis genetik ayam asli Jepang (Nihonkei) untuk meningkatkan dan menstabilkan pasokan produk unggas yang berkualitas. *Alumni Akademi Peternakan Karanganyar (APEKA), tinggal di Kumamoto, Jepang
Artikel ini merupakan rubrik Internasional pada majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com