POULTRY INDONESIA, Surabaya – Outlook Bisnis Perunggasan Jawa Timur (Jatim) Tahun 2026 berlangsung meriah dan mendapat antusiasme tinggi dari pelaku industri. Menurut drh. Suyud, Ketua ASOHI Jawa Timur sekaligus Ketua Pelaksana acara, kegiatan ini dihadiri lebih dari 200 peserta yang berasal dari berbagai unsur, mulai dari pemerintah, akademisi, hingga praktisi perunggasan. Acara yang terselenggara atas kerja sama ASOHI, GPMT, GPPU, dan PINSAR Indonesia ini digelar di Hotel Mövenpick Surabaya City, Rabu (10/12).
Hampir seluruh narasumber sepakat bahwa prospek perunggasan pada tahun 2026 cenderung cerah. Banyak peluang yang terbuka ke depan, meskipun tetap diiringi tantangan yang tidak ringan. Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Dr. Ir. Indyah Aryani, MM, memaparkan bahwa neraca telur dan daging ayam nasional, baik untuk kebutuhan reguler maupun Program Makan Bergizi Gratis (MBG), berdasarkan data tahun 2025 masih berada dalam kondisi defisit. Total kebutuhan telur nasional tercatat sebesar 6.998.008 ton, sementara produksi baru mencapai 6.515.223 ton, sehingga masih defisit 482.785 ton. Adapun kebutuhan daging ayam mencapai 5.005.474 ton, dengan produksi sebesar 4.968.125 ton, atau defisit sekitar 37.349 ton.
“Khusus untuk Jawa Timur, proyeksi kebutuhan MBG tahun 2026 untuk daging ayam, dengan asumsi pemberian dua kali per minggu, mencapai 121.852 ton. Sementara kebutuhan telur, dengan asumsi pemberian tiga kali per minggu, diperkirakan mencapai 95.197 ton,” ungkap Indyah.
Ia juga mengungkap peluang lain dari penyelenggaraan ibadah haji. Terdapat rencana penyediaan makanan siap saji atau Ready to Eat (RTE) bagi jamaah haji Indonesia di Arab Saudi pada tahun 2026 sebanyak 1,3 juta porsi. Paket RTE tersebut terdiri atas nasi, lauk, dan air mineral dalam kemasan tertutup berbahan food grade, dengan ketentuan gramasi lauk 150 gram, seperti rendang daging, daging balado, semur ayam, kare ayam, dan daging lada hitam. Seluruh bahan baku diwajibkan berasal dari Indonesia. Untuk memenuhi kebutuhan ini, diperkirakan diperlukan daging sapi dan ayam sekitar 950 ton.
Ketua Umum GPMT, Dr. drh. Desianto Budi Utomo, M.Phil., PhD, menyampaikan bahwa industri pakan pada tahun 2025 diperkirakan tumbuh cukup signifikan, mencapai 6,7 persen. Pertumbuhan ini didorong oleh mulai berjalannya program MBG, terutama dalam penyerapan produksi telur, peningkatan masa pemeliharaan broiler, serta kenaikan populasi layer hingga sekitar 7 persen.
“Industri pakan menargetkan pertumbuhan produksi pakan tahun 2026 sebesar 6 persen, dengan mempertimbangkan kondisi DOC yang relatif tidak jauh berbeda dengan 2025, harga jagung sebagai bahan baku utama, serta pemulihan ekonomi dan daya beli masyarakat,” jelas Desianto.
Ia menekankan bahwa harga jagung dan bahan baku pakan lainnya sangat memengaruhi Harga Pokok Produksi (HPP) pakan. Oleh karena itu, pihaknya berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas produksi jagung dan bahan baku lokal lainnya agar industri pakan dan perunggasan nasional tetap tumbuh berkelanjutan.
Untuk Jawa Timur sendiri, kapasitas terpasang pabrik pakan mencapai sekitar 28 persen dari total kapasitas nasional, menjadikannya wilayah dengan kapasitas tertinggi dibandingkan daerah lain. Produksi pakan Jatim diperkirakan mencapai 5,5 juta ton pada tahun 2025, dari estimasi produksi pakan nasional sebesar 19,6 juta ton.
“Diperlukan dukungan regulasi dari pemerintah agar potensi ini terus meningkat, terutama terkait risiko masuknya impor CLQ dari Amerika Serikat, yang dapat melumpuhkan industri perunggasan nasional yang telah swasembada dan menyerap sekitar 10 persen tenaga kerja nasional,” tegasnya.
Ketua Umum GPPU, Ir. Achmad Dawami, memaparkan bahwa target pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5,4 persen, dengan jumlah penduduk sekitar 287,2 juta jiwa. Dengan kondisi tersebut, proyeksi konsumsi daging ayam per kapita diperkirakan mencapai 14–15 kg per tahun. Dawami menilai permintaan DOC akan terus tumbuh, dengan tren harga livebird yang sangat memengaruhi daya serap DOC. Peningkatan kesadaran gizi dan pertumbuhan populasi turut mendorong permintaan protein hewani.
“Tahun 2026 merupakan peluang untuk mengembangkan dan memasarkan DOC berkualitas premium dengan nilai tambah, sekaligus mengadopsi teknologi digital untuk optimasi manajemen Parent Stock (PS) dan Grand Parent Stock (GPS),” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Pinsar Jawa Timur, Hidayaturrahman, SE, menyatakan bahwa program MBG berpotensi meningkatkan permintaan ayam dan telur secara signifikan dan lebih stabil. Penyerapan MBG dinilai dapat menciptakan market guarantee, yakni adanya pembeli besar dan rutin yang mampu mengurangi gejolak harga.
“Program ini membuka peluang bagi peternak rakyat untuk menjadi pemasok melalui koperasi atau agregator, sekaligus mendorong perbaikan standar mutu dan biosekuriti di tingkat peternak kecil,” jelasnya.
Namun demikian, ia menegaskan tantangan tetap ada. Peternak rakyat wajib memenuhi standar MBG, mulai dari kualitas, higienitas, hingga traceability. Persaingan dengan peternakan besar masih berlangsung, sementara harga pakan tetap menjadi risiko utama. Meski demikian, MBG berpotensi menjadi stabilisator pasar unggas pada 2026 dan peluang besar bagi peternak rakyat yang mampu memenuhi standar.
Ketua Umum ASOHI, drh. Akhmad Harris Priyadi, menyampaikan bahwa pasar obat hewan pada tahun 2026 diperkirakan tumbuh sekitar 10 persen dibandingkan 2025. Ia memprediksi akan terjadi penyesuaian harga dan biaya vaksinasi untuk obat perunggasan yang diberikan melalui injeksi dan air minum. Penggunaan antibiotik selama periode pemeliharaan cenderung menurun, sementara vaksinasi di hatchery semakin masif. Sebaliknya, penggunaan obat melalui pakan diperkirakan meningkat seiring dengan kenaikan produksi pakan sekitar 6 persen.
Dari sisi kesehatan unggas, Guru Besar FKH UGM, Prof. Dr. drh. Michael Haryadi Wibowo, MP, menjelaskan bahwa sepanjang 2025 penyakit unggas didominasi oleh kasus multiinfeksi dan imunosupresi. Tantangan pada 2026 diperkirakan menjadikan multiinfeksi sebagai new normal, disertai perubahan tropisme penyakit dan tantangan manajemen yang semakin kompleks.
Ia menekankan perlunya strategi pencegahan yang komprehensif dan optimal, meliputi penerapan biosekuriti, manajemen kesehatan dan tata laksana yang baik, strategi vaksinasi unggas modern, manajemen nutrisi dan kesehatan saluran pencernaan (gut health), deteksi dini penyakit, serta penggunaan antibiotik yang tepat. Menurutnya, kolaborasi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci untuk mewujudkan kesehatan unggas yang berkelanjutan. Yafi