Hati merupakan pusat utama penyimpanan dan metabolisme Cu, sehingga perubahan histopatologi, metabolomik, dan ekspresi protein pada jaringan hati ayam menjadi indikator yang harus diperhatikan.
Tergolong dalam kelompok trace mineral atau mineral mikro, Cu (tembaga/copper) merupakan komponen esensial bagi organisme hidup, tidak terkecuali bagi ayam broiler. Perannya dalam menunjang pertumbuhan serta fungsinya di berbagai proses fisiologis, seperti hematopoiesis, pencernaan, pertumbuhan, reproduksi, serta sistem imun, menjadikannya krusial untuk ditambahkan pada ransum pakan.
Meski punya peran penting, jumlah tembaga yang berlebih ketika dikonsumsi dapat terakumulasi dalam jaringan tubuh dan menyebabkan disfungsi metabolik yang serius. Dalam hal ini, hati berperan sebagai organ utama penyimpanan dan pusat metabolisme Cu, sekaligus yang bertanggung jawab terhadap proses penyimpanan serta pengaturan fungsinya dalam tubuh.
Senjata Makan Tuan Jika Berlebihan
Mekanismenya dimulai dari Cu yang pertama kali memasuki hepatosit dan membentuk Cu-containing histidine trimethyl inner salt, yang kemudian ditransfer ke berbagai Cu-containing enzymes. Enzim ini selanjutnya berperan dalam proses biologis seperti respirasi mitokondria, pertahanan antioksidan, dan metabolisme zat besi.
Dalam penelitian sebelumnya, ditemukan bahwa dengan konsentrasi 30 mg/kg, Cu dalam pakan hewan dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan. Namun, dalam jumlah berlebih sekitar 150 mg/kg, Cu yang dikonsumsi menyebabkan beban di dalam hepatosit dan memicu kerusakan parsial organel sel, yang pada akhirnya berujung pada gangguan serta disfungsi metabolik.
Melalui riset terdahulu, diketahui pula bahwa pakan dengan kandungan Cu tinggi berpotensi memicu stres oksidatif yang berujung pada apoptosis pada jaringan hati unggas. Belum cukup, meningkatnya penggunaan pakan, pestisida, dan pupuk yang mengandung Cu dapat membuat sejumlah besar logam ini dilepaskan ke dalam lapisan tanah dan air. Dari serangkaian bioakumulasi di lingkungan tersebut, Cu bisa menjadi ancaman serius bagi kesehatan manusia dan hewan.
Untuk itu, dalam studi ini, penulis memilih mengevaluasi efek toksisitas Cu pada hati ayam broiler. Penelitian ini menggunakan 192 ekor ayam broiler berusia satu hari (DOC) yang dibagi ke dalam empat kelompok berdasarkan konsentrasi Cu dalam pakan, yaitu perlakuan kontrol dengan 11 mg/kg (unsur copper hanya berasal dari pakan dasar), lalu perlakuan dengan suplementasi Cu 110 mg/kg, 220 mg/kg, dan 330 mg/kg. Ayam dipelihara selama 7 minggu dengan prosedur standar dan dengan akses bebas terhadap pakan dan air. 
Analisa kemudian dilakukan pada minggu ke-1, 3, 5, dan 7 untuk mengamati histopatologi, ultrastructural, metabolomik, flow cytometry, imunohistokimia, imunofluoresensi, RT-qPCR, dan western blot analysis (membaca ekspresi protein yang berkaitan dengan jalur AMPK-mTOR dan proses autofagi). 
Di setiap waktu pengecekan, jaringan hati ayam diambil dari masing-masing kelompok perlakuan secara acak yang sebelumnya telah dibius dengan injeksi intravena sodium pentobarbital. Pengecekan bertahap ini digunakan untuk menggambarkan dinamika perubahan struktur sel, metabolisme, dan regulasi autofagi akibat paparan Cu berlebih seiring bertambahnya lama perlakuan.
Berbagai Perubahan
Secara keseluruhan, dosis tembaga dalam pakan yang semakin meningkat menunjukkan dampak yang semakin buruk terhadap perubahan struktur dan fungsi hati ayam broiler. Dari hasil pengamatan histopatologis, jaringan hati pada kelompok kontrol memiliki struktur hepatosit yang tersusun rapi dengan inti sel yang jelas dan sitoplasma homogen. Sebaliknya, pada kelompok yang menerima suplementasi Cu 110 mg/kg, 220 mg/kg, dan 330 mg/kg Cu, perubahan patologis mulai terlihat dan semakin konsisten seiring peningkatan dosis.
Kelompok dengan suplementasi 330 mg/kg menunjukkan pembengkakan hepatosit yang paling jelas, vakuolisasi sitoplasma luas, serta disorganisasi susunan sel hati, yang mengindikasikan adanya kerusakan jaringan serius. Perubahan morfologi ini mencerminkan respons sel hati terhadap akumulasi Cu yang melebihi kapasitas fisiologisnya.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Riset pada majalah Poultry Indonesia edisi Februari 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Februari 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.