Tommy Wattimena, siapa yang menyangka bahwasannya Direktur Utama PT Sierad Produce Tbk. ini dulunya pernah menjadi sosok yang biasa saja di lingkungannya. Memiliki nama belakang Wattimena banyak orang mengira bahwa ia adalah orang keturunan Ambon. Sedangkan faktanya, orang yang lahir di Kota Surabaya ini adalah orang keturunan Jawa dan Cina. 

Setiap orang yang sukses pasti mempunyai perjalanan hidup yang tidak biasa. Kesuksesan itu akan berpihak pada siapa saja yang memiliki tekad kuat dan usaha yang tidak biasa pula.

Kala itu Wattimena disematkan menjadi namanya karna Tommy kecil sangat dekat dengan tetangganya yang merupakan marga Wattimena asal Ambon. Ia yang sudah dianggap seperti anak sendiri oleh keluarga Wattimena ini, merupakan cerita awal mula nama Wattimena disematkan menjadi nama belakangnya.
Dari kecil hingga Sekolah Dasar (SD), Tommy menghabiskan waktunya di Kota Surabaya. Namun saat memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP), keluarganya pindah ke Jakarta. Tommy memilih untuk tidak melanjutkan sekolah di ibu kota, tetapi di Kota Malang dan tinggal bersama saudaranya.
“Waktu masih kecil, saya itu nakal. Waktu pindah ke Malang, saya dimasukkan ke asrama dengan harapan agar tidak nakal lagi. Ternyata sudah tinggal di asrama pun, saya masih nakal. Saya tidak pernah belajar dan selalu rangking paling bawah di sekolah, bahkan saya sempat dikeluarkan dari sekolah,” kenang Tommy sambil tertawa.
Memasuki kelas 2 SMA (Sekolah Menengah Atas), perubahan itu tiba-tiba datang pada dirinya. Pada titik itu ia merasa ia harus mengubah segalanya. Tommy senantiasa memikirkan bahwa akan sampai kapan dirinya selalu rangking paling bawah, sampai kapan tidak pernah belajar, dan sampai kapan dirinya menjadi orang bodoh.
Akhirnya Tommy yang duduk di kelas 2 SMA waktu itu seketika mengubah kebiasaannya. Ia menjadi sosok yang rajin belajar, bahkan kerap menghabiskan waktu belajar hingga jam 3 pagi. Tak ayal, semuanya membuahkan hasil, ia menjadi anak ranking satu di kelasnya, dan itu berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya. Hebatnya, Tommy bahkan lulus dengan nilai ujian akhir tertinggi nomor 3 se-Jawa Timur.
“Bayangkan orang yang selama ini selalu rangking paling bawah, pernah tidak naik kelas, pernah dikeluarkan dari sekolah, bisa rangking satu. Dari sini saya percaya bahwa transformasi itu ternyata bisa asal kita mau dan berani membayar harganya,” ucap pria yang memiliki keyakinan untuk menjadi sukses itu kuncinya “Be the Best” atau “Be Different” ini.
Baca Juga: Sierad Ubah Nama Menjadi Sreeya
Tommy percaya bahwa hidup itu harus ada motivasi dalam keadaan apapun. Motivasi inilah yang ia yakini bisa mengubah seseorang. Lulus SMA dengan nilai yang sangat bagus membuat ia mendapatkan beasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia dengan jurusan Sospol (Sosial Politik). Namun kala itu jurusan tersebut belum begitu menarik untuknya karena saat itu Tommy ingin melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Tommy akhirnya diterima di Swinburne University of Technology, Melbourne, Australia.
Tommy yang kala itu hidup dari keluarga yang pas-pasan, membuatnya harus membagi waktunya untuk belajar dan kerja paruh waktu di Negeri Kanguru tersebut. Tommy pernah menjadi OB (Office Boy), pelayan restoran, sampai menjadi asisten juru masak. Berdasarkan pengalamannya pernah bekerja dari bawah, proses tersebut akan menjadi suatu kebiasaan bagus ketika suatu saat seseorang menjadi besar. Menurutnya, seseorang yang pernah mengalami proses dari bawah akan mempunyai personalitas yang bagus, dan akan memunculkan sifat mudah bergaul (humble). Selain itu, ketika seseorang menjadi atasan nanti, ia akan menghargai orang-orang yang di bawahnya dan akan dengan mudah bisa berinteraksi dengan semua karyawan yang bekerja dengannya.
Eranya kolaborasi
Karier panjangnya di berbagai perusahaan ternama membawanya untuk berkarya di industri perunggasan. Sampai suatu ketika ia ditawari untuk memegang salah satu perusahaan perunggasan ternama yaitu Sierad Produce, di mana ia belum pernah berkecimpung pada industri ini sebelumnya. Awalnya Tommy sempat bertanya-tanya kenapa dirinya yang dipercaya untuk mengelola perusahaan perunggasan, ternyata Sierad percaya dengan pengalamannya di bidang digital dan consumer product. Sierad berharap bahwa Tommy akan mampu membawa perusahaan menjadi lebih baik.
Tommy melihat bahwa sektor unggas ini sangat besar potensinya, selain itu ia menyadari bahwa memang protein hewani yang paling demokratis adalah dari unggas. Tommy merasa unggas ini lebih terjangkau dibanding daging lainnya. Oleh karena itu, ia melihat di dalam industri perunggasan ini teknologi-teknologinya masih bisa dikembangkan sehingga ia percaya bisa membawa Sierad menjadi perusahaan yang berbeda dengan perusahaan lainnya.
Sudah dua tahun Tommy berkecimpung di industri perunggasan. Tommy melihat ada beberapa hal yang perlu diperbaiki, hal ini bukan karena negara Indonesia tidak mampu bersaing di internasional, tetapi karena masih banyak terdapat permasalahan di dalam negeri sendiri, seperti misalnya masalah kelebihan produksi yang tak kunjung selesai.
Dalam mengatasi semua permasalahan di industri perunggasan, Tommy berpendapat bahwa sudah saatnya industri perunggasan melakukan kolaborasi dengan sektor lain untuk melahirkan inovasi baru. Tommy berpesan agar jangan sampai pola bisnis di perunggasan ini merugikan peternak sebagai pihak produsen dan juga konsumen tentunya. Menurutnya, semua pihak perlu berpikir untuk bagaimana mampu berpikir global, tetapi bersikap dengan dengan tata cara lokal (think globaly, but act localy) agar pelaksanaanya lebih mudah. Oleh karena itu, perlu adanya kolaborasi yang baik antara tiga hal yakni pemerintah, pelaku industri dan peternak itu sendiri.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Agustus 2020 dengan judul “Tommy Wattimena, Dari Bukan Siapa-Siapa, Menjadi Orang yang Luar Biasa”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153