Pencegahan penyakit marek's harus multifaktor
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Penyakit Marek memang masih menjadi momok bagi peternakan unggas di Indonesia baik peternakan broiler, layer, dan breeding. Penyakit akibat virus yang satu ini nyatanya selalu ada dan tentu perlu diwaspadai dan dicegah keberadaannya.
Menanggapi hal tersebut, untuk membahasnya lebih mendalam, PT Zoetis Animal health Indonesia bersama PT Indovetraco Makmur Abadi (PT IMA) menggelar seminar daring bertemakan ‘Update Penyakit Marek’, Kamis (3/6).
drh. Tirtayana selaku Marketing Manager PT Indovetraco Makmur Abadi dalam sambutannya yang sekaligus membuka acara seminar tersebut mengatakan bahwa penyakit Marek memang sudah lama ada dan keberadaannya sampai saat ini pun masih meresahkan.
“Penyakit Marek ini memang sudah menjadi penyakit lama, yang mungkin saat ini sudah tergantikan dengan penyakit-pengakit baru. Namun nyatanya penyakit ini masih menggangu dan sangat penting untuk kita bahas bersama. Kami menghadirkan narasumber yang memang ahli di bidangnya, dengan seminar ini saya berharap kita bisa menambah ilmu dan update pengetahuan terbaru, yang nanti akan bermanfaat untuk industri perunggasan kita ke depan,” kata Tirtayana.
Baca Juga: Mewaspadai Serangan Penyakit Marek
Sementara itu menurut Tony Unandar selaku Private Poultry Farm Consultant yang merupakan narasumber dalam seminar itu mengungkapkan bahwa hari ini tidak ada satu negara pun yang tidak terkena penyakit Marek, karena memang virus penyebab penyakit yang satu ini bersembunyi di induk semang dan virus marek ini terus bermutasi setiap saat.
“Prevalensi kasus Marek di lapangan bersifat universal dan terus meningkat seiring dengan perbaikan genetika ayam modern, tekanan efisiensi pemeliharaan, serta mutasi virus lapangan. Oleh karenanya, keberhasilan pencegahan kasus Marek di lapangan harus bersifat multifaktor, tidak bisa kita hanya mengandalkan satu atau dua faktor saja,” ungkapnya.
Tony menambahkan bahwa dalam pengendaliannya, para peternak harus memerhatikan beberapa hal di antaranya program vaksinasi yang benar dan tepat, menajemen tata laksana pemeliharaan yang tidak boleh disepelekan seperti biosekuriti yang ketat, serta harus mempertimbangkan juga tantangan di lapangan.