Dengan berbagai dinamika yang ada, Thailand berhasil menjelma sebagai pemain utama industri ayam global, dengan pertumbuhan kuat di segmen ayam beku dan olahan.

Dalam lanskap pangan global yang terus berkembang, ayam telah menjelma menjadi salah satu sumber protein hewani paling digemari di dunia. Popularitas ini bukan tanpa alasan. Pasalnya, apabila dibandingkan dengan daging merah seperti sapi dan babi, ayam memiliki keunggulan berupa kandungan lemak yang rendah, tingkat efisiensi konversi pakan yang tinggi, serta masa pemeliharaan yang relatif singkat. Bagi konsumen, ayam menjadi pilihan utama karena terjangkau, sehat, dan fleksibel diolah menjadi beragam menu. Sementara bagi negara produsen, ayam menawarkan peluang ekonomi besar melalui ekspor. Thailand adalah salah satu negara yang berhasil memanfaatkan peluang tersebut.

Dalam Thailand Industry Outlook 2024–2026, Krungsri Research memaparkan bagaimana industri ayam di Thailand terus bertumbuh meski menghadapi tantangan global. Fokus utamanya adalah pada segmen ayam beku, ayam olahan, dan ayam dingin. Di mana ketiga kategori ini menjadi penopang dominasi ekspor ayam Thailand ke pasar internasional.

Gambaran Industri Ayam Thailand
Pada tahun 2022, produksi ayam broiler di Thailand mencapai 1,93 miliar ekor. Setahun kemudian, angkanya meningkat tipis menjadi 1,95 miliar ekor. Produksi daging ayam pun naik menjadi 3,15 juta ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 67,5% diserap pasar domestik, terutama sebagai fillet segar. Sedangkan sisanya diekspor dalam bentuk ayam olahan dan beku.

Kemudian, apabila dilihat dari sumbernya, 90% ayam di Thailand diproduksi oleh perusahaan besar yang memiliki sistem peternakan terintegrasi, mulai dari produksi pakan, pembibitan, budi daya ayam baik bentuk internal farm maupun sistem kemitraan, hingga rumah potong dan pabrik olahan dengan standar tinggi. Hal ini memberi keunggulan efisiensi dan skala ekonomi. Sedangkan peternakan kecil menyumbang 10% produksi, yang sebagian besar ditujukan untuk pasar lokal.

Dari sisi lain, secara geografis produksi ayam Thailand terkonsentrasi di wilayah tengah, yang menyumbang 72,1% produksi nasional. Di mana Provinsi Lopburi menjadi sentra utama, diikuti oleh Kanchanaburi, Chonburi, dan Prachinburi. Keunggulan lokasi ini didukung oleh infrastruktur pertanian, tenaga kerja terampil, serta adopsi teknologi peternakan modern.

Kendati industri ayam Thailand sangat dominan, namun dalam perjalanannya tidak selalu berada dalam jalur yang mulus. Wabah flu burung yang merebak pada tahun 2004 menjadi momen kritis dalam sejarah perunggasan negara tersebut. Saat itu, pasar ekspor utama seperti Jepang, Jerman, Korea Selatan, dan Tiongkok menolak impor ayam mentah dari Thailand karena kekhawatiran akan keamanan pangan. Keputusan ini berdampak besar pada ekspor ayam Thailand yang sebelumnya sangat bergantung pada produk mentah.

Namun, alih-alih terpuruk, pelaku industri ayam di Thailand justru melakukan langkah adaptif yang berani dan terarah. Industri segera mengalihkan fokus ke produk ayam olahan, jenis produk yang melalui proses pemasakan atau pengolahan sebelum diekspor, sehingga dianggap lebih aman oleh pasar internasional. Langkah ini terbukti jitu. Dalam waktu kurang dari dua dekade, produk ayam olahan menjelma menjadi andalan ekspor Thailand. Hingga 2022, ayam olahan menyumbang 64,5% dari total ekspor ayam negara tersebut, dengan pangsa pasar global mencapai 26,9%.

Kebangkitan lain terjadi pada segmen ayam beku. Di mana setelah 2011, ketika wabah flu burung mulai mereda dan Thailand mulai menerapkan teknologi peternakan modern seperti sistem pendingin evaporative (EVAP) dan sistem kompartemen dari Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE). Dua inovasi ini membantu meningkatkan biosekuriti dan mencegah penyebaran penyakit. Terbukti, tidak ada kasus flu burung yang dilaporkan di Thailand sejak 2007. Kepercayaan pasar global mulai tumbuh kembali, terutama dari Uni Eropa yang kembali membuka pintunya sejak 2012 dan Jepang yang menyusul pada 2014 berkat kesepakatan Japan–Thailand Economic Partnership Agreement (JTEPA).

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Internasional pada majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Agustus 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com