Webinar yang diselenggarakan oleh Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri Indonesia tentang perunggasan
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Ada perubahan di dua tahun terakhir,sejalan dengan adanya covid 19. Termasuk pula perubahan pada sektor agribisnis,mulai dari proses produksi, pengolahan hingga pemasaran seperti yang dikatakan oleh Rachmat Pambudy, Ketua Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri Indonesia (MIA) pada Jum’at ( 3/12).
Menurutnya, perubahan itu bisa juga dilihat dari adanya gejolak harga,dimana gejolak harga yang terlihat adalah semakin lama semakin tinggi, “Sepertinya harga tidak akan bisa turun lagi,memang ada kecenderungan naik turun pada telur dan daging ayam. Namun ,kalau ditarik secara keseluruhan maka akan terlihat harganya akan naik terus,” tegasnya dalam acara seminar secara virtual via Zoom Meeting yang diadakan oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), dengan tema ‘Sistem Agribisnis 4.0 : Arus Baru Optimalisasi Teknologi Digital Pertanian dan Peternakan di Era Millenial’.
Baca Juga : Investasi Peternakan Untuk Dukung Kedaulatan Protein Hewani
Saat ini lanjut Rachmat, memang harga daging dan telur ayam jatuh. Namun Ia menggarisbawahi bahwa kejatuhan harga itu, cepat atau lambat akan kembali. “Pernahkah kita sadar bahwa yang jatuh itu harga di tingkat peternak saja, tidak pada sektor hilirnya,” kata Rachmat.
Ia mengungkapkan bahwa era tahun ini adalah era yang unik, berbeda pada tahun-tahun sebelumnya, dimana pada tahun-tahun sebelumnya dunia persaingan itu sangat mudah ditaklukkan, namun anehnya yang mempunyai usaha maju sedikit.
“Dulu harga ayam broiler Rp 600 per ekor, biaya produksi Rp 500 per ekor untung Rp 100 per ekor, dulu peternak dibatasi maksimal hanya  5000 ekor, berarti satu siklus hanya untung Rp 500.000. Tetapi uang sebesar itu di tahun 80-an sama dengan harga sepeda motor Yamaha,” terangnya.